Sergei Lavrov, lihai mainkan peran di tengah kisruh Suriah

Layak mendapatkan Nobel Perdamaian

Menlu Rusia Sergei Lavrov

MOSKOW (WIN): Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov belakangan ini sangat menonjol perannya sebagai seorang diplomat ulung yang mampu secara cerdas meredam kemungkinan terjadinya perang skala besar di Suriah.

Peran besar itu dilakukan setelah proposal usulan Sergei Lavrov yang meminta Suriah untuk mau menyerahkan kontrol senjata kimia yang dimilikinya kepada intitusi internasional independen ternyata mampu meluluhkan hati pimpinan Suriah yaitu Presiden Bashar Al Assad untuk menyetujui usulan itu. Dengan disetujui-nya usulan itulah yang akhirnya membuat Presiden AS Barack Obama-yang sejak awal ngotot dan bernafsu menyerang Suriah-terpaksa mengurungkan niatnya, termasuk menunda Senat AS agar tidak melakukan voting pengambilan keputusan terkait rencana aksi militer terbatas terhadap Suriah.

Langkah Obama itu diambil mengingat AS mengetahui tidak ada lagi alasan mendasar menyerang Suriah terkait dugaan penggunaan senjata kimia pada 21 Agustus 2013 yang oleh sejumlah pihak telah menyebabkan meninggalnya 1.000 lebih warga. AS secara terang-terangan menuduh Pemerintah Suriah yang menggunakan senjata pembunuh massal itu, meski rezim Al Assad menolak tegas dan malah menuduh kaum pemberontak dukungan Negara-negara barat yang menggunakan senjata kimia.

Bahkan bila langkah penghentian aksi militer itu tidak dilakukan AS, diyakini sejumlah pihak bahwa AS akan mengalami 'malu' dalam dunia diplomasi untuk kedua kalinya, dimana 'malu' pertama terkait serangan 'berbekal data palsu' untuk menggulingkan rezim Iraq pimpinan Sadam Husein. Kejadian serupa itu bisa saja terjadi, mengingat informasi terbaru dari dua orang wartawan Perancis yang sempat ditahan kaum pemberontak menunjukkan bahwa Rezim Bashar Al Assad sama sekali tidak ada hubungannya dengan serangan senjata kimia 21 Agustus 2013. Bisa saja penggunanya 'kemungkinan' adalah kaum pemberontak, sesuai tudahan yang dilontarkan Bashir Al As'ad sejak awal.

Bagiamanapun sosok Sergie Lavrov dinilai sebagai kunci keberhasilan menghentikan rencana aksi militer AS yang didukung sejumlah Negara Barat atas Suriah yang ditenggarai oleh para pengamat Hubungan Internasional akan memicu konflik regional secara meluas mengingat hubungan Suriah dengan kelompok garis keras bersenjata di timur tengah relatif sangat erat. 

Profil dan figure Sergei Lavrov menjadi vital perannya belakangan, khususnya dalam menopang kebijakan luar negeri Presiden Rusia Vladimir Putin. Bagimanapun, sosok Lavrov telah dikenal sebagai seorang diplomat ulung yang dihormati sekalipun oleh musuh-musuh Rusia.  Dia bahkan menjadi pemerkuat laten kebijakan luar negeri Vladimir Putin.

Siapa sangka bila peran dan rekam jejak Lavrov telah menyetir diplomasi Rusia selama hampir satu dekade mengepalai kementerian luar negeri Rusia dan mencerminkan posisi Rusia yang kadang menolak keumuman serta melambangkan kekuatan geopolitik Rusia pada Dewan Keamanan PBB.

Diplomat berpengalaman yang masih energik berusia 63 tahun ini kembali menjadi pusat perhatian manakala hari ini (Kamis, 12/9/13) bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry di Jenewa untuk mendiskusikan rencana Rusia mengenai penyerahan senjata kimia rezim Suriah dan memupuskan ancaman serangan militer.

