Jatim Siap Jadi Kekuatan Baru Ekspor Beras, Produksi Padi Dipastikan Tetap Surplus

KANALSATU - Jawa Timur memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan nasional setelah produksi padi pada semester pertama 2026 diproyeksikan naik lebih dari 5 persen. Kenaikan produksi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menembus pasar ekspor beras dunia.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan surplus beras daerah tetap terjaga di tengah ancaman perubahan iklim dan gejolak pangan global.

Dalam Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat (8/5/2026), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan Jawa Timur tidak hanya fokus menjaga ketahanan pangan, tetapi juga menargetkan kedaulatan pangan berkelanjutan.

“Suplai beras Jawa Timur saat ini optimistis cukup hingga tahun depan. Ini menjadi sinyal positif untuk peluang ekspor beras,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Jawa Timur periode Januari–Juni 2026 diperkirakan mencapai 6,62 juta ton gabah kering giling (GKG), naik sekitar 5,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara sepanjang 2025, Jawa Timur mencatat produksi padi sebesar 10,44 juta ton GKG dari luas panen 1,84 juta hektare, atau meningkat 12,6 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi tersebut didorong percepatan masa tanam, penggunaan benih unggul tahan kekeringan, hingga modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan).

Pemprov Jawa Timur kini memperluas penggunaan teknologi pertanian seperti drone sprayer, combine harvester, transplanter, dan rotavator untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan potensi gagal panen.

Modernisasi pertanian juga diarahkan untuk menarik minat petani muda agar tetap bertahan di sektor pangan.

“Teknologi pertanian saat ini lebih dekat dengan generasi muda sehingga sektor pertanian bisa menjadi peluang masa depan,” kata Khofifah.

Selain penguatan teknologi, pemerintah juga mempercepat rehabilitasi irigasi, pompanisasi, serta sistem mitigasi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) guna menjaga stabilitas produksi.

Plh Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI Tin Latifah menegaskan Jawa Timur menjadi kontributor utama target tanam nasional.

Hingga Mei 2026, Jawa Timur telah merealisasikan sekitar 238 ribu hektare lahan tanam dari target nasional 1,7 juta hektare.

“Kami yakin target peningkatan produksi padi Jawa Timur sebesar 5 persen dapat tercapai jika mitigasi kekeringan dan serangan hama berjalan optimal,” ujarnya.

Sebagai salah satu sentra utama produksi pangan, Kabupaten Madiun pada 2025 mencatat produksi mencapai 480 ribu ton GKG dengan produktivitas rata-rata 5,8 ton per hektare.

Dalam kegiatan tersebut, pemerintah juga menyerahkan bantuan alsintan kepada kelompok tani untuk mempercepat masa tanam dan memperkuat produktivitas pertanian daerah.
(KS-9)

 

Komentar