Rhoma Irama, Why Not ?

Oleh: Dhimam Abror Djuraid (Kolumnis)

Rhoma Irama for President

(WIN) : - Beberapa hari yang lalu kita baru disuguhi sebuah pertunjukan politik spektakular di Amerika Serikat pada panggung pemilihan presiden negeri adidaya  itu. Sang inkumben, Barrack Obama--yang tetap berpasangan dengan  Wakil Presiden Joe Biden--memenangkan pertandingan melawan penantangnya Mitt Romney yang berpasangan dengan Paul Ryan.

Persaingan itu amat sangat ketat, neck to neck alias dari leher ke leher untuk menggambarkan ketatnya pertempuran. Kemenangan baru dipastikan pada detik-detik terakhir karena suara masih sama-sama kuat pada detik-detik sebelum pemilihan. Obama menang dengan perolehan suara popular yang tidak lebih dari satu persen. Sungguh sebuah pertarungan yang sangat menegangkan. Obama telah mencatat sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat. Dan ia sekaligus mengukir rekor sebagai presiden kulit hitam yang bisa memerintah Amerika selama dua periode.

Ketika kali pertama Obama muncul di panggung politik Amerika menjelang pemilu presiden 2008 banyak alis yang terangkat mempertanyakan kapabilitas dan kapasitasnya. Obama tidak terlalu dikenal di dunia politik. Ia sekadar dikenal sebagai aktifis sosial di lingkungan yang terbatas. Lawan yang dihadapi dari internal Partai Demokrat ketika itu tidak tanggung-tanggung, yaitu Hillary Clinton, mantan first lady dua periode mendampingi suaminya, Bill Clinton. Orang umum sudah tahu Hillary-lah sebenarnya presiden Amerika di balik layar pada era Clinton itu. Dia memang cerdas dan punya kemampuan politik mumpuni.

Tapi, ternyata Obama  bisa mengalahkan Hillary memenangkan nominasi Demokrat untuk kemudian memenangkan kepresidenan dan mencatat dirinya dalam sejarah sebagai presiden kulit hitam pertama.

Itulah politik. The Art  of Possibilities, seni mengenai segala hal yang mungkin. Apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin dan yang mungkin bisa menjadi sebaliknya. Itulah politik.

Maka, message saya, jangan remehkan Rhoma Irama. Mungkin Anda tersenyum geli ketika mendengar Rhoma mengumumkan siap—atau tepatnya kepingin—mencalonkan dirinya menjadi presiden. Dan Anda tertawa geli untuk kedua kalinya ketika saya sebutkan jangan remehkan Rhoma. Tetapi, sekali lagi; ini politik. Kalau ada malaikat lewat, bisa saja pada 2014 kita punya Presiden Rhoma Irama. Dan, seperti Obama, Rhoma Irama akan mengukir sejarah sebagai penyanyi dangdut pertama yang menjadi presiden Indonesia.

Orang yang jahil dan usil sudah menyerang Rhoma dengan serentetan serangan gencar. Seorang pengamat politik menyebut Rhoma Irama tidak punya kapabilitas untuk menjadi seorang presiden. Bahkan ada yang terang-terangan melecehkan Rhoma dengan menyebutnya tidak tahu diri.

Saya penggemar lagu-lagu Rhoma. Tetapi belum tentu saya mendukung Rhoma dalam pilpres mendatang. Meski demikian, saya mendukung sepenuhnya hak konstitusinya untuk mencalonkan sebagai presiden.

Soal kapabilitas dan kapasitas, itu soal lain, karena sampai sekarang pun tidak ada mekanisme yang mengharuskan seorang calon presiden, calon gubernur, dan calon bupati/walikota untuk mengikuti tes kapabilitas atau kapasitas. Kita tahu betapa banyak bupati-walikota yang tidak jelas latar belakang pendidikannya. Betapa banyak gubernur, menteri, anggota parlemen yang hanya menang nasib.

Sebagai seorang musisi, Rhoma Irama adalah seorang jenius. Ia konsisten dengan karya-karyanya selama puluhan tahun. Sebagai pendakwah, Rhoma juga menunjukkan konsistensi sikap yang istiqamah. Soal pengalaman politik, Rhoma juga sudah pernah menjadi anggota parlemen pada masa Orde Baru.

Memang itu belum cukup untuk menjadi ukuran kapabilitas dan kapasitas.

Sistem pemilihan presiden di Amerika yang melewati proses konvensi yang panjang dan melelahkan, akan memastikan bahwa dua pasangan yang akan berhadapan di final betul-betul mempunyai kapabilitas dan kapasitas serta kualitas. Bahkan, calon inkumben-pun harus melewati proses yang sulit untuk memperoleh nominasi. Debat publik yang dilakukan secara terbuka betul-betul mengetas kecerdasan dan kemampuan otak sang capres. Kalau terpeleset di debat publik, tamatlah riwayat sang capres.

Siapapun yang mampu melewati prose situ dia akan mempunyai jalan lebar untuk mencapai puncak. Amerika sudah pernah punya presidenn selebritis. Dialah Ronald Reagan, seorang bintang film Hollywood. Karir selebritasnya biasa-biasa saja. Tapi ketika menjadi presiden ternyata dia hebat dan bisa mewarnai sejarah politik Amerika. Kita juga mengenal bintang film koboi Clint Eastwood yang pernah menjadi walikota. Dan juga bintang laga berotot Arnold Schwarzenegger yang ternyata cukup cerdas dan pintar ketika menjadi gubernur California.

Di Indonesia tidak ada proses konvensi. Konvensi tidak dikenal di sini. Kalau toh ada itu sekadar aksesoris politik saja. Debat publik juga sekadar formalitas yang kosong isinya. Tidak heran kalau semua bacapres yang muncul adalah bacapres selebritis belaka.

Tengoklah pilgub Jawa Barat sekarang. Susah kita bedakan, apakah ini kontes politik atau kontes selebritas. Semua pasangan yang muncul digandengkan dengan artis sinetron untuk sekadar mendongkrak popularitas dan mengelabui rakyat pemilih terhadap kelemahan kapabilitas dan kapasitas.

Pada pilpres 2014 pun situasinya akan sama denganpilgub Jabar; akan bermunculan calon-calon selebritas. Kalau bukan selebritas asli seperti Rhoma Irama, setidaknya calon-calon presiden yang muncul nanti pasti adalah selebritas media. Mereka adalah orang-orang yang muncul ke permukaan karena menjadi selebritas yang diciptakan oleh media. Atau, mereka menciptakan dirinya menjadi selebritas dengan memanipulasi media. Soal kapabilitas dan kapasitas, calon-calon yang bakal muncul pada 2014 nanti, kelihatannya, sama saja kelasnya dengan Rhoma Irama. Jadi, biarkan Rhoma Irama muncul. Biarkan calon-calon lain juga muncul. (*)

Komentar