ARGO, Simbol kelemahan Amerika
Oleh: Prima SP Vardhana, peresensi film

Revolusi politik di Iran tercatat sebagai lima revolusi, pengubah wajah dunia. Namun revolusi itu menemui kegagalan. Dan, revolusi justru direnggut rezim fundamentalis. Tak pelak lagi, pendapat Karl Marx, bahwa Sejarah akan berulang. Pertama sebagai tragedi, selanjutnya sebagai komedi.
DALAM peta persaingan film dunia, kualitas sebuah film sangat bergantung dari jumlah penghargaan yang dibukukan. Kian banyak penghargaan yang dikoleksi, maka kualitas film tersebut sebagai karya sinematografi sudah tidak diragukan lagi.
Ragam festival film kaliber dunia yang terselenggara, sesungguhnya sangat banyak. Hampir setiap negara memiliki sebuah festival film kaliber dunia. Misalnya, Inggris memiliki BAFTA (British Academy of Film and Television Artsa), Jerman memiliki BIFF (Berlin International Film Festival) memperebutkan Golden Bear, Jepang memiliki TIFF (Tokyo International Film Festival), Canada memiliki VIFF (Vancouver International Film Festival), Taiwan memiliki GHFFA (Golden Horse Film Festival and Awards) memperebutkan Golden Horse, Prancis memiliki penghargaan paling digadang-gadang pesertanya adalah Palm d' Or (film terbaik). Dan, masih banyak lainnya.
Namun, festival film yang menjadi barometer atas kualitas film dan kekuatan menaklukan pasar adalah Academy Award dan Golden Globe Award. Penghargaan dua festival film yang terselenggara di Amerika ini menjadi acuan pasar dan kualitas sinematografi, karena sistem penilaian dua festival film bukan dilakukan oleh sebuah tim dadakan jelang festival.
Juri Academy Award merupakan juri abadi, yang berstatus pelaku film berprestasi internasional di seluruh dunia. Namun, mereka harus pernah terlibat dalam produksi film Hollywood. Ini menjadi konsep penyelenggaraan yang digariskan AMPAS (Academy of Motion Pictures Arts and Sciences), dengan
Usia rata-rata juri Oscar sekitar 57 tahun. Angka ini bukan dari Oscar, tapi berdasarkan statistik yang dipilih The Hollywood Reporter secara acak atas 500 anggota juri Oscar. Jumlah anggota juri Oscar sebanyak 5.777 orang.
Uniknya lagi jumlah juri dari tahun ke tahun selalu tetap. Pergantian juri akan terjadi saat seorang juri meninggal. Pengganti juri tersebut selalu dari kategori yang sama. Saat juri berstatus sutradara meninggal, maka penggantinya juga berstatus sutradara. Demikian pula kategori juri lainnya saat meninggal.
Dengan anggota juri yang bervariasi itu, maka AMPAS berani menegaskan, bahwa para pemenang Oscar sangat obyektif. Karena itu, telah menjadi rahasia umum jika pemenang Oscar sekitar 60% merupakan proyeksi dari pemenang festival versi lainnya, seperti sutradara terbaik dari versi DGA (Director Guild Award), produser terbaik dari PGA (Producer Guild Award), penulis skenario terbaik dari WGA (Writer Guild Award), serta aktor dan aktris terbaik dari SAG (Screen Actor Guild Award).
Sebuah kondisi yang bertolak belakang dengan Golden Globe Award. Festival film yang digelar oleh HFPA (The Hollywood Foreign Press Association/ Asosiasi wartawan film asing di Hollywood). Penilaian mereka terhadap sebuah film lebih kompleks obyektifitasnya, sehingga para pemenang Golden Globe versi film drama 75% berpotensi memenangkan Oscar.
Demikian pula yang dialami ARGO. Setelah berhasil memboyong Golden Globe untuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik, maka film arahan sutradara dan aktor Ben Affleck ini pun dijagokan para pengamat dalam perebutan Oscar.
