Mudik, bahagia atau petaka
Oleh: Kompol Ronny Tri P. Nugroho, SIK, Pasis Sespimmen Polri Dikreg ke-55 2015

Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia. Tidak hanya bagian dari kewajiban menunaikan ibadah puasa, namun ada saat dimana seluruh masyarakat yang tengah berada dalam perantauan baik di dalam maupun luar negeri, berupaya datang dan kembali berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.
Beberapa alasan kenapa hingga kini masyarakat Indonesia masih melestarikan budaya mudik, diantaranya merupakan salah satu jalan mencari keberkahan dengan memerpanjang silaturrahim dengan orang tua, kerabat, dan tetangga hingga teman-teman masa sekolah.
Mudik seakan menjadi pengingat asal-usul bagi mereka yang berada dalam perantauan. Mudik juga menjadi sarana berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi keluarga untuk dapat mengetahui bagaimana situasi dan perkembangan di daerah perantauan.
Satu lagi, mudik adalah terapi psikologis dengan memanfaatkan libur lebaran untuk berwisata setelah setahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan. Sehingga saat kembali bertugas usai mudik dan libur lebaran, seseorang diharapkan memiliki semangat dan motivasi yang tinggi.
Akan tetapi dalam kenyataannya, mudik tidak hanya mengisahkan sisi melankolis kebahagiaan semata. Banyak kisah haru dan menyakitkan kepada sebagian masyarakat yang tadinya membayangkan mendapatkan momen bahagia. Sebaliknya, mereka malah mendapatkan hal yang tidak menyenangkan. Berbagai peristiwa senantiasa menyertai aktifitas mudik pada setiap tahunnya. Angan-angan kebahagiaan yang diharapkan sirna dalam sekejap oleh berbagai hal yang tidak terduga.
Fenomena mudik sering kali dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melancarkan berbagai kejahatan. Misalnya, tingginya transaksi uang tunai sepanjang Ramadhan dan Idul Fitri sering dimanfaatkan oknum tertentu demi mengambil keuntungan pribadi dengan melakukan tindak pidana pemalsuan uang.
Kepekaan masyarakat atas maraknya peredaran uang palsu selama Ramadhan dan Idul Fitri pun masih rendah. Hal ini karena pada umumnya, masyarakat belum begitu paham dalam membedakan dan mengidentifkasi antara uang asli dan uang palsu. Dampaknya, banyak masyarakat akhirnya mendapatkan kerugian yang tidak sedikit akibat peredaran uang palsu tersebut.
Tindakan kriminalitas saat Ramadhan dan Idul Fitri pun kian tajam. Dengan dalih ingin menambah uang untuk berlebaran, ada beberapa orang yang nekad melancarkan tindakan kejahatan, seperti penodongan, perampasan, hingga perampokan. Bandara, pelabuhan, terminal dan stasiun serta rest area menjadi tempat yang seringkali didapati tindakan kriminal.
Keberangkatan dan kepulangan pemudik menjadi sasaran tindak kejahatan. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau para
pemudik yang umumnya dari golongan perempuan, menjadi sasaran empuk para
pelaku kejahatan. Motif kejahatannya pun beragam, mulai dari hipnotis, pembiusan di kendaraan, hingga ancaman dan tindakan kekerasan.
Bayangan kebahagian para
pemudik saat berkumpul dengan keluarga sirna dengan raibnya harta benda. Tak jarang, para
pemudik harus berakhir di rumah sakit atau meninggal dunia akibat tindak kejahatan tersebut.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, kosongnya rumah yang ditinggalkan pemudik menjadi potensi yang selalu dimanfaatkan para pelaku tindak kriminal. Perampokan rumah kosong menjadi kegiatan yang meningkat di setiap momen mudik. Kelalaian dalam melakukan pengamanan sebelum keberangkatan menjadi pemicu terjadinya perampokan. Meski masih banyak rumah-rumah yang diberikan pengamanan, tetap saja ditimpa perampokan.
