Abraham Samad, tak ingin jadi Presiden

WIN: Tokoh ini usianya masih muda, penampilannya tenang, dan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah kepemimpinannya menunjukkan performance yang bagus. Puncaknya, KPK menangkap basah Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar karena suap.

Sehingga wajar saja jika banyak pihak (kebiasaan publik Indonesia) menginginkan tokoh ini dicalonkan sebagai presiden atau wakil presiden. Dia adalah Abraham Samad, yang sebelumnya hanya seorang pengacara. Bahkan, kabarnya, salah satu partai politik menawarinya sebagai wapres, disandingkan dengan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi).

Tapi apa jawaban pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 27 November 1966 ini saat ditanya wartawan, “Pertama, saya bercita-cita jadi ketua RW saja, tidak jadi presiden,” kata Abraham di Jakarta, Kamis (5/12/13).

Abraham juga menegaskan, alasannya tidak tertarik menjadi presiden karena ingin berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya di KPK. “Masih banyak kasus korupsi yang harus ditangani. Tapi kalau saya diminta, maka saya hanya mau jadi ketua RW saja," tandasnya sambil tertawa.

Abraham Samad, menurut Wikipedia,  meyelesaikan pendidikan Sarjana (Strata 1/S1) di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH Unhas). Sejak lulus kuliah, Samad aktif bergabung dengan kegiatan atau gerakan yang mengkritisi praktek korupsi. Kemudian melanjutkan sekolah program Magister (Strata2/S2) juga di bidang hukum di universitas yang sama, yakni Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kemudian melanjutkan program Doktor (S3) juga di Universitas Hasanuddin, Makassar. Gelar Doktor diraihnya pada tahun 2010 dengan tesis tentang pemberantasan korupsi, yaitu mengupas penanganan kasus korupsi di pengadilan negeri dengan pengadilan khusus

Sejak tahun 1996, Abraham Samad sudah melakoni profesi sebagai advokat (pengacara). Juga medirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang diberi nama Anti Coruption Committee (ACC). LSM ini bergerak dalam kegiatan pemberantasan korupsi, seperti melakukan kegiatan pembongkaran kasus-kasus korupsi, setidaknya di lingkup Sulawesi Selatan. ACC memiliki tujuan mendorong terciptanya sistem pemerintahan yang baik, serta sistem pelayanan publik yang maksimal.

Sebelum terpilih menjadi Ketua KPK, Abraham Samad pernah mendaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Komisi Yudisial, namun gagal. Sehingga dia memutuskan untuk mengikuti seleksi calon pimpinan KPK. Seleksi capim KPK 2011 sebenarnya bukanlah hal baru bagi Abraham, karena ia sebelumnya sudah pernah mendaftar (sebanyak) dua kali. Pada ketiga kalinya inilah Abraham bisa melewati seleksi hingga tingkat akhir (uji kelayakan dan kepatutan oleh DPR).

Abraham bersama 8 calon (sebelumnya 10 calon) diajukan oleh Pansel KPK yang diketuai oleh Menkumham Patrialis Akbar dimana Abraham menempati peringkat kelima dari seluruh calon yang diajukan.

Pada 3 Desember 2011, melalui voting pemilihan Ketua KPK oleh 56 orang dari unsur pimpinan dan anggota Komisi III asal sembilan fraksi DPR, Abraham mengalahkan Bambang Widjojanto dan Adnan Pandu Praja. Samad dan jajaran pimpinan KPK lain resmi dilantik di Istana Negara oleh Presiden SBY pada 16 Desember 2011.(win5)

Komentar