KarSa, komposisi figur yang ideal

Soekarwo dan Syaifullah Yusuf

(WIN): Soekarwo dan Syaifullah Yusuf telah membuktikan kepada publik bahwa keduanya adalah pasangan pemimpin yang kompak dalam membangun dan mensejahterakan masyarakat Jatim. Keduanya bisa saling mengisi, saling melengkapi, saling menguatkan, serta memahami posisi dan tanggung-jawab masing-masing, sebagai gubernur dan wakil gubernur.

Meski kemenangan KarSa masih disoal oleh beberapa, tapi InsyaAllah pasangan Petahana (incumbent) ini akan menjabat lagi sebagai Gubernur & Wakil Gubernur Jawa Timur periode  2013 – 2018. Selain karena kerja keras tim sukses dan dukungan seluruh stake-holder, ada tiga  poin penting yang dimiliki pasangan KarSa ini yang tidak dimiliki pasangan lain, yang membuat hati rakyat terpikat dan berkeinginan memilihnya kembali memimpin Jatim. Ketiga poin penting itu adalah sebagai berikut:

Pertama: Soekarwo dan Syaifullah Yusuf telah membuktikan kepada publik bahwa keduanya adalah pasangan pemimpin yang kompak. Keduanya membuktikan kepada publik bahwa sampai selesai masa tugasnya yang pertama sebagai gubernur dan wakil gubernur, belum pernah sekalipun nampak adanya perselisihan antar satu dengan lainnya. Ini berbeda dengan yang terjadi di banyak daerah dimana gubernur dan wakilnya (bupati dan wakilnya, atau walikota dan wakilnya) secara kasat mata menunjukkan kepada publik adanya rivalitas. Bahkan sejak baru dilantik sudah kelihatan adanya perselisihan dan persaingan. Ini tidak terjadi pada pasangan KarSa.

Saifullah Yusuf sangat  memahami posisinya sebagai wakil gubernur, sehingga—kalaupun dirinya secara personal cukup populer—tidak lantas merasa lebih hebat. Pada setiap kesempatan acara resmi/tidak resmi, dalam pidatonya Gus Ipul selalu menyampaikan salam Pakde Karwo, dan selalu memuji kepemimpinan gubernurnya. Demikian juga Soekarwo. Selalu memuji ketokohan dan kepemimpinan Gus Ipul. Sehingga kalau keduanya berada dalam satu acara, dan dua-duanya diberi kesempatan berpidato, maka yang terjadi adalah saling memuji. Ini sungguh simpatik.

Soekarwo dan Syaifullah Yusuf secara kebetulan memiliki sifat dan sikap yang sama yakni lembut, egaliter, dan suka senyum. Siapapun disapa dan diajak bicara oleh keduanya, tanpa mengenal kelas dan jabatan. Semua orang dianggapnya sama dan dihormati. Dan hebatnya, keduanya mudah hafal nama-nama orang yang pernah dikenalnya. Ini sungguh luar biasa. Keduanya bisa tampil tenang dalam setiap menghadapi masalah serumit apapun, sehingga mampu mengurai persoalan secara proporsional. Terjaga emosinya, dan terkola attitude-nya.

Kelebihan lain dari kedua personal ini adalah komposisi yang sangat klop, yakni Soekarwo merupakan representasi dari kalangan nasionalis, dan Gus Ipul adalah keterwakilan dari Nahdlatul Ulama. Komposisi keduanya adalah bangunan kuat secara politik. Bahkan Gus Ipul yang NU itu juga memiliki pertalian historis dengan PDI Perjuangan dimana dirinya pernah menjadi anggota DPR RI fraksi PDIP.

Pasangan petahana ini bisa membangun komunikasi intensif dengan kalangan hijau dan NU melalui ketokohan Gus Ipul. Sementara kepiawaian Soekarwo ‘melepas’ identifikasi partai pada dirinya (sebagai Ketua PD Jatim) mampu mengantarkan pasangan ini diterima dimana-mana. Terbukti suara PDI Perjuangan (harusnya milik BDH – SAID ) juga tersedot.

M. Asfar, pengamat politik dari Universitas Airlangga mengatakan, kekuatan politik di Jatim ini hanya ada dua, yakni nasionalis dan NU. Komposisi Pakde Karwo dan Gus Ipul benar-benar mewakili dua kekuatan riil politik tersebut. Meski mesin politik partai pendukung tidak berjalan optimal, namun figur KarSa cukup kuat mengungguli aspek kelembagaan politik pendukungnya.

Kedua: Kuatnya komposisi pada figur KarSa ini juga ada pada pembagian tugas antara keduanya, yakni Pakde Karwo memiliki keahlian dibidang pembangunan perekonomian, sedangkan Gus Ipul dibidang pendidikan, sosial, dan keagamaan. Maka itu wajar jalannya pembangunan di semua sektor di Jatim bisa berjalan secara seksama.

Soekarwo bukan hanya paham soal – soal ekonomi dan pembangunan, tapi sudah pada tahapan ahli. Mampu membangun komunikasi intensif dengan dunia usaha, serta kebijakan dan programnya mampu menjadi stimulir efektif bagi tumbuhnya bisnis dan perekonomian. Sehingga wajar tatkala ekonomi secara nasional sedang mengalami kelambanan akibat efek melemahnya tensi perekonomian dunia, ekonomi Jatim justru tumbuh di atas rata-rata nasional.

Ketiga: Berhasilnya Kepemimpinan KarSa yang secara terus-menerus menaikkan perekonomian di Jatim tidak terlepas dari pilihan kebijakan dan program-program yang ditempuh, sehingga secara makro telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Bahkan dalam situasi ekonomi nasional penuh tantangan, provinsi Jatim masih mampu mencatat growth 7,2% pada 2012 melampaui nasional yang 6,2%. Dan inflasi terkelola baik berkat intervensi pemda dalam memperbaiki sistem logistik dan tata niaga pangan.

Memasuki 2013 yang makin penuh tantangan, Pasangan KarSa berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi Jatim pada triwulan I di level 6,62% melampaui pertumbuhan nasional yang berada di level 6,02%. Kinerja ekonomi yang prima ini berdampak pada pengurangan kemiskinan sebagai tujuan utama pembangunan. Pada 2012, penduduk miskin Jatim turun 395.670 jiwa.

Besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim 2012 atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp 1.000 triliun lebih, telah mendorong terbukanya kesempatan kerja secara luas. Sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2013 hanya tercatat 4%, atau menurun signifikan dibanding TPT Februari  2012 yang mencapai 4,14%.

Geliat perbankan adalah indikasi betapa roda ekonomi Jatim berderak cepat. Penyaluran kredit bank di Jatim pada akhir 2012 mencapai Rp239,48 triliun atau tumbuh 26,28%. Penyaluran kredit didominasi oleh sektor produktif (modal kerja) dengan proporsi 58,26%, kredit konsumsi dan investasi masing-masing 27,66% dan 14,08%. Total aset bank umum di Jatim pada Maret 2013 tercatat Rp 362,32 triliun atau tumbuh 19,10%.

Sehingga wajar jika Ketua Kadin Jatim, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengakui keberhasilan ekonomi Jatim yang dibangun oleh Pasangan KarSa, dan harus dilanjutkan untuk memberi manfaat optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat yang tersebar di 38 kabupaten/kota, 662 kecamatan, 782 kelurahan, dan 7.741 desa di total luas wilayah 47,79 ribu km2 dengan penduduk 41 juta jiwa lebih.(win5)

Komentar