Film bertema pembebasan enam staff Kedubes Amerika Serikat yang terjebak kemelut Revolusi Iran di tahun 1979 ini, ternyata berhasil memagis para juri Oscar 2012. Tiga piala manusia gundul berlapis emas pun berhasil direbut, yaitu predikat film terbaik, editing film terbaik, dan skenario adaptasi terbaik.
Kendati predikat bergengsi sutradara terbaik gagal direbut Affleck, tapi pemeran superhero Dare Devil ini diguyur banyak pujian.
Menurut para pengamat, ARGO merupakan sebuah karya film doku-drama dalam kemasan cerdas dan solid. Dalam film berdurasi 120 menit itu terdapat beragam aspek pembuatan film yang amat baik, seperti dalam naskah cerita, pemilihan aktor dan aktris dengan kekuatan akting yang kuat, sudut pengambilan gambar yang berkekuatan visual, maupun aspek-aspek sinematografi lain yang berkekuatan kata.
Salah satunya, adalah kecerdikan Affleck untuk memberikan kesan otentik terhadap setting cerita. Sehingga alur yg dikemas menyajikan visual bak film dokumenter autentik.
Sebuah teknik khusus yang dipilih Affleck, yaitu mengambil gambar dengan film biasa yang dipotong setengahnya. Hasil rekaman diperbesar hingga 200 persen. Dengan teknik ini, ia mendapatkan efek gambar berbintik, yang menyajikan kesan adegan tersebut diambil saat kejadian sesungguhnya.
Teknik itu dipuji para pengamat sebagai terobosan cerdik, inovatif, dan amat cerdas. Tak pelak lagi, Affleck pun mendapat acungan jempol atas karya filmnya itu.
Apresiasi atas film besutannya ini, merupakan sukses kedua Affleck. Sebelumnya dia dipuji berkat kemampuannya menyutradarai The Town (2010). Apresiasi dan prestasi ARGO pun menempatkan bapak dari dua orang anak ini, sebagai sutradara berlatarbelakang aktor yang kaliber Oscar. Posisinya disejajarkan dengan aktor sutradara Clint Eastwood, Robert Redfort, Kevin Costner, serta Sylvester Stallone.
PENUH RESIKO
Krisis sandera AS bersetting Revolusi Iran, merupakan sebuah peristiwa sejarah yang amat fenomenal dalam sebuah kerangka hubungan bilateral antara AS dan Iran. Ini merupakan sebuah agenda yang amat sensitif. Sebab terkait kestabilan masalah regional.
Memproduksi film berdasar cerita buku berjudul The Master of Disguise karya Joshuah Berman, yang berdasar penuturan mantan agen khusus FBI, Antonio J. Mendez ini merupakan karya sinematografi yang penuh resiko.
Kondisi tersebut terjadi, karena sifat operasi pembebasan ini yang amat rahasia. Itu terproyeksi dari jasa Mendez terhadap upaya pelarian keenam staf kedubes AS itu, yang baru dipublikasikan pada tahun 1997.
Sedangkan upaya penyelesaian krisis sandera Iran pun baru terlaksana pada 20 Januari 1981 atau 444 hari kemudian, setelah pecahnya revolusi Iran pada 4 November 1979.
Memang, banyak film tentang pembebasan sandera AS dalam Revolusi Iran. Namun ARGO secara spesifik menyuguhkan agenda catatan operasi terselubung CIA di luar negeri.
Ironisnya, ada sedikit kekecewaan dari negara Kanada. Menurut mereka, ARGO sangat tidak jujur. Porsi mereka dalam upaya melancarkan pelarian keenam staf Kedubes AS, tersaji tanpa berarti. Padahal amat jelas, bahwa lokasi kediaman kedubes dijadikan tempat persembunyian enam staff tersebut, sesungguhnya menempatkan Kanda dalam kondisi yang berbahaya secara politik. Juga, keamanan diri para stafnya.
