Produksi Tebu Naik 20%, SGN Targetkan Produksi Gula Tembus 1 Juta Ton pada 2026

KANALSATU - Kinerja PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menunjukkan tren positif dalam dua tahun terakhir. Volume tebu yang digiling melonjak dari 11,9 juta ton pada 2023 menjadi 14,2 juta ton pada 2025.
Sekretaris Perusahaan PT Sinergi Gula Nusantara Yunianta menjelaskan peningkatan volume giling tebu menjadi salah satu capaian penting perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, pada 2023 jumlah tebu yang digiling perusahaan mencapai sekitar 11,9 juta ton. Angka tersebut melonjak menjadi 14,2 juta ton pada 2025.
“Di tahun 2025 ada peningkatan, salah satunya pada jumlah tebu yang digiling. Dari 11,9 juta ton pada 2023 naik menjadi 14,2 juta ton pada 2025,” ujar Yunianta saat acara buka puasa bersama di Surabaya, Kamis (13/3/2026).
Peningkatan volume tebu tersebut turut mendorong produksi gula perusahaan. Pada 2023 produksi gula SGN tercatat sekitar 851 ribu ton, sementara pada 2025 meningkat menjadi sekitar 882 ribu ton.
Meski demikian, capaian tersebut masih berada di bawah target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Salah satu penyebabnya adalah kondisi cuaca yang lebih basah sehingga memengaruhi kualitas tebu.
Curah hujan tinggi membuat rendemen atau kadar gula dalam tebu menurun. Selain itu, kondisi lahan yang basah juga menyulitkan proses pengangkutan tebu dari kebun menuju pabrik gula.
“Kalau hujan, dampaknya besar. Rendemen turun dan proses mengeluarkan tebu dari lahan juga menjadi lebih sulit,” katanya. Yunianta menilai, apabila tingkat rendemen tebu pada 2025 dapat menyamai kondisi 2023, maka produksi gula perusahaan berpotensi menembus lebih dari 1 juta ton.
Selain tantangan produksi, perusahaan juga menghadapi tekanan dari sisi pendapatan akibat anjloknya harga tetes atau molases, salah satu produk turunan gula.
Harga tetes yang sebelumnya berada di kisaran Rp2.600 per kilogram turun tajam menjadi sekitar Rp1.100 per kilogram. Penurunan ini membuat perusahaan kehilangan potensi pendapatan lebih dari Rp500 miliar.
“Komoditas yang paling memberatkan adalah tetes. Harganya turun drastis dari sekitar Rp2.600 menjadi Rp1.100 per kilogram,” ujar Yunianta.
Meski menghadapi sejumlah tantangan, SGN tetap optimistis menghadapi periode 2025–2026. Perusahaan menargetkan volume giling tebu meningkat menjadi sekitar 14,5 juta ton pada 2026 dengan rata-rata rendemen mencapai 7,2 persen.
Dengan target tersebut, produksi gula diproyeksikan dapat mencapai sekitar 1,071 juta ton.
Dari sisi keuangan, perusahaan juga menargetkan peningkatan kinerja. SGN membidik laba usaha sebesar Rp1 triliun, sementara laba sebelum pajak ditargetkan mencapai sekitar Rp493 miliar.
Di sisi lain, perusahaan mulai mengantisipasi potensi dampak geopolitik global terhadap operasional industri gula. Yunianta menilai konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku industri.
Menurut dia, kelangkaan bahan bakar seperti solar dapat memengaruhi biaya operasional pabrik gula yang masih bergantung pada BBM.
Selain itu, kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasan gula juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan biaya produksi.
Sebagai langkah mitigasi, perusahaan menyiapkan strategi kontrak pembelian bahan bakar dan bahan baku sejak awal tahun.
“Kami menyiapkan mekanisme kontrak di awal tahun, baik untuk BBM maupun bahan baku seperti plastik,” katanya.
Di luar strategi operasional, SGN juga tengah menyiapkan langkah ekspansi melalui penggabungan atau akuisisi tujuh pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).
Proses penandatanganan rencana penggabungan tersebut ditargetkan rampung pada akhir Maret atau awal April 2026.
Dengan tambahan tersebut, jumlah pabrik gula yang dikelola SGN diperkirakan meningkat menjadi sekitar 43 unit yang tersebar di Pulau Jawa. Langkah ini diharapkan semakin memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendukung penguatan industri gula nasional.
(KS-5)