Azwar Anas, gencar promosikan daerah lewat olahraga

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

(WIN): Di awal November kemarin, publik Banyuwangi mendapatkan tontotan gratis balap sepeda internasional bertajuk Banyuwangi Tour de Ijen (BTdI) 2013. Setidaknya ada 20 tim balap sepeda yang tampil di even ini. Yakni, 14 tim asing dan 6 tim dalam negeri.

Dalam kejuaraan yang menelan APBD sekitar Rp4 miliar ini, para pembalap dituntut menempuh jarak sejauh 606,5 kilometer yang terbagi dalam empat etape. Untuk etape pertama melombakan "circuit race" di dalam kota Banyuwangi dengan jarak tempuh 129,9 kilometer atau sebanyak 12 putaran.

Etape kedua dimulai dari depan Stadion Garuda Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, menuju kawasan objek wisata Pantai Pulau Merah dengan jarak tempuh 189,6 kilometer. Lalu etape ketiga melalui rute Kecamatan Jajag-Genteng sepanjang dengan jarak tempuh 115,7 kilometer. Selanjutnya etape keempat dengan rute tanjakan dari Kalibaru-Kawah Ijen sejauh 171,3 kilometer.

Gelaran BTdI tahun ini merupakan kali kedua, dimana yang pertama berlangsung pada 2012. Pada gelaran perdana, BTdI hanya digelar tiga etape. Rutenya pun nyaris sama dengan gelaran tahun ini, bedanya pada gelaran perdana tidak melombakan “circuit race”.

Memang BTdI bukan satu-satunya kejuaraan balap sepeda internasional di Tanah Air. Masih banyak even serupa seperti Tour de East Java, Tour de Singkarak dan sebagainya. Namun BTdI sedikit berbeda dengan kejuaraan balap internasional lain di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi sengaja menggelarnya bukan sekadar untuk menggairahkan olahraga balap sepeda. Melainkan ada misi lain yang diusung, yakni, mempromosikan Banyuwangi di dunia internasional. Menarik memang gagasan yang dicetuskan Pemkab Banyuwangi yang kini dipimpin Bupati Abdullah Azwar Anas.

Sebenarnya, daerah di ujung Timur Pulau Jawa berjuluk “The Sunrise of Java” itu sudah memiliki even yang berfungsi sebagai ajang promosi daerah. Yakni, Banyuwangi Festival yang rutin digelar setiap tahun. Dalam even tersebut, Pemkab Banyuwangi mencoba menampilnya semua potensi yang ada di daerahnya. Mulai dari seni budaya, periwisata, produk lokal dan keragaman lainnya yang dikemas dalam satu acara.

Demi menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, Pemkab Banyuwangi pun mencoba memadukan keragaman lokal dengan kebudayaan dari luar. Misalnya Bayuwangi Jazz Festival, yang mengundang sejumlah artis ternama. Kemudian agar lebih menarik, lokasi pertunjukannya dilakukan di tepi pantai.  

Tapi Azwar Anas nampaknya belum puas dengan apa yang dilakukan. Sepertinya, mantan anggota MPR RI termuda periode 1997-1999, dimana ketika itu usianya masih 24 tahun, tak ingin sekadar menyajikan pertujukan kepada wisatawan. Lebih dari itu, Anas mencoba untuk melibatkan langsung wisatawan yang berkunjung dalam acara yang digelar.

Kemudian dipilihlah olahraga sebagai sarana. Efektif memang cara yang digunakan, karena orang yang semula datang ke Banyuwangi untuk berkompetisi akhirnya bisa mengenal lebih dalam. Betapa tidak, saat berkompetisi para peserta bisa sekaligus menyaksikan keindahan alam Banyuwangi. Karena rute dalam BTdI sengaja dibuat dengan melewati sejumlah destinasi pariwisata di Banyuwangi.

Misalnya pada etepa II BTdI 2013, para pembalap bersama kru diajak menuju obyek wisata Pantai Pulau Merah. Di sepanjang perjalanan, semua yang mengikuti jalannya perlombaan bisa menyaksikan pemandangan hamparan sawah dan pedesaan di Banyuwangi yang asri dan alami. Sesampai di garis finish, para pembalap diajak untuk melepas bayi penyu yang banyak hidup di sekitar Pulau Merah dan berhadapan langsung dengan Pantai Selatan.