Koordinasi yang masih belum optimal
antara pemudik dan aparat keamanan setempat serta RT/RW dalam pengelolaan pengamanan rumah-rumah yang ditinggal mudik menjadi bagian yang harus diperhatikan. Perlunya izin dan memberi tahu ketika rumah ditinggalkan merupakan salah satu cara untuk menghindarkan dari perampokan rumah kosong.
Potensi lainnya adalah terjadinya kebakaran terhadap rumah-rumah yang ditinggalkan. Perhatian terhadap benda-benda yang dapat memicu kebakaran selayaknya menjadi catatan penting. Seperti pemeriksaan kompor, kelistrikan dan kelalaian meninggalkan setrika yang masih terkontak merupakan kebiasaan yang sering dilupakan masyasrakat karena kesibukan dan kegembiraan akan melakukan mudik ke kampung halaman.
Selanjutnya, proses perjalanan mudik juga rawan akan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Sebab volume kendaraan di jalan meningkat drastis. Pemakaian kendaraan pribadi yang tidak laik jalan menjadi salah satu faktor terjadinya kecelakaan.
Penggunaan kendaraan yang tidak sesuai peruntukannya serta over capacity pun semakin membuka lebar potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Ditambah dengan kurangnya fasilitas rambu lalu lintas dan kelayakan infrastruktur jalan dan kondisi alam, turut menjadi pemicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Ketika seorang pemudik telah berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, masih ada petaka yang mengamcam. Biasanya, kegimbiraan berkumpul dengan sanak keluarga diluapkan dengan berlibur di tempat-tempat wisata. Tak anyal, kunjungan wisata melonjak tinggi, karena banyak orang yang berpikir untuk bersenang-senang dengan berwisata.
Ironisnya, peningkatan kunjungan wisata saat libur Lebaran tidak disertai dengan peningkatan sistem pengamanan. Masih banyaknya peristiwa tenggelamnya pengunjung disaat bermain di pantai, kecelakaan dan hilangnya anak-anak di wahana permainan maupun di mal-mal, menjadi bukti kongkret masih kurangnya kesadaraan baik pihak pengelola obyek wisata maupun masyarakat sendiri saat berwisata. Baru-baru ini, diantara tragedi yang terjadi adalahnya longsor di air terjun Sedudo, Nganjuk, Jawa Timur. Insiden ini merenggut sejumlah korban jiwa dan puluhan korban luka.
Usai berkumpul dan bersenang-senang dengan sanak keluarga di kampung halaman, para pemudik para pemudik harus tetap memperhatikan keselamatan saat balik ke perantauan. Kondisi kendaraan, kesehatan dan tingkat kebugaran prima dalam melakukan perjalanan harus menjadi perhatian lebih, khususnya bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan para pemudik yang menggunakan faslilitas umum, perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap keselamatan diri sendiri dan harta benda selama perjalanan.
Apa yang telah dituliskan di atas, merupakan fenomena kasat mata dan peristiwa yang selalu terjadi di momen Ramadhan dan Idul Fitri. Kejadian-kejadian tersebut selalu berulang dan selalu berakhir dengan adanya korban, baik harta benda maupun korban jiwa.
Masyarakat sepertinya kurang memiliki kepekaan dan kewaspadaan terhadap fenomena di atas. Sehingga diperlukan adanya media edukasi dan sosialisasi terhadap seluruh potensi kerawanan yang terjadi di tengah perjalanan mudik maupun saat balik. Koordinasi instansi terkait dan kepolisian serta masyarakat sangat penting untuk terus ditingkatkan demi menjamin kenyamanan dan keselamatan para pemudik selama melakukan perjalanan.
Diperlukan kecerdasasan para pemudik dalam menangkap fenomena yang terjadi setiap tahunnya, agar dapat mengantisipasi seluruh potensi kerawanan. Serta mampu melakukan persiapan yang matang dalam melaksanakan perjalanan mudik. Dengan begitu, mudik dapat berjalan lancar selamat sampai tujuan dan kembali ke perantauan dengan aman.(*)