Sikap yang sama juga ditunjukkan Pemerintah Inggris dan New Zealand. Keduanya menilai kemasan ARGO, sangat tidak menghargai kontribusi masing–masing dalam proses pembebasan sesungguhnya.
Sebaliknya Iran sebagai negara yang menjadi setting cerita, menegaskan bahwa ARGO merupakan karya film pesanan AS. Isi film sangat jauh dari fakta yang terjadi saat itu.
Karena itu, negara ustadz Mahmoud Ahmadinejad ini menegaskan akan membuat sebuah film balasan, yang isinya akan mengungkap secara jujur tentang peristiwa yang terjadi saat itu. Juga perilaku Kedubes AS yang rasialis, sehingga membuat masyarakat Iran menjadi marah.
REVOLUSI ISLAM
Revolusi politik yang mengubah wajah Negara Iran berlangsung antara tahun 1978-1980. Diawali dengan kembali Imam Ruhullah Musavi Khomeini dari pengasingannya di Irak.
Selama masa tiga tahun itu, Iran mengalami revolusi politik yang merubah bentuk negaran Iran dari Monarki di bawah kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlevi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Imam Khomeini.
Revolusi rakyat itu tersulut oleh kediktatoran Shah Iran. Raja Iran terakhir bonekas AS ini sangat otoriter dan kejam. Dia juga korup dan sekuler.
Kekejaman Shah ditunjukan lewat kesadisan pasukan pengawal raja, SAVAK yang sadis. Dalam kurun waktu 23 tahun berkuasa, SAVAK telah membunuh ribuan rakyat Iran.
Selain itu, lebih dari 300.000 orang dipenjara hanya dalam kurun waktu 19 bulan. Rata-rata 1.500 orang tiap bulan dipenjara. Catatan lainnya, SAVAK membantai 6000 rakyat saat protes massal pada 5 Juli 1963.
Karena itu, setelah Shah terguling, rakyat Iran khawatir AS menyiapkan rencana penggulingan pembalasan atas pemerintahan Imam Khomeini dan mengembalikan pemerintah sebelumnya.
Kecurigaan terhadap kelicikan AS itu memicu gerakan anti AS. Demonstrasi besar di depan Kedubes AS di Tehran, berubah menjadi anarkis. Massa yang terdiri dari para mahasiswa dan militan memasuki wilayah kedubes. Mereka menyandera lebih dari 50 orang staff kedutaan. Namun, enam staff berhasil melarikan diri dan berlindung di kediaman Dubes Kanada.
Di AS sendiri, kasus penyanderaan itu mendorong pemerintahan Jimmy Carter ke dalam krisis. Berbagai upaya penyelamatan, termasuk militer, menemui kegagalan total. CIA pun dipanggil untuk melakukan operasi terselubung. Membawa keluar 6 diplomat AS tersebut.
Melalui CIA, AS bekerja sama dengan Pemerintah Kanada. Mereka menyiapkan operasi penyelamatan, dan menunjuk Tony Mendez (Ben Affleck) sebagai konsultan operasi.
Dari berbagai alternatif metode pembebasan, Tony justru terinspirasi film fiksi Planet of the Apes. Mendez lalu menghubungi John Chambers (John Goodman), orang film langganan CIA. Dari Chambers, Mendez berkenalan dengan produser film bernama Lester Siegel (Alan Arkin).
Mereka lalu menyiapkan proyek film palsu berjudul ARGO. Sebuah film science fiction ala StarWars dengan setting Timur Tengah.
Operasi tersebut terancam dibatalkan. Pemerintah AS berupaya menghentikan misi Tony, dengan menyiapkan misi penyelamatan pengganti. Aksi kucing-kucingan ini membawa intensitas thriller film yang disutradarai Affleck kian mengerucut dan memuncak di akhir cerita..*