Didukung Rumah BUMN SIG, UMKM Batik Rembang Tembus Pasar Global

KANALSATU — Pemanfaatan digitalisasi menjadi kunci sukses pelaku UMKM batik asal Rembang, Jawa Tengah, dalam menembus pasar internasional. Melalui pendampingan Rumah BUMN yang diinisiasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, usaha Batik Tulis Lasem Gunung Kendil kini mampu menjangkau konsumen hingga mancanegara.
Pelaku usaha tersebut, Hawien Wilopo, memulai bisnisnya dari hobi menggambar sejak kecil. Tanpa latar belakang sebagai pembatik, ia memberanikan diri mendirikan usaha sendiri pada 2012 setelah melihat peluang pasar yang menjanjikan.
Perjalanan bisnisnya sempat tertekan saat pandemi Covid-19. "Alhamdulillah, saya dapat informasi tentang RB Rembang dan bergabung pada 2021,” kenang Hawien Wilopo
Melalui program tersebut, Hawien mendapatkan berbagai pelatihan, mulai dari manajemen usaha hingga optimalisasi platform digital untuk pemasaran. Ia juga difasilitasi mengikuti berbagai pameran, baik nasional maupun internasional, yang mendorong peningkatan eksposur produknya.
Batik Tulis Lasem Gunung Kendil kini rutin terjual sekitar 150 produk setiap bulan, terdiri dari kain dan pakaian jadi, dengan omzet mencapai sekitar Rp20 juta per bulan atau Rp150 juta per tahun.
Sejumlah ajang bergengsi yang pernah diikuti antara lain Festival Tong Tong, Future SMEs Village Side Event G20 di Bali, Bazar UMKM di Sarinah Jakarta, serta Inacraft. Keikutsertaan dalam event tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas pasar hingga luar negeri.
Berkat digitalisasi, jangkauan pasar tidak hanya mencakup berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali, tetapi juga merambah negara seperti Jerman, Belgia, Italia, Korea Selatan, hingga Jepang.
Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, Hawien kini mempekerjakan tujuh karyawan tetap dan turut memberdayakan masyarakat sekitar saat pesanan membludak. Produk batiknya dipasarkan dengan harga mulai Rp200 ribu hingga Rp7 juta untuk kain, serta Rp600 ribu hingga Rp800 ribu untuk pakaian jadi.
Hawien mengakui peran Rumah BUMN sangat signifikan dalam mengangkat kembali usahanya pascapandemi. "Saya berharap program tersebut terus berlanjut untuk membantu lebih banyak pelaku UMKM berkembang," ujarnya.
Sementara itu, Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyampaikan apresiasi atas capaian mitra binaannya. Menurutnya, keberhasilan ini tidak hanya memperkenalkan batik sebagai warisan budaya Indonesia ke pasar global, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
SIG menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi UMKM melalui Rumah BUMN agar mampu menjalankan usaha secara profesional dan memanfaatkan teknologi digital, sehingga produk lokal dapat bersaing di pasar nasional hingga internasional.
(KS-5)