Hadi Prasetyo, pemikir ekonomi Jatim
FIGUR

WIN: Setahun yang lalu, tepatnya 5 Maret 203, tim delegasi IMF (International Monetary Fund) berkunjung ke kantor pemprov Jawa Timur di Surabaya. IMF terkesan dan memberikan perhatian khusus terhadap performa perekonomian Jatim yang mampu growth 7,27% pada 2012 dengan PDRB sekitar Rp.1000 triliun.
Tahun ini (2014) ekonomi Jatim diproyeksi tumbuh 7% dengan PDRB sekitar Rp1.300 triliun. Posisi Jatim sangat penting bagi perekonomian nasional: baik kontribusinya pada aspek investasi, industri pengolahan, perdagangan dan jasa, hingga pertanian dan ketahanan pangan. Pada 2013, PDRB Jatim mengkontribusi 14,87% terhadap Product Domistic Bruto (PDB) nasional.
Kinerja ekonomi yang moncer itu tidak lepas dari fungsi koordinasi yang dilakukan Gubernur Soekarwo dalam implementasi program dan kebijakan di struktur perekonomian Jatim. Pada proses itu, posisi Asisten II Sekdaprov (bidang ekonomi) yang dijabat Hadi Prasetyo menjadi backbone, mulai dari perencanaan hingga implementasi. Tidak sedikit gagasan orisinil Planolog lulusan ITB ini yang aplikatif dan acceptable.

“Kontribusi Jatim terhadap perekonomian nasional harus terus ditingkatkan. Dari sinilah IMF tertarik terhadap ekonomi Jatim. Ke depan, Jatim bukan hanya penting bagi Indonesia, tapi juga bagi kawasan ekonomi regional asia,” kata Hadi Prasetyo - yang sebelumnya menjabat Kepala Bappeprov Jatim ini - dalam satu diskusi yang digelar PWI Jatim, belum lama ini.
Salah satu upaya penguatan ekonomi Jatim yang dipandegani oleh Hadi Pras, sapaan akrab Hadi Prasetyo, adalah dibukanya Kantor Perwakilan Dagang (KPD) di sejumlah provinsi dan representasi office di sejumlah negara. Keberadaan KPD bukan hanya menjadi pintu pertama arus distribusi barang dari Jatim ke penjuru nasional, tapi juga arus perdagangan antar pulau melalui kerjasama dengan Jatim. Sehingga wajar jika pada 2013 (kuartal III) Jatim mencatat surplus Rp50,1 triliun dari perdagangan antar pulau. Pada 2014 ini ditargetkan naik menjadi Rp64 triliun.

Hadi Pras selalu berfikir tentang Jatim go internasional. Bukan hanya pada penguatan ekspor, tapi juga dalam konteks arus investasi asing ke Jatim, dan arus wisatawan asing ke Jatim. Maka itu pihaknya kini tengah menyiapkan konsep komunikasi yang tepat dengan luar negeri, selain melalui representasi office di sejumlah negara, juga akan membentuk semacam kelompok kerja wartawan media luar negeri yang berbasis di Singapura. Mengarahkan dan memfasilitasi media asing itu untuk secara terus-menerus mewartakan potensi ekonomi & bisnis Jatim.

Hadi Pras sejak menjabat Kepala Bapeprov hingga kini juga selalu berfikir mengenai penguatan posisi daerah (provinsi) di sektor migas dan sektor strategis lainnya. Keberadaan blok migas di daerah, misalnya, dinilainya belum optimal memberikan kontribusi secara ekonomi, karena regulasi yang ada (UU Migas) tidak melibatkan daerah dalam penentuan pemenang lelang blok migas. Daerah pemilik wilayah blok migas tidak dilibatkan dalam penentuan target lifting migas dan besaran cost recovery, juga dinisbikan keberadaannya (daerah) pada proses penjualan hasil migas yang digali dari blok yang ada di wilayahnya.
Hadi Pras banyak berperan dalam membangun konstruksi lapis ekonomi kerakyatan melalui penguatan UKM dan usaha sektor informal, dan kedua sektor ini memberikan kontribusi sekitar 54% terhadap PDRB Jatim. Begitu juga dibidang pembangunan pertanian dan ketahanan pangan, sektor kelautan, pertambangan, jasa, perbankan, dan permodalan.

Dalam konteks persaingan ekonomi asia menjelang diterapkannya Asean Economic Community (AE) 2015, Hadi Pras selalu mengingatkan mengenai pentingnya penguatan daya saing di semua sektor. Sebab, kata Hadi Pras, produk barang dan jasa yang dimiliki oleh 10 negara anggota Asean akan bebas berkeliaran masuk pasar Jatim yang memiliki penduduk 41 juta jiwa. “Pada 2015, kita bukan hanya mencari jalan terbaik untuk memperbanyak ekspor, tapi juga cara terbaik untuk bertahan dari banjirnya produk impor,” kata Hadi Pