Membandingkan Kesenian
Akbar Faizal, kolomnis

WIN.com: Seorang pelukis Jakarta yang belum terlalu terkenal pernah salah tingkah di Bali. Ceritanya begini. Dalam sebuah diskusi kecil di Art Centre Bali, si pelukis yang belum terlalu terkenal, sebutlah namanya si A, mencoba pamer diri dengan berceloteh panjang lebar tentang polemik yang berkembang diantara para pelukis dan kritikus seni di Jakarta. Ia dengan sangat fasih mengupas, lebih tepatnya memaki-maki, karya berikut paham yang dianut oleh beberapa perupa di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Sesekali ia juga menyebut nama-nama maestro seni rupa dunia semacam Salvador Dali atau Picasso.
Para seniman dan perupa Bali yang hadir di situ membiarkannya ngomong ngalor-ngidul. Sayangnya, si A tadi tak mengerti jika audience-nya sudah bosan. Lalu Made Supena, pelukis muda berbakat Bali yang berani menabrak rambu-rambu seni rupa tradisional Bali memotong; “Maaf, kami tak peduli paham senirupa apa yang berkembang di sana. Kami di sini sibuk berkarya. Bulan depan saya pameran di Perancis,” katanya. Si A terdiam seribu bahasa.
Polemik atau bergesekan ide sangat wajar dan perlu. Dari proses ini akan lahir sebuah kematangan ide yang cemerlang dan tentu saja akan menghasilkan karya yang cemerlang pula. Para seniman Bali, baik ia perupa, sastrawan atau penyair, tak pernah membiarkan diri atau komunitas kesenian mereka terjebak pada dialog atau polemik yang pada akhirnya membuat mereka lelah dan tak mampu menghasilkan karya yang cemerlang. Proses pencarian dilakukan secara bersamaan; polemik, debat atau dialog sekaligus berkarya.
Sebenarnya, dunia kesenian Bali menghadapi ancaman yang luar biasa besarnya. Senirupa misalnya, menghadapi problem serius, khususnya pemahaman tentang perlu tidaknya style Bali “dilanjutkan”. Jawabannya tentu saja “perlu”. Kenyataannya, seni rupa model Karmasan, Ubud atau model Denpasar sudah tidak diminati lagi oleh para perupa generasi belakangan Bali. Bahkan beberapa diantaranya mengaku tak mengenal model atau gaya Karmasan (nama salah satu daerah dekat Ubud yang juga kantong seni rupa tradisional Bali).
Mereka lebih tertarik mengikuti permintaan pasar yang lebih berorientasi ke paham surealis atau realis. Keadaan ini diperparah oleh para kurator dan galeri yang nyata-nyata berorientasi bisnis dan menghambakan diri kepada pasar (baca: keinginan wisatawan yang lebih menyukai aliran surealis). Tidak semua memang. Misalnya, Ida Bagus Made, seorang maestro seni rupa Bali yang juga sahabat Bung Karno, menolak karyanya dikomersilkan. Namun sangat sedikit yang mengambil sikap seperti Ida Bagus Made.
Dunia teater boleh sedikit berbangga, sebab beberapa insan teaternya masih berkeras menggali dan mengusung akar budaya mereka ke atas pentas. Tapi tak sedikit diantaranya yang juga mulai merambah “dunia gelap” seperti apa yang dilakukan Ram Prapanca yang demikian terbuai oleh pemahaman Afrizal Malna.
Namun satu hal yang perlu dicatat bahwa dunia kesenian tak mereka ninabobokan dalam buaian polemik dan pertengkaran yang kadangkala sangat kekanak-kanakan seperti yang berlangsung hingga hari ini di Makassar. Saat Majelis Pertimbangan Budaya (Listibya) Bali yang didudukkan sebagai nafas atau induk atau motor kegiatan kesenian Bali (semacam DKSS di Sulawesi Selatan) tak lagi berjalan sesuai fungsinya, mereka menggugat untuk selanjutnya masa bodoh ada atau tidaknya Listibya.
Mulailah tumbuh kesadaran baru bahwa dalam beberapa hal kesenian tak perlu dilembagakan. Kantong-kantong kesenian, bahkan di desa-desa tumbuh dengan subur. Demikian suburnya, sehingga beberapa seniman memerlukan arena baru untuk menyampaikan visi dan misi kesenian mereka. Salah satunya adalah Komunitas Kesenian Tengah Sawah yang memang “bermarkas” di sebuah pondok di tengah sawah di pinggir Kota Denpasar. Siapa saja boleh datang. Baca puisi atau sekedar mendengarkan “kesenian” yang lainnya.
Tak tepat juga sebenarnya jika dikatakan seniman Bali sama sekali tak peduli dengan paham atau “perdebatan” kesenian yang berkembang di luar. Motivator atau lebih tepatnya Suhu penyair Bali yang puluhan tahun bermukim di Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi, berjibaku dengan manajemen korannya, Bali Post, mempertahankan halaman budayanya dari sebuah iklan. Namun jika diprosentasekan, kolom untuk puisi misalnya lebih banyak dibandingkan kolom untuk “kecerewetan” seni apalagi yang berbau provokasi kesenian. Demikian halnya dengan Harian NUSA Tenggara yang penulis asuh saat masih bekerja di koran milik Bakrie Grup ini.
