IPTEK tak harus mahal

(WIN): Di Indonesia, penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dalam dunia olahraga terbilang belum lazim. Para pelaku olahraga cenderung sekadar melakukan latihan demi menggapai prestasi. Hasilnya, sebuah prestasi memang bisa tercapai. Namun dibalik itu tak jarang muncul persoalan baru.
Seperti atlet yang fisiknya rusak setelah pensiun lantaran tak begitu memperhatikan pola makan dan suplemen yang dikonsumsinya. Atau bahkan seorang atlet mengalami cidera parah karena beban latihan yang diterima terlalu berat. Guna mencegah itu semua, peran IPTEK sangat dibutuhkan.
Guru besar ilmu keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Profesor Toho Cholik Muthohir, MA, Ph.D menyatakan, IPTEK merupakan bagian dari dunia olahraga yang tak terpisahkan. Bukan hanya untuk meningkatkan prestasi, tetapi juga berfungsi sebagai pencegah kemungkinan terburuk pada pelaku olahraga.
“Prestasi tanpa IPTEK bisa timbulkan malapetaka. Karena latihan dengan pemberian beban berat terus menerus akan merusak,” kata Toho saat menjadi pembicara dalam seminar bertema `IPTEK & Peningkatan Prestasi Olahraga` di Hotel Sahid Surabaya, Sabtu (21/12/13).
Berdasarkan study banding yang dilakukannya di sejumlah negara maju, justru peran IPTEK sangat memudahkan para pelaku olahraga dalam menghadapi sebuah kejuaraan atau kompetisi. Misalnya, penerapan Climate Chamber di Astralia. Dengan perangkat tersebut, sebuah ruangan bisa diatur suhu udara dan kadar oksigen sesuai yang diinginkan.
Climate Chamber sangat membantu para atlet jika harus bertanding di dataran tinggi dengan suhu rendah ataupun di dataran rendah dengan suhu tinggi. Seorang atlet tidak perlu datang langsung ke lokasi demi melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan, melaikan cukup berlatih dalam sebuah ruangan.
Metode inilah yang coba diadopsi KONI Jawa Timur dalam menyongsong PON XIX 2016 Jawa Barat. Pasalnya, ada beberapa cabang olahraga (cabor) kemungkinan digelar di dataran tinggi yang ketinggiannya mencapai 1.000 meter dari permukaan air laut.
KONI Jawa Timur sadar, bila hal itu tak diantisipasi maka bakal berpengaruh terhadap performa atlet. Karena saat berlatih di Jawa Timur, suhu udara dan kadar oksigennya cenderung lebih tinggi dibanding lokasi pertandingan nantinya.
Dari apa yang dipaparkan di atas, tak bisa dipungkiri penerapan IPTEK dalam dunia olahraga butuh dana yang tidak sedikit. Sebab penerapannya menggunakan teknologi canggih. Prof. Toho pun tak memungkiri perlunya dukungan dana yang cukup dalam penerapan IPTEK di dunia olahraga.
Faktor inilah yang mungkin menjadi sebab utama kenapa penerapan IPTEK di dunia olahraga belum familiar di Indonesia. Hampir sebagian besar daerah di Indonesia kesulitan finansial, akhirnya mereka sekadar melakukan latihan demi menggapai prestasi.
Namun, anggapan itu dibantah dokter Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 dr. Alfan Nur Asyhar yang juga menjadi pembicara dalam acara seminar. Menurutnya, penerapan IPTEK dalam dunia olahraga tidak selalu identik dengan infrastruktur atau sarana prasarana modern. “Selama ini orang berpikirnya IPTEK itu selalu berhubungan dengan infrastruktur modern, padahal tidak,” ujar Alfan.
Pada kesempatan itu, Alfan membeber `dapur` Timnas Indonesia U-19. Berawal dari proses seleksi pemain, dengan penerapan IPTEK sederhana ditemukan beragam persoalan. Diantaranya ada pemain yang sebenarnya memiliki kemampuan di atas rata-rata tapi ternyata mengidap Hepatitis B. “Ini terjadi saat training center (TC) di Yogyakarta, sekitar 3,5 bulan sebelum Piala AFF U-19 2013. Akhirnya pemain dicoret karena bisa membahayakan yang lain,” terangnya.
Persoalan lainnya, sekitar 50% atlet nilai hemoglobinnya di bawah 12,5 g/dl. Sementara hemoglobin standar atlet harus minimal 15g/dl, karena ini menyangkut oksigen yang terangkut dalam tubuh. Setelah dicek ternyata penyebabnya sebagian besar adalah atlet tidak pernah sarapan pagi.
