Dari Sampah hingga Hutan, Strategi Hijau Djarum Foundation Bangun Ekosistem Lingkungan Berkelanjutan

KANALSATU - Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan krisis lingkungan, upaya menjaga bumi tak lagi bisa dilakukan secara parsial. Dari rumah tangga, hutan, hingga pesisir, pendekatan menyeluruh menjadi kunci. Inilah yang coba dijawab oleh program Bhakti Lingkungan Djarum Foundation—sebuah gerakan yang tak berhenti pada seremoni, tetapi berjalan konsisten dari hulu ke hilir.
Di Djarum OASIS Kretek Factory, gagasan itu menemukan bentuk paling nyata. Di kawasan industri ini, sampah dapur yang selama ini dianggap tak bernilai justru diolah menjadi sumber kehidupan baru.
Sejak 2018, berdiri Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang mampu mengolah puluhan ton sampah setiap hari. Tanpa bau menyengat dan tanpa risiko gas metana, proses fermentasi mengubah limbah organik menjadi sekitar 50 ton pupuk per hari.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga perubahan cara pandang. “Program ini tidak berhenti pada pengolahan. Kami ingin memastikan ada perubahan perilaku masyarakat, mulai dari memilah sampah hingga memahami nilai dari limbah itu sendiri,” ujarnya.
Sampah organik—yang mencapai sekitar 60 persen dari total sampah rumah tangga—menjadi fokus utama. Dengan sistem berbasis pemilahan sejak sumber, Djarum Foundation menggandeng lebih dari 400 mitra, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha makanan.
Komposisi pengolahan dilakukan dengan rasio 3:1 antara bahan organik dan nitrogen, menghasilkan pupuk yang kemudian dimanfaatkan kembali untuk pembibitan tanaman.
Menariknya, hasil pupuk ini tidak diperjualbelikan. Sebagian digunakan untuk kebutuhan internal, sementara sisanya dapat diakses gratis oleh masyarakat. Sebuah pendekatan yang menegaskan bahwa manfaat lingkungan seharusnya kembali ke publik.
Dari Bibit ke Hutan, Menanam Masa Depan
Di sisi lain kawasan, berdiri pusat pembibitan tanaman yang menjadi sumber berbagai program penghijauan. Dari sinilah gerakan penanaman pohon Djarum Foundation mendapatkan tenaga.
Melalui program Trees for Life, jutaan pohon telah ditanam di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu yang paling mencolok adalah penanaman pohon trembesi di sepanjang jalur tol.
Pohon dengan kanopi lebar ini dipilih karena kemampuannya menyerap karbon dan menghasilkan oksigen dalam jumlah besar. Ribuan trembesi kini membentuk koridor hijau di jalur transportasi padat, dari Pantura hingga Tol Trans Jawa.
“Menanam pohon hanyalah awal. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pohon tersebut tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang,” kata Mutiara.
Karena itu, program ini dilengkapi dengan sistem perawatan berkelanjutan, mulai dari penyiraman hingga monitoring pertumbuhan.
Tak berhenti di penghijauan, upaya konservasi juga dilakukan di kawasan Pegunungan Muria dan Patiayam. Jika Muria berfungsi sebagai sumber air, Patiayam memiliki nilai penting sebagai situs purbakala. Penghijauan di dua kawasan ini tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga melindungi warisan sejarah.
Di saat yang sama, perhatian juga diberikan pada satwa liar, khususnya Macan tutul Jawa. Dengan pemasangan ratusan kamera trap di Pulau Jawa, program ini berhasil mengidentifikasi sekitar 14 individu di kawasan Muria.
Pendekatan ini penting karena macan tutul merupakan predator puncak yang menjaga keseimbangan ekosistem. Penurunan populasinya dapat memicu gangguan rantai makanan hingga konflik dengan manusia.
Komitmen lingkungan ini juga menjangkau wilayah pesisir. Sejak 2008, Djarum Foundation aktif menanam mangrove di Pantai Utara Jawa, termasuk di Demak dan Rembang.
Langkah ini menjadi benteng alami terhadap abrasi dan banjir yang dampaknya bahkan dirasakan hingga wilayah daratan seperti Kudus.
ESG dan Masa Depan Lingkungan
Seluruh inisiatif ini menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar baru dalam dunia bisnis.
Dari sisi lingkungan, program-program ini berkontribusi pada penyerapan karbon dan pelestarian ekosistem. Dari sisi sosial, keterlibatan masyarakat menciptakan nilai ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran. Sementara dari aspek tata kelola, pendekatan berbasis riset dan monitoring memastikan dampak yang terukur.
Direktur The Climate Reality Project Indonesia, Amanda Katili Niode, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi krisis iklim. “Perubahan iklim adalah isu global. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk dunia usaha, untuk mendorong solusi nyata,” ujarnya.
Pendekatan komunikasi pun dibuat lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari agar isu lingkungan tidak terasa jauh, melainkan relevan dengan pengalaman masyarakat.
Pada akhirnya, seluruh program ini mengarah pada satu tujuan besar: membangun ekosistem lingkungan yang berkelanjutan. Dari sampah dapur di Kudus hingga hutan di Muria, dari pesisir utara Jawa hingga jalur tol lintas pulau, setiap langkah menjadi bagian dari investasi jangka panjang.
Karena di tengah krisis iklim, menjaga lingkungan bukan lagi pilihan—melainkan keharusan untuk memastikan masa depan tetap tumbuh. (KS-5)