Merangkul Mahasiswa, Pangdam Mayjend TNI Rudy Saladin Redam Panasnya Aksi di Grahadi

KANALSATU – “Ijo! Ijo! Ijo!” sorak-sorai itu menggema di depan Gedung Negara Grahadi, akhir Agustus lalu. Massa mahasiswa dan masyarakat menyambut kehadiran Pangdam V/Brawijaya Mayjend TNI Rudy Saladin yang keluar dari gedung negara tersebut.
Dengan langkah tenang, ia memilih mendekati kerumunan. Bukan dengan barikade, melainkan dengan empati.
Di hadapan ribuan massa, Rudy menunjukkan sikap yang jarang terlihat dalam situasi demonstrasi. Alih-alih mengedepankan kekuatan aparat, ia justru merangkul mahasiswa.
“Saya apresiasi mereka. Ketika ada penyusup yang mencoba memicu kerusuhan, justru mahasiswa sendiri yang melarang. Mereka ingin aspirasinya tersampaikan dengan damai,” ujarnya.
Keputusan Rudy untuk turun langsung menemui massa bukan tanpa pergolakan batin. Ia menyadari risiko besar jika provokator memanfaatkan momentum itu. Namun, ia memilih mengandalkan naluri kepemimpinan.
Dalam situasi tersebut menurutnya penting untuk dapat berpikir cepat, mempercayai intuisi, berani mengambil risiko serta berempati agar kondisi bisa tenang. Dengan langkah tersebut, hasilnya, dialog terbuka terjadi, dan massa merasa dihargai.
Bagi Rudy, menjaga stabilitas keamanan bukan hanya urusan TNI, melainkan kerja sama pentahelix yaitu pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan dunia usaha. “Kalau salah satu goyah, ekonomi ikut hancur. Karena itu yang terpenting adalah soliditas dan saling percaya,” ujarnya.
Mahasiswa Jadi Mitra
Pendekatan humanis itu berbuah hasil. Saat api melalap sisi barat Grahadi, Mayjend Rudy Saladin meminta bantuan koordinator mahasiswa agar mengarahkan teman-temannya membantu pemadam kebakaran. Ia menegaskan, Grahadi adalah aset bangsa dan cagar budaya yang harus dijaga bersama.
Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya, Kolonel Inf Nico Reza H. Dipura, menyebut perintah Pangdam sangat jelas: selamatkan Grahadi, tetapi dengan cara yang tetap humanis. “Segera padamkan,” tegasnya lewat sambungan telepon kepada Nico saat api menjalar.
Dengan pesan untuk tetap mengedepankan pendekatan yang penuh empati, anggota TNI yang ada di lapangan pun benar-benar menjaga agar tidak terjadi gesekan dengan massa. "Jadi waktu itu kami menghalau meminta massa agar mundur. Kami tidak mau suasana kembali panas," tegas Kolonel Nico.
Wakil Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya, Bambang Vistadi, membenarkan peran penting TNI dan mahasiswa. Menurutnya, kerja sama lintas sektor membuat api berhasil dikendalikan. “Kalau kami terlambat lima menit saja, Grahadi bisa habis,” ucap Bambang.
(KS-7)