Jenderal TNI Moeldoko, pandai berterimakasih

WIN: Jenderal TNI Dr Moeldoko mengatakan bangsa Indonesia harus pandai mengucapkan terimakasih. Kalimat terimakasih, menurutnya, bentuk apresiasi kepada pihak yang dianggapnya berjasa, atau kepada pihak yang telah memberikan penghargaan. Atau sebaliknya, penghargaan merupakan bentuk ucapan terimakasih.
“Kita harus pandai mengucapkan terimakasih kepada pihak yang memang pantas untuk diucapi terimakasih,” kata Moeldoko saat memberikan sambutan singkat terkait penghargaan yang diterimanya dari PWI Jatim (PWI JATIM AWARD 2014) pada tanggal 19 Maret 2014 malam di Hotel Shangrila Surabaya.

Moeldoko mengucapkan terimakasih kepada PWI Jatim yang telah memberinya PWI Jatim Award 2014 kategori Tokoh Nasional. “Saya berterimakasih kepada PWI Jatim,” kata Moeldoko.
Sedangkan PWI Jatim memberikan penghargaan kepada Moeldoko sebagai bentuk hormat dan bentuk terimakasih masyarakat pers atas sikapnya yang tegas, khususnya terkait tahun politik – dimana Jenderal Moeldoko secara tegas meminta kepada seluruh jajarannya untuk bersikap netral.

Jenderal tegas
Setelah dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Agustus 2013 lalu sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal TNI Dr Moeldoko menegaskan sikap dan positioning TNI menghadapi Pileg dan Pilpres 2014. Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersikap netral dan mengingatkan pihak lain agar tidak menyeret-nyeret TNI ke pusaran politik praktis. Politik TNI adalah politik kebangsaan dan kenegaraan, TNI sepenuhnya bekerja dan mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara.

Dalam suatu kesempatan Jenderal TNI Dr Moeldoko juga pernah berkata: "TNI dan semua elemen bangsa harus menjamin Pemilu 2014 dapat berlangsung lancar. Pemilu adalah masa depan keberlanjutan kepemimpinan bangsa. Karena itu, penting menyukseskan Pemilu 2014 dan suksesi kepemimpinan secara demokratis dan damai. Saya juga mengimbau kepada semua elemen untuk tidak menarik TNI ke medan politik praktis yang dapat menjadikan TNI tak netral," tegas Jenderal Moeldoko.
Sikap dan positioning yang tegas ini penting, mengingat kemungkinan masih adanya elemen dan kekuatan lain yang ingin memanfaatkan TNI, terutama dalam perspektif perorangan, untuk kepentingan politik taktis elemen dimaksud.
Pada akhir tahun 2013 dan awal 2014 ini, banyak wilayah di Indonesia ditimpa bencana alam. Nilai kerugiannya mungkin mencapai ratusan miliar rupiah.Ribuan warga mengungsi dan membutuhkan uluran tangan segera untuk meringankan beban mereka.Bencana alam itu mulai gunung meletus seperti Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo,
Sumatera Utara, banjir di DKI Jakarta, banjir di kawasan Pantura Jawa Tengah, banjir di daerah aliran Sungai Bengawan Solo di sebagian wilayah JawaTimur, tanah longsor di Kabupaten Jombang JawaTimur, banjir bandang di Manado Sulawesi Utara, erupsi Gunung Kelud, dan bencana alam di sejumlah daerah lainnya di Indonesia.
Melihat realitas seperti itu, TNI bersikap proaktif dan terjun langsung memberikan bantuan kepada para korban. Sebagai Panglima TNI, Jenderal Moeldoko menginstruksikan kepada seluruh prajurit TNI diseluruh Indonesia untuk siaga I bencana banjir. Sebanyak 19.357 prajurit TNI bersiaga dan terjun membantu dalam mengatasi banjir. Bahkan TNI membentuk posko penanganan banjir dan disebar di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera dan Manado.
"Tanggap bencana banjir yang dilakukan TNI, merupakan cerminan dari salah satu tugas pokok TNI di bidang operasi militer selain perang, yaitu membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan," jelas Jenderal Moeldoko dalam satu kesempatan.

Yang membuat PWI Jatim memberikan penghargaan kepada Jenderal TNI Moeldoko, karena pria murah senyum ini merupakan putra asli Jatim, kelahiran Kabupaten Kediri, 8 Juli 1957. Posisi yang diemban Jenderal Moeldoko saat ini maupun tahun-tahun sebelumnya bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi dan keluarga, tapi sekaligus menjadi teladan bagi 38 juta warga Jawa Timur. Jejak dan langkah Jenderal TNI Moeldoko patut diambil hikmahnya dan disebarkan kepada seluruh warga Jawa Timur.

Satu lagi penghargaan ini diberikan adalah bagaimana sibuknya orang nomor satu di Mabes TNI, ternyata Jenderal TNI Moeldoko tidak melupakan dunia pendidikan. Pangkat tinggi tentu tidak menghentikan niat untuk belajar dan menuntut ilmu. Inilah yang kemudian mendorong Jenderal TNI Moeldoko mengambil studi pasca sarjana di Universitas Indonesia. Hasilnya, pada 15 Januari 2014 lalu, Jenderal TNI Moeldoko berhak untuk menyandang gelar Doktor dari Program Pasca Sarja Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia, dengan disertasi: Kebijakan dan Skenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan).
Para penguji menyatakan Jenderal TNI Moeldoko lulus ujian dengan predikat sangat memuaskan. Alasan-alasan di atas itulah yang mendorong PWI Jatim memberikan penghargaan PWI Jatim Award 2014 kepada Jenderal TNI Dr Moeldoko kategori Tokoh Nasional. (win5)