Kinerja MDKA 2025 Moncer, Pendapatan Tembus USD1,89 Miliar
Siap Masuk Fase Pertumbuhan Baru

KANALSATU - PT Merdeka Copper Gold Tbk (BEI: MDKA) mencatat kinerja keuangan solid sepanjang tahun buku 2025 (FY2025) dengan pendapatan mencapai USD1,895 miliar. Capaian ini menegaskan penguatan skala operasi sekaligus menjadi fondasi untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Selain pendapatan, perseroan juga membukukan EBITDA sebesar USD373 juta. Kinerja tersebut ditopang kenaikan harga jual rata-rata (ASP) emas sebesar 32% secara tahunan (year-on-year/YoY) serta lonjakan produksi bijih nikel sebesar 44% YoY.
Direktur Utama MDKA, Albert Saputro, menyatakan sepanjang 2025 perseroan fokus memperkuat fundamental bisnis melalui ekspansi operasional dan percepatan proyek strategis.
“Dengan kemajuan signifikan di seluruh proyek serta kontribusi yang semakin kuat dari entitas anak usaha, kami optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujarnya.
Dari sisi operasional, kontribusi portofolio bisnis yang terdiversifikasi menjadi kunci kinerja MDKA. Tambang Emas Tujuh Bukit mencatat produksi sebesar 103.156 ounces emas sepanjang 2025.
Sementara itu, anak usaha PT Merdeka Gold Resources Tbk (BEI: EMAS) mencatat kemajuan signifikan pada proyek Tambang Emas Pani. Memasuki 2026, tambang ini telah memulai produksi perdana pada Februari dan merealisasikan penjualan emas pertama pada Maret kepada PT Aneka Tambang Tbk.
Ke depan, kontribusi segmen emas diproyeksikan meningkat signifikan terhadap produksi dan arus kas grup. Pada 2026, EMAS menargetkan produksi 100.000–115.000 ounces emas, ditambah produksi berkelanjutan dari Tambang Tujuh Bukit sebesar 80.000–90.000 ounces.
Di segmen nikel, anak usaha PT Merdeka Battery Materials Tbk (BEI: MBMA) menunjukkan kinerja operasional kuat. Sepanjang 2025, produksi tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) meningkat dengan capaian sekitar 7 juta wet metric tonnes (wmt) saprolit dan 14,7 juta wmt limonit.
Pengembangan fasilitas hilirisasi juga terus berjalan. Proyek Acid Iron Metal (AIM) berada di jalur untuk mencapai produksi penuh, sementara proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dengan kapasitas 90.000 ton nikel per tahun ditargetkan mulai commissioning pada pertengahan 2026.
Untuk 2026, MBMA menargetkan produksi saprolit meningkat menjadi 8–10 juta wmt dan limonit 20–25 juta wmt. Perseroan juga membidik efisiensi biaya lebih lanjut seiring upaya mencapai swasembada bijih saprolit 100% untuk tiga pabrik Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Di sisi lain, segmen tembaga tetap memberikan kontribusi stabil melalui Tambang Tembaga Wetar yang menghasilkan arus kas konsisten. Sementara Proyek Tembaga Tujuh Bukit terus menunjukkan perkembangan yang memperkuat prospek jangka panjang sebagai salah satu proyek tembaga-emas besar dunia.
Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi periode krusial bagi MDKA dalam memperkuat fondasi operasional sekaligus menuntaskan berbagai proyek strategis.
"Dengan likuiditas yang kuat, portofolio terdiversifikasi, serta mulai beroperasinya proyek-proyek utama pada 2026, perseroan berada dalam posisi solid untuk mendorong pertumbuhan produksi dan arus kas ke depan," kata Albert.
Seiring itu, MDKA juga terus memperkuat implementasi prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) melalui peningkatan keselamatan kerja, efisiensi energi, serta pengembangan masyarakat sebagai bagian dari komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan. (KS-5)