Mao Tse Tung, pendiri Republik Rakyat Cina

BEIJING (WIN): Tokoh utama dalam cerita perpolitikan modern Cina, Mao Zedong atau juga dikenal dengan sebutan Mao Tse Tung dilahirkan pada 26 Desember 1893 di sebuah keluarga petani di Shaoshan, Proivinsi Hunan, Cina tengah.
Secara khusus BBC London menuliskan dalam ulasan history-nya yang dikutip Senin (23/12/13) terkait sosok pemimpin Komunis Cina itu. Dalam usalannya itu BBC menyebutkan setelah mendapat pendidikan sebagai guru, dia pindah ke Beijing dan bekerja di sebuah perpustakaan universitas di ibukota itu.
Sementara itu, pada masa itulah Mao mulai membaca buku-buku tentang ajaran Marxisme dan 1921 mendirikan Partai Komunis Cina, PKC.
Seperti diberitakan selama 2 tahun kemudian, PKC bersekutu dengan Partai Nasionalis Kuomintang untuk mengalahkan para panglima perang yang menguasai sebagian kawasan di Cina utara.
Lebih jauh disebutkan namun persekutuan keduanya pecah 1927 dan pemimpin Kuomintang, Chiang Kai-shek, melancarkan perjuangan melawan komunisme.
Lebih detail diceritakan bahwa sosok Mao dan para pengikutnya mengundurkan diri ke Cina tenggara dan sempat dikepung oleh Kuomintang.
Pada 1934, Mao Tse Tung atau juga dikenal Mao Zedong memimpin para pengikutnya untuk melakukan Pawai Panjang dengan berjalan kaki sejauh 6.000 mil ke kawasan barat laut yang berakhir di Shaanxi.
Selanjutnya Komunis PKC dan Nasionalis Kuomintang kembali bersekutu selama 8 tahun melawan Jepang namun keduanya bersengketa lagi pada akhir Perang Dunia Kedua.
Pada kontek lain, kali ini Komunis yang menang dan pada 1 Oktober 1949, Mao mendirikan Republik Rakyat Cina sementara Chiang Kai-shek lari ke Pulau Taiwan atau lebih dikenal sebagai pulau Formosa untuk tetap melanjutkan Pemerintahan Nasionalis Republik Cina yang dimotori Partai Nasionalis Koumintang dengan tetap mengklaim juga sebagai penguasa Pemerintahan Cina yang berwilayah Cina daratan dan pulau Formosa .
Disisi lain, Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat Cina pada 1949 dan mengklaim juga sebagai penguasa Pemerintah Cina yang beribukota di Beijing dengan wilayah meliputi Cina daratan dan pulau Formosa .
Dengan kondisi ini dalam disiplin ilmu Hubungan Internasional dikenal sebagai Konsep dan Teori One Country Two System atau juga dikenal dengan konsep kebijakan politik internasional Satu Cina- Dua Pemerintahan.
Lebih dalam disebutkan bahwa di bawah republik barunya, Mao menjalankan yang oleh para ahli sejarah disebut sebagai eksprimen sosial, antara lain dengan Lompatan Jauh ke Depan pada 1958. Gerakan itu ditujukan untuk mengerahkan rakyat ke dalam pertanian komunal namun hasilnya justru kelaparan yang menyebabkan jutaan tewas.
Secara khusus kredibilitas Mao sempat menurun karena kegagalan itu dan sebagai upaya untuk memulihkan otoritasnya, dia menjalankan progam lain yang disebut Revolusi Kebudayaan pada 1966.
Namun pada kenyataannya memperlihatkan bahwa upaya untuk 'membersihkan' masyarakat dari semangat nonrevolusiner ini juga gagal dengan korban jiwa sekitar 1,5 juta orang dan hancurnya warisan-warisan budaya. Perlawanan marak di beberapa tempat namun Mao berhasil mengendalikannya dengan mengerahkan Tentara Merah.
Disisi lain, Mao akhirnya tampak muncul sebagai pemenang dan masih sempat berupaya menjalin hubungan dengan Amerika Serikat, Jepang, serta Eropa yang antara lain berpuncak pada kunjungan Presiden AS, Richard Nixon, pada 1972.
Namun kesehatannya memburuk dan empat tahun kemudian, pada 9 September 1976, Ketua Mao meninggal dunia. (win7)