Pernyataan Malaysia bukti kegagalan investigasi MAS

(WIN): Pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 diklaim oleh pemerintahan Malaysia telah jatuh ke Samudera Hindia dan semua penumpang beserta awak pesawat tewas. Apakah semua percaya begitu saja? Atau ini hanya taktik dari Negeri Jiran untuk menutupi kebobrokan akibat gagalnya investigasi jatuhnya MAS?

Setelah tiga pekan lamanya keluarga korban hanya menerima berita simpang siur terkait jatuhnya pesawat MAS. Mendadak pemerintah Malaysia lewat Perdana Menterinya Najib Razak mengumumkan bahwa pesawat jatuh dan seluruh penumpang meninggal.

Hal ini yang membuat dada sesak para keluarga korban, meski sudah dinyatakan jatuh ke Samudera Hindia, namun berita bahwa seluruh penumpang dan awak pesawat tewas harus dibuktikan lebih lanjut.

Maklum sampai detik ini pemerintahan Malaysia belum memberikan bukti konkrit yang menyatakan seluruh penumpang tewas. Bukti dimana terdapat puing pesawat jatuh dan juga mayat penumpang MAS, meskipun hanya secuil pakaian maupun secuil kepingan pesawat hancur.

Seperti diketahui bahwa menurutnya kesimpulan itu diambil beradasarkan data baru yang diterimanya. Data tersebut lanjutnya adalah informasi yang diperoleh dari satelit Inmarsat milik Inggris. Satelit itu memiliki kemampuan analisis yang dapat menentukan lokasi terakhir pesawat MH370.

"[Inmarsat] telah melakukan perhitungan analisis yang belum pernah digunakan dalam investigasi semacam ini dan mereka telah mampu menjelaskan lebih lanjut tentang MH370. Berdasarkan analisis baru, Inmarsat dan (Inggris) telah menyimpulkan bahwa MH370 terbang sepanjang koridor Selatan dan bahwa posisi terakhirnya berada di tengah Samudera Hindia, sebelah Barat Perth," kata Razak.

Cina tak mau tinggal diam, dan meminta Malaysia menyerahkan data satelit yang membuat mereka mengambil keputusan tentang penerbangan MH370 yang hilang jatuh di laut dan tidak ada satupun penumpang selamat, Senin.

Perdana Menteri Najib Razak mengatakan kepada para kerabat bahwa penerbangan tersebut “berakhir di Samudra Hindia” setelah analisis baru dari data satelit pada jalur penerbangan pesawat terakhir itu berada di perairan terpencil di pesisir pantai Barat Australia.

Dalam sebuah pertemuan Senin (24/3/14) malam, Wakil Menteri Luar Negeri Cina Xie Hangsheng meminta Duta Besar Malaysia untuk Cina Iskandar Bin Sarudin agar memberikan “bukti rinci” yang mengarah pada kesimpulan tersebut, kata Kementrian Luar Negeri Cina.

“Kita meminta pihak Malaysia untuk menyatakan bukti rinci yang mengarahkan mereka untuk keputusan ini serta melengkapi semua informasi dan bukti yang relevan mengenai analisis data satelit itu,” kata Xie, menurut sebuah pernyataan dalam situs kementrian.

“Pencarian dan penyelamatan tidak bisa berhenti sekarang, kita meminta Pemerintah Malaysia melanjutkan untuk menyelesaikan semua pekerjaan, termasuk pencarian dan penyelamatan,” tambahnya.

Pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 hilang pada 8 Maret dengan membawa 239 penumpang – dua pertiga dari mereka merupakan asal Cina – dalam perjalanan Kuala Lumpur menuju Beijing.

Otoritas maritim Cina mengatakan pada Senin malam akan mengirim lebih banyak kapal ke Samudra Hindia bagian selatan untuk mencari puing-puing, lapor kantor berita Xinhua.

Mereka menambah enam kapal Cina yang telah dikirim ke daerah pencarian untuk menjelajahi laut dalam menemukan pesawat tersebut.