Lavrov dikenal sebagai seorang pria yang jarang sekali mengungkapkan kehidupan pribadinya atau menyisipkan pendapat pribadinya dalam kebijakan-kebijakan kontroversial. Secara personality of politic atau sikap dan tingkah laku berpolitik, Lavrov memiliki kebiasaan yang kerap digambarkan menyondongkan badannya ke atas meja, melipat kedua tangannya, dan terlihat mengerutkan dahi di balik kacamatanya.

Ekspresinya yang kadang mengancam, berbarengan dengan kebijakan Rusia di Suriah pada tahun lalu, telah membuatnya dijuluki sebagai "Mr Nyet" atau Mister Tidak, yang mirip dengan pendahulunya pada era Perang Dingin di zaman Uni Soviet, Andrei Gromyko.

"Lavrov adalah seorang diplomat yang sangat klasik dari abad 20," kata Sergei Karaganov, mantan kepala dewan kebijakan luar negeri Rusia. "Dia memahami dunia modern, namun dia memainkan aturan-aturan lama diplomasi," kata dia.

"Lavrov memperkuat posisi Rusia secara diplomatik, mengingat secara ekonomi dan militer mereka sungguh berada di belakang Cina dan Amerika Serikat. Kerjanya menutup ketimpangan itu," kata dia.

Seorang sumber diplomatik Barat bahkan menyebut sang menteri sebagai si kasar yang sangat profesional dan tangguh. "Dia adalah salah seorang profesional terbaik yang dihasilkan diplomasi Rusia. Dia memahami semua mekanisme, prosedur dan dia memainkan itu semua," kata sumber tersebut kepada AFP.

Lahir di Moskow pada 1950, Lavrov dikabarkan menyukai fisika selama bersekolah, namun dia malah berkuliah pada sebuah lembaga terkemuka diplomasi Soviet, yaitu Institut Hubungan Internasional Moskow (Mgimo) di mana dia mempelajari bahasa Sinhala, sebelum memulai karir diplomatiknya di Sri Lanka.

Menghabiskan waktu 15 tahun di markas PBB di New York di mana anak perempuannya berkuliah di Universitas Columbia, Lavrov juga sangat nyaman dengan lingkungan Barat. Kendati Lavrov hanya berbahasa Rusia selama jumpa pers ketika konflik Suriah menjadi tak terkendali tahun lalu, dia tampil pada acara televisi Charlie Rose Show selama hampir satu jam mempertahankan kebijakan Kremlin dengan bahasa Inggris yang fasih sekali.

Lavrov ternyata masuk kategori sebagai pembela para perokok yang mengajukan petisi melawan larangan merokok di gedung PBB. Bahkan sikap itu ditunjukkan secara vulgar dan terbuka.

Peminum whiskey ini adalah ironi di tengah jajaran anggota kabinet dan para mantan pejabat keamanan dalam lingkaran dalam Putin yang umumnya tak suka humor.

Dia mengaku dalam sebuah acara bincang-bincang di Rusia bahwa dia ingin belajar bahasa Prancis dan Arab semasa awal kuliah dulu, tapi malah masuk kelas dengan jumlah mahasiswa paling sedikit di kelas bahasa Sinhala.

Ketika host selebritis Ivan Urgant menyiarkan klip video sang menteri menyaksikan sejumlah orang menyelenggarakan seremoni berpakaian adat pada kunjungan diplomatik ke Fiji, dia berkata, "Saya berharap mereka tidak memakan saya," diiringi tawa kerasnya sampai-sampai air matanya pun keluar.

Kendati para sekutu dan musuh mungkin menghormati profesionalismenya, Lavrov benar-benar takluk di bawah kekuasaan vertikal Putin dan tunduk pada garis kibijakan Kremlin ketimbang melaksanakan kebijakan luar negerinya, kata seorang koleganya.

"Meskipun dia tak diragukan lagi merupakan orang yang kreatif yang memiliki sudah pandangnya sendiri, dia senantiasa menuruti arahan yang diberikan kepemimpinan negara," kata Georgy Kunadze, mantan duta besar dan wakil menteri luar negeri.

