"Asu Gede Menang Kerahe"

KANALSATU - Di sebuah beranda di Malang, saya sering merenung tentang bagaimana kekuasaan bekerja. Bayangkan seorang anak kecil yang menangkap seekor kepik di halaman. Si anak tersenyum, lalu tanpa sebab, ia meremas serangga kecil itu hingga hancur.
Saat ditanya mengapa, ia menjawab ringan: "Karena aku bisa." Di titik itulah benih kekuasaan pertama kali tumbuh—bukan dari ideologi, melainkan dari kemampuan purba untuk menghancurkan sesuatu yang tak mampu melawan.
Dalam panggung politik kita hari ini, anak kecil itu telah tumbuh dewasa, mengenakan setelan jas mahal, dan duduk di kursi empuk pengambilan keputusan. Namun, mentalitasnya tetap sama: "Karena aku bisa."! Dalam ilmu jiwa, kegelapan ini memiliki nama mentereng "The Dark Triad".
Ada 'Narsisme' yang merasa diri sebagai pusat semesta dan pemilik sah sejarah; ada 'Machiavellianisme' yang memandang moralitas sebagai beban dan orang lain sebagai sekedar pion atau properti; serta ada 'Psikopati' sub-klinis yang sanggup menandatangani kebijakan yang memiskinkan jutaan orang tanpa sedikit pun kehilangan selera makan malamnya.
Pertanyaannya kemudian menusuk batin kita: Di tengah laju "kereta kencana" kekuasaan yang kian brutal dan menghalalkan segala cara ini, apakah masih ada rem? Ataukah kita sedang menonton sebuah kecelakaan sejarah yang menunggu waktu untuk meledak.
Secara psikologis, kekuasaan yang absolut dan berlangsung lama sering kali memicu "Hubris Syndrome". Ini adalah semacam "mabuk ketinggian" yang merusak koneksi saraf empati di otak. Sang penguasa mulai merasa dirinya setara dengan negara. Jika ia memperkaya diri, ia merasa sedang memperkuat pilar bangsa. Jika ia menindas lawan, ia merasa sedang menjaga stabilitas.
Dalam kondisi ini, "rem" internal atau hati nurani bukan lagi sedang tidur; ia sudah lama dijual di pasar gelap kekuasaan sebagai tumbal ambisi.
Lalu, apakah ada peluang untuk kembali normal? Jika kita mengharapkan perubahan datang dari "kesadaran mandiri" sang penguasa, maka kita mungkin sedang mengharapkan air sungai mengalir ke puncak gunung.
Karakter "Dark Triad" ini bersifat stabil dan adiktif. Dopamin dari kekuasaan itu lebih candu daripada zat apa pun. Perubahan sejati bagi mereka biasanya hanya datang melalui dua pintu yang menyakitkan: guncangan hebat (trauma kehilangan segalanya) atau tekanan eksternal yang tak terbantahkan.
Di sinilah kita harus bicara soal sistem sebagai "rem eksternal." Mengapa politik kita terasa begitu brutal? Karena sistem kita saat ini justru memberi insentif—memberi hadiah—bagi mereka yang licin dan kejam.
Ketika hukum bisa ditekuk sesuka hati dan etika dianggap sebagai aksesori usang, maka orang-orang yang memiliki "rem" di kepalanya justru akan tergilas. Kita sedang terjebak dalam logika "Asu Gede Menang Kerahe"—siapa yang paling besar dan paling galak, dialah yang menang.
Tanpa adanya 'checks and balances' yang berfungsi sebagai kampas rem, kendaraan kekuasaan ini akan terus memacu gas meski di depannya adalah jurang deindustrialisasi atau kemiskinan struktural.
Namun, sebagai orang yang besar dengan filosofi Javanese yang dalam, saya masih ingin menyisakan sedikit ruang bagi harapan—sekecil apa pun itu. Perubahan mungkin saja terjadi jika "biaya" untuk menjadi brutal menjadi jauh lebih mahal daripada manfaatnya.
Rem itu harus dipasang kembali secara paksa oleh kita: publik yang tidak berhenti mual membaca berita ketidakadilan, intelektual yang tidak menggadaikan logikanya demi jabatan, dan warga yang tetap menyalakan lilin nalar di tengah kegelapan literasi.
Kita tidak tahu apakah para penguasa yang mabuk itu akan jatuh karena keangkuhannya sendiri (seperti banyak diktator dalam catatan sejarah), ataukah kita semua akan ikut tenggelam bersama mereka.
Namun, fakta bahwa kita masih bertanya "Apakah masih ada rem?" adalah bukti bahwa di dalam diri kita sendiri, rem itu masih berfungsi. Kita masih memiliki standar moral untuk menyebut yang brutal sebagai "brutal," bukan sebagai "prestasi."
Pada akhirnya, kekuasaan sejati bukanlah kemampuan untuk meremas kepik hingga hancur. Kekuasaan adalah kemampuan untuk menjaga agar kepik itu tetap bisa merayap di atas daun. Di negeri yang sementara ini dikuasai oleh para pemburu rente dan narsistik politik, tugas kita adalah menjaga agar definisi kemanusiaan itu tidak ikut terkikis habis.
Mari kita simpan pertanyaan tentang "rem" ini di saku baju kita. Jangan biarkan ia hilang. Suatu saat nanti, di hari yang lebih cerah—entah kapan—jawaban itu akan muncul bukan dari pidato para elite, melainkan dari ketangguhan nalar publik yang menolak untuk terus-menerus dikandangi oleh ambisi-ambisi buta.
Karena dalam sejarah, sesepi apa pun itu, kebenaran selalu punya caranya sendiri untuk pulang, meskipun jalannya sering kali melalui rute yang sangat terjal.
Oleh: Hadipras
Ketua Dewan Pakar PWI Jatim