Sementara Pakar penerbangan Australia, Neil Hansford yakin bahwa otoritas Malaysia belum menyampaikan semua hal mengenai tragedi ini. Meski diakuinya, pengumuman yang disampaikan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak mengenai nasib MH370, didasarkan pada semua bukti-bukti yang ada.

"Kenyataannya adalah bahwa semua bukti yang ada menunjukkan pesawat telah hilang," cetus Hansford seperti dilansir News.com.au, Selasa (25/3/14).

Dikatakan Hansford, meski sulit diterima, namun pengumuman PM Najib tersebut setidaknya memberikan akhir atas penantian selama hampir tiga pekan ini. Pengumuman ini juga akan memberikan kemudahan dalam proses pembayaran klaim asuransi para korban.

Namun tetap saja, ada pertanyaan besar: bagaimana bisa otoritas Malaysia menyatakan tanpa keraguan bahwa tak ada yang selamat? Padahal sejumlah hal aneh pernah terjadi sebelumnya. Misalnya, dua orang bernama Brant Webb dan Todd Russell yang diketahui selamat dari runtuhnya tambang di Tasmania, Australia setelah dua minggu kemudian pada April 2006 silam.

Namun pakar kelautan Erik van Sebille dari University of NSW, Australia menyatakan, mustahil untuk bisa selamat dalam perairan Samudera Hindia yang ganas dan dingin. "Anda sama sekali tak akan punya peluang jika tidak segera berada di sekoci," tutur Sebille.

Hal senada disampaikan Hansford yang meragukan akan menemukan jasad penumpang MH370. "Itu tak akan terjadi," tandasnya.

Kenyataan pahit. Karena sampai dengan detik ini Malaysia menyebut belum ada kesimpulan akhir bagi keluarga penumpang yang berduka, hingga pesawat benar-benar ditemukan. Hal tersebut disampaikan oleh Plt Menteri Transportasi Malaysia Datuk Seri Hishammuddin Hussein ketika berbicara di hadapan Parlemen Malaysia, hari ini.

Hishammudin menekankan Pemerintah Malaysia hanya menyampaikan bahwa MH370 mengudara ke koridor Selatan dan tidak akan menghentikan aksi perburuan puing pesawat.

Pemerintah Malaysia, menurut Hishammuddin, menyadari hingga saat ini sama sekali belum ada penampakan bangkai atau puing pesawat MH370 semenjak menghilang 18 hari lalu.

"Memang belum ada penutupan sekarang. Kami hanya menyatakan bahwa insiden mengarah ke koridor Selatan," terang Hishammuddin di hadapan parlemen Malaysia, seperti dilansir media Malaysia, Malay Mail Online, Selasa (25/3/14).

"Fokus sekarang adalah memastikan bahwa puing yang terdeteksi oleh sejumlah satelit berbeda benar merupakan obyek dari MH370. Bahkan ketika itu telah dipastikan, kami masih perlu menemukan kotak hitam," imbuhnya.

Hishammuddin menambahkan, dirinya akan bertemu dengan US Pacific Command malam ini. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mendiskusikan operasi pencarian MH370 selanjutnya.

Kepada parlemen, Hishamuddin yang juga Menteri Pertahanan Malaysia ini mengungkapkan internal audit tengah dilakukan terhadap kementriannya dan juga militer Malaysia, Royal Malaysian Air Forces (RMAF) dalam menanggapi kondisi krisis pasca insiden MH370 ini. Tampaknya, hal ini merujuk pada kritikan tajam dari dunia internasional, terutama dari keluarga penumpang asal Cina, terhadap cara otoritas Malaysia menangani tragedi ini.

Sebelumnya, anggota parlemen dari Pakatan Rakyat (PR) Malaysia mengritik keputusan pemerintah dalam mengumumkan MH370 'berakhir' di Samudera Hindia, tanpa memberikan bukti fisik yang jelas untuk menguatkan kesimpulan tersebut. Anggota parlemen menyebut 'kesimpulan tanpa kesimpulan'.(win12)

Komentar