Secara khusus Kantor Berita Antara juga melakukan penelusuran figure  Menlu Rusia Sergei Lavrov. Ketika Februari lalu ditanya apa maknanya menjadi seorang diplomat, Lavrov menjawab maknanya adalah menjadi terpelajar, berdedikasi kepada negara, dan bisa memahami psikologi orang lain.

Setelah sekali menempati pos di PBB, Lavrov bekerja di bawah menteri luar negeri Andrei Kozyrev yang reformis ketika Uni Soviet pecah. Dia menjadi wakil menteri luar negeri pada 1992 namun meninggalkannya untuk bertugas kembali di New York pada 1994 sebagai wakil tetap Rusia di PBB. Pada 2004, Presiden Putin mengangkat Lavrov sebagai menteri luar negeri, menggantikan Igor Ivanov yang ditunjuk Boris Yeltsin.

Sejak itu Lavrov menjadi suara Rusia selama pasang surut hubungan AS-Rusia, yaitu perang singkat 2008 di Georgia, meningkatnya kritik Barat atas masalah HAM di negeri itu, pemberangusan oposisi, dan pelarangan adopsi warga Rusia oleh orang asing. Untuk urusan yang terakhir Lavrov turut mengkritiknya, namun itu sebelum Putin mengumumkan dukungannya pada pelarangan adopsi.

Sejak itu, sang menteri luar negeri menghindari terlihat berbeda menyangkut UU itu, bahkan ketika ditanyai mengenai pendapat pribadinya mengenai hal itu.

Kasus Edward Snowden

Bisa jadi, kasus si mata-mata heboh, Edward Snowden, yang telah membuat AS merasa 'kecut' akibat tidak berhasil menangkap si pembocor rahasia intelejen AS itu "tidak bisa lepas' dari besutan tangan dingin merangkai kebijakan diplomasi canggih ala Sergei Lavrov. Meski tidak ada bukti sama sekali yang keluar ke publik atas kebijakan super canggih itu dimana berakibat AS mesti uring-uringan, termasuk membatalkan pertemuan antara Barack Obama dengan Vladimir Putin sebagai reaksi tersebut.

Seperti diketahui Edward Snowden yang merupakan mantan kontraktor National Security Agency (NSA) itu, kini telah memiliki visa dan pass port Rusia akibat menerima suaka terbatas yang diberikan Pemerintah Rusia setelah dirinya terkatung-katung di zona transit bandara beberapa minggu pasca dirinya melarikan diri dengan membocorkan sejumlah dokumen rahasia.

Keberadaan Snowden sangatlah diburu oleh Pemerintah AS mengingat dirinya merupakan aktor penting atas bocornya sejumlah upaya 'curang-nakal' AS dalam melakukan proses pengintaian sejumlah pemimpin besar dunia, baik Eropa, Asia dan Amerika Latin khususnya yang memiliki latar belakang berbeda haluan dengan kebijakan AS.

Meski demkian, Pemerintah Rusia secara bijak mampu menekan Snowden agar dirinya tidak lagi membocorkan data baru kepada publik, bila Snowden ingin tinggal dan bermukim di Rusia. Toh, diplomasi 'tarik-ulur' untuk Snowden itu terbukti jitu untuk menarik ahli intelejen bidang IT AS tersebut untuk mau hijrah ke Rusia. Boleh jadi kecanggihan Snowden akan menjadi aset penting khususnya untuk dimanfaatkan bagi perkembangan dunia intelejen Rusia yang kini telah jauh tertinggal dari negara-negara maju lainnya.

Layak raih Nobel Perdamaian

Menilik rekam jejak Sergei Lavrov termasuk upaya terakhir yang sangat 'lihai' dalam meredam gejolak kekerasan militer di Suriah dengan prinsip yang cerdas agar semua pihak tidak kehilangan muka (malu) telah terbukti berhasil untuk sementara waktu. Maksimalnya peran penting yang dimainkannya, menurut penilaian redaksi whatindonews.com, Lavrov layak diapresiasi untuk dinominasikan meraih Nobel Perdamaian periode mendatang. Semoga bisa menjadi benar adanya.(win7)

Komentar