Demikianlah, saya kaget dan geleng-geleng kepala ketika membaca polemik Sdr. Halim HD dan Sdr. Karta Jayadi di Harian FAJAR beberapa waktu lalu. Masalahnya, tidak lagi berpolemik dalam tataran ide murni kesenian, namun telah menjadi arena tunjuk hidung yang mengenaskan.
Dapat saya mengerti kritikan Halim HD yang menyebutkan kegiatan “Indonesia X” gagal. Networking kondang ini melihatnya dari kacamata kritikus tulen yang masa bodoh dengan perasaan orang atau seniman yang dikritiknya. Tapi dapat pula saya mengerti jika Karta Jayadi beringas ketika even yang dilakoninya diobok-obok. Yang satunya melihat kesenian Sulawesi Selatan sebagai “buku yang terbuka” lebar dan dianggap sah untuk dibuka hingga ke halaman akhirnya (baca: dapur rumah tangga orang lain), dan yang satunya lagi alergi terhadap kritik. Terima kasih kepada redaktur budaya harian yang memuat polemik itu dan tidak meladeni polemik kekanak-kanakan itu berpanjang lebar. Namun satu hal yang pasti bahwa telah tiba masanya suasana berkesenian kita ditinjau ulang.
Dinding pembatas antara dunia kesenian berikut pemahaman kita sebagai orang Sulawesi Selatan yang alergi kritik dengan dunia luar telah tumbang. Artinya, bukan pada tempatnya lagi kita berusaha dengan susah payah menghibur diri dengan mengatakan pada diri sendiri, “Ah, saya juga besar (di sini).” Sebaliknya, mereka yang kebetulan baru saja “mempelajari” suasana berkesenian di Makassar agar lebih arif. Kami di sini sangat tempramental. Memprihatinkan memang. Namun demikian adanya.
Kedinamisan dunia kesenian di Bali pantas untuk kita cemburu. Terlepas dari faktor Bali sebagai daerah istimewa dengan turismenya, pelaku kesenian Bali dengan arif bisa memilah kapan mereka harus berlelah-lelah meladeni kecerewetan intelektual seni dan kapan melepaskan diri untuk selanjutnya berkarya.
Tak heran jika Made Supena yang kelasnya sama dengan pelukis Firman Djamil beberapa kali menolak pameran di mancanegara, karena berbenturan dengan jadual pamerannya di negara lain. Atau penyair wanita MAS Ruscitadewi yang kelasnya sama, bahkan mungkin kalah kuat dibanding Aslan Abidin mengaku capek berkeliling beberapa negara bagian di Australia membacakan puisinya sendiri yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Mereka berkarya dan berkarya!
Agak naif memang jika membandingkan suasana berkesenian Bali dengan kita di sini. Di Bali misalnya, seniman tak peduli lagi pada uluran tangan Pemda, khususnya yang bernama dana atau uang. Jaringan yang mereka bangun dengan berbagai founding atau kantong-kantong kesenian di mancanegara demikian bagusnya sehingga Pemda tinggal mengurusi grup-grup (sekeha) kesenian tradisional demi kepentingan pengiriman misi budaya sebagai promosi budaya ke luar negeri. Di sini, di Sulawesi Selatan, Pemda masih menjadi “motor” kesenian yang lebih dikenal dengan kesenian proyek. Apa yang dilakukan oleh Sdr. Halim HD dan kawan-kawan dengan Makassar Art Forum-nya (MAF) dapat menjadi awal yang baik, meskipun MAF tidak seluruhnya swadaya seniman sendiri. Atau keterlibatan LSM, khususnya FIK dengan motornya Asmin Amin dan Salahuddin Alam, yang melibatkan para pengamen Pantai Losari atau Rombongan Kesenian Petta Puang.
Sudah saatnya pula dunia kesenian kita dijauhkan atau menjauhkan diri dari para petualang kesenian. Itu tentu saja jika seniman kita tak ingin dicap “Seniman yang tidak berbudaya”. Lantas apa pula namanya jika yang dipersengketakan adalah uang pembinaan kesenian dari Pemda dan bukan karya seni?
Saya merindukan Fahmi Syarif, Jacob Marala, Ram Prapanca memaki-maki ketakdewasaan kita di atas pentas. Saya merindukan komposisi warna Zaenal Beta, Firman Djamil dan menertawakan kepicikan kita. Saya geregetan menunggu pukulan Tunrung Pakanjara Daeng Sira dan menjadi pengganti kemarahan akan kemunafikan kita. Saya kangen gerakan gemulai Abdi Bashit yang mengajarkan kita akan gobloknya budaya kekerasan yang terlanjur melekat di pemahaman saudara-saudara kita etnis yang lainnya. Dan masih banyak kerinduan yang lain. Saatnya kita duduk satu meja dan meneriakkan secara bersama-sama: Selamat Tinggal Kepicikan!!