Ditemukan pula 90% pemain Timnas U-19 mengidap bibit typus dan 50% mengidap bibit maag, yang disebabkan pola makan tidak sehat. Persoalan-persoalan seperti ini yang juga perlu ditangani dengan IPTEK agar para pemain bisa tampil maksimal.
“Kalau persoalan seperti ini hanya perlu kepatuhan dan kedisiplinan. Maklum, sebagian besar pemain berasal dari kampung. Jadi mereka tidak tahu apa yang konsumsinya itu sehat atau tidak, ini yang perlu diatur,” paparnya.
Selanjutnya melangkah para proses TC. Sepanjang menjalani program latihan, pemain Timnas U-19 diwajibkan melakukan krioterapi. Yakni, beredam pada air suhu normal, suhu dingin dan hangat secara bergantian sesaat setelah melakukan proses latihan. Idealnya, krioterapi dilakukan pada kolam besar agar pemain bisa sekaligus melakukan gerakan-gerakan relaksasi.
“Cara seperti ini biasa dilakukan tim-tim sepakbola di Eropa. Begitu masuk ruang ganti, mereka disediakan tiga kolam besar berisi air. Tapi karena di Indonesia belum ada sarananya, bisa dilakukan dengan bak atau tong yang diisi air,” ungkapnya.
Pernah dianggap gila saat terapkan krioterapiKrioterapi yang diterapkan Alfan kepada skuad Timnas U-19 sempat menuai cibiran. Tak terkecuali dari seorang pelatih sepakbola tingkat nasional. “Ada pelatih yang bilang kepada pemain kalau saya ini gila. Karena setelah main atau latihan dalam kondisi tubuh masih panas langsung suruh masuk ke air,” terang Alfan.
Karena memang mitos yang berkembang di masyarakat Indonesia, seseorang yang habis melakukan aktivitas olahraga tidak boleh mandi atau masuk ke air karena bisa masuk angin. Padahal pemikiran tersebut salah besar.
Dijelaskan Alfan, mestinya orang yang selesai melakukan aktivitas olahraga dengan kondisi tubuh masih panas perlu segera didinginkan. Bisa dengan meminum air dingin atau dengan berendam dalam air seperti krioterapi.
Disamping untuk menurunkan suhu tubuh, cara tersebut juga berfungsi melokalisir jika saja terjadi cidera saat melakukan aktivitas olahraga. “Orang biasanya kalau cidera atau memar malah dikasih balsem atau sejenisnya, itu salah. Karena jaringan yang rusak dikasih panas akan malah melebar,” katanya.
Hal itu berbeda ketika orang melakukan krioterapi, dimana cidera yang dialami tidak sampai melebar dan bisa cepat sembuh. “Karena setelah terkena dingin, terus kena hangat, pembuluh darah itu seperti ditiup, aliran darah bisa sampai ke jaringan otot yang rusak,” urainya.
Bukan hanya cibiran dari luar, krioterapi sendiri sempat menuai protes dari para pemain Timnas U-19. Tapi sekarang mereka sudah bisa merasakan manfaatnya. “Kalau dulu pertanyaannya (pemain), apa harus krioterapi? Tapi sekarang sudah berbalik, apa nanti ada krioterapi? Karena mereka sudah merasakan, kalau sekadar cidera engkel besok sudah bisa main lagi,” kata Alfan.
Oralit penting bagi atletSatu lagi penerapan IPTEK murah dalam dunia olahraga yang diungkap Alfan adalah mengkonsumsi oralit. Selama ini, oralit hanya dikenal sebagai obat sakit perut. Namun cairan tersebut akan mendatangkan manfaat berlebih bila dikonsumsi seorang atlet.
Bukan hanya mencegah dehidrasi, tetapi juga bermanfaat mencegah kram otot sepanjang menjalankan aktivitas. “Kalau di Timnas U-19, pemakaiannya sebelum, saat dan sesudah latihan atau bermain,” ujar Alfan.
Tak bisa dipungkiri, dehidrasi bisa menjadi persoalan serius bagi seorang atlet. Mereka bisa kehilangan cairan dalam jumlah besar saat melakukan aktivitas. Dimana hilangnya cairan tersebut tak sebanding dengan kemampuan seseorang dalam memasukkan cairan dalam rentan waktu yang sama. Efeknya, atlet sulit tidur dan sebagainya usai bertanding.
Awalnya, para pemain Timnas U-19 enggan mengkonsumsi oralit karena mengiranya sebagai doping. Tapi setelah diberi penjelasan, akhirnya mereka mau. “Dulu ada juga wartawan yang mengira doping, padahal oralit. Kan murah, malah sekarang ada yang rasa jeruk. Tapi lebih enak dikonsumsi,” pungkas Alfan.(win6)