Menagih Keadilan di Atas Aspal

Hadipras
KANALSATU - Tulisan ini didedikasikan bagi mereka yang peduli pada sisi gelap orang-orang baik—para pekerja keras yang terabaikan oleh congkaknya dunia digital.
Prolog: Balada Kurir Logistik dan Celah Regulasi
Modernisasi sering kali datang dengan janji kemudahan. Di layar ponsel kita, segalanya tampak magis: satu klik, dan barang pun tiba. Namun, di balik antarmuka aplikasi yang bersih, terdapat jutaan nyawa yang bergerak dalam "wilayah abu-abu" hukum.
Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab, kita perlu bertanya: Mengapa kemajuan peradaban justru terasa seperti kembalinya sistem perbudakan yang terselubung dalam algoritma?
Jika kita membedah kebijakan publik saat ini, terdapat ketimpangan regulasi yang nyata antara Transportasi Online (Transol) dan Kurir Logistik. Bagi Transol, pemerintah telah mengeluarkan payung hukum seperti KP 564/2022 yang mengatur tarif.
Meskipun jauh dari sempurna, setidaknya ada intervensi negara. Namun bagi Kurir Logistik, realitas mereka masih menyerupai Wild West—hutan rimba tanpa aturan. Perusahaan berlomba menawarkan ongkir semurah mungkin melalui Predatory Pricing dengan cara memotong jatah pendapatan kurir yang memikul beban fisik hingga 150 kg di atas motor bebek standar.
Paradoks Gap Equilibrium
Di sinilah kita menghadapi sebuah anomali yang disebut sebagai Paradoks Gap Equilibrium. Secara teori, ekonomi mencari keseimbangan (ekuilibrium). Namun, dalam industri logistik digital, keseimbangan pasar justru tercapai karena adanya "celah ketimpangan" yang lebar antara si kuat (aplikator) dan si lemah (mitra).
Sistem ini bisa terus berputar (stabil) justru karena ada jutaan orang yang "kepepet" hidupnya. Ketimpangan ini bukan lagi sebuah residu atau kegagalan pasar, melainkan komponen struktural agar harga tetap murah.
Seberapa manusiawi ketimpangan ini bisa diterima? Jika keseimbangan ekonomi harus dibayar dengan kehancuran martabat manusia, maka itu bukanlah ekuilibrium yang sehat, melainkan titik didih eksploitasi. Kita terjebak dalam paradoks: pasar merasa seimbang, namun kemanusiaan sedang guncang.
Manajemen Algoritma
Masalah terbesar adalah Manajemen Algoritma yang menjadi Mandor Tanpa Wajah. Dalam sistem konvensional, buruh bisa bernegosiasi dengan mandor jika cuaca buruk. Namun, kurir hari ini berhadapan dengan "Tuhan Digital" yang tidak memiliki empati.
Algoritma memaksa sistem tetap berjalan dengan ancaman sanksi, meski di lapangan terjadi banjir atau kelelahan ekstrem. Inilah yang oleh kanal YouTube Maharu disebut sebagai sistem yang overheated. Karena status mereka adalah Disposable Workforce (tenaga kerja sekali pakai), perusahaan tidak khawatir jika satu "mesin manusia" rusak; ribuan lainnya sudah antre di depan pintu.
Siapa yang Menanggung Biaya Riil Ekonomi?
Kita membanggakan ekonomi digital yang meroket, tapi Who bears the real cost? Biaya Fisik? Ditanggung kurir melalui penyusutan nilai kendaraan pribadi. Biaya Kesehatan? Ditanggung keluarga kurir di masa depan akibat saraf kejepit dan polusi. Biaya Sosial? Anak-anak yang kehilangan figur ayah karena orang tua mereka mengejar "teror notifikasi" hingga larut malam demi bonus sekedarnya.
Catatan untuk Wakil Rakyat
Bapak dan Ibu anggota DPR yang terhormat, kebijakan publik harus menjadi benteng terakhir kemanusiaan, bukan sekadar pelayan efisiensi pasar. Jika efisiensi pasar bertindak seperti mesin penggiling, maka negara harus hadir melakukan intervensi.
Model bisnis global yang "cacat moral" ini tidak boleh menetap di Indonesia. Ekonomi kita tidak boleh berdiri di atas penderitaan jutaan "mitra" yang sebenarnya adalah buruh tanpa hak. Modernisasi harus membebaskan manusia, bukan merantai mereka dengan GPS dan algoritma.
Sungguh ironis jika kita bangga melacak paket hingga depan pintu, namun gagal melacak di mana letak kemanusiaan dalam kebijakan publik kita. Jangan sampai kita merayakan peradaban, padahal kita hanya sedang mendigitalisasi perbudakan.
Epilog: Untuk Publik Pemuja Gratis Ongkir
Selamat menikmati kemudahan 'Gratis Ongkir'. Namun ingatlah, setiap kali klik 'Beli Sekarang', ada keringat kurir dan risiko kecelakaan, yang dipaksa menjadi tumbal demi diskon perusahaan. Sementara negara hanya menonton dari kursi empuk regulasi yang abu-abu, dan publik pemuja tersenyum puas karena dapat gratisan.
Itulah potret manusia modern: merasa paling maju, padahal semakin pelit memanusiakan sesama.
Penulis : Hadipras
Ketua Dewan Pakar PWI Jatim