Begitu pula di etape IV, semua peserta BTdI 2013 ganti diajak menuju ke Kawah Gunung Ijen. Kali ini, semua yang ikut dalam balapan lebih dimanjakan dengan pemandangan hutan yang masih alami dengan selingan perkebunan. Para pembalap pun ditantang menaklukkan tanjakan sebelum akhirnya tiba di kawasan Kawah Ijen.

Pengalaman itulah yang diharapkan Anas agar bisa menjadi “bekal” pulang para peserta BTdI, untuk selanjutnya diceritakan kepada orang terdekat yang lantas bisa memicu untuk berkunjung ke Banyuwangi. Terlebih letak geografis Banyuwangi berdekatan dengan Bali, yang bisa dicapai dengan menyeberang menggunakan kapal.

Atau bisa dicapai dengan jalur udara mengingat sudah beroperasinya lapangan udara di Banyuwangi. Infrastruktur itulah yang memudahkan para wisatawan menuju Banyuwangi. Bukan hanya dari Bali, tetapi juga bisa dijangkau dari daerah-daerah lainnya.

Bicara soal infrastruktur, Pemkab Banyuwangi gencar melakukan pembangunan dan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Diantaranya gelaran BTdI 2012 yang menyedot APBD Banyuwangi mencapai Rp16,2 miliar. Dari total dana, yang digunakan untuk mendanai even balap sepeda hanya Rp2 miliar.

Kemudian Rp14,2 miliar sisanya dimanfaatkan untuk membiayai infrastruktur jalan dengan panjang total 300 kilometer. Khususnya infrastruktur jalan menuju destinasi wisata yang masuk dalam rute BTdI. Dimana sebelumnya akses jalannya buruk sehingga kurang menarik wisatawan.

Perbaikan jalan yang dapat dilihat jelas diantaranya akses menuju Kawah Ijen. Di tempat tersebut, sebuah bukit sengaja dikepras demi memudahkan akses menuju Puncak Kawah Ijen. Jadi, jalan tanjakan yang dilalui melewati diantara bukit yang keruk. Titik inilah yang kerap menjadi sasaran jurnalis foto dalam menggambil gambar pembalap yang bertanding di BTdI.

Gelaran balap bertajuk BTdI pun sempat mendapat pujian dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo. Saat membuka BTdI 2013, Roy menyatakan balap sepeda di Banyuwangi lebih “hebat” dari Tour de Singkarak. Bahkan menpora berharap Tour de Singkarak yang dulu digagas Kementrian Pariwisata bisa mandiri seperti BTdI. Khususnya dari segi pendanaan, dimana Tour de Singkarak masih disokong APBN, sementara BTdI merupakan swadaya Pemkab Banyuwangi sendiri.

Balap sepeda bukan satu-satunya olahraga yang dimanfaatkan Azwar Anas dalam mempromosikan Banyuwangi di dunia internasional. Pada Mei 2013, warga disekitar Pantai Pulau Merah dihibur aksi peselancar lokal maupun mancanegara. Setidaknya ada surfer dari 18 negara yang tampil dalam kejuaraan bertajuk Banyuwangi Internasional Surf Competition 2013.

Dengan adanya even ini, Pemkab Banyuwangi sekaligus ingin memberdayakan masyarakat pesisir. Terlebih keberadaan Pulau Merah cukup jauh dari pusat kota. Sehingga sangat sulit ditemui hotel atau penginapan maupun tempat hiburan lainnya.

Maka dari itulah, Pemkab Banyuwangi memanfaatkan rumah warga sebagai tempat tinggal peserta lomba, dan ini merupakan salah satu model penerapan eco-tourism. Kemudian demi memanjakan para pengunjung, rumah warga lengkapi jaringan internet dengan layanan Wi-Fi. Bahkan, Pemkab Banyuwangi rela mengajari warga pesisir bagaimana memasak atau membakar ikan agar nantinya bisa menyambut para wisatawan.

Demikian diantara upaya Azwar Anas dalam mempromosikan destinasi wisata di wilayahnya, khususnya Kawah Ijen dan Pulau Merah. Ide tokoh Nahdlatul Ulama ini memang cukup cemerlang. Sekarang tinggal menunggu gebrakan apa lagi yang bakal dilakukan sang bupati dalam mempromosikan daerahnya.

Destinasi pariwisata di Banyuwangi dengan karakteristik yang beragam pun cukup menunjang untuk menggelar berbagai even yang unik menarik. Seperti lomba memancing, berburu ataupun even-even lainnya.(win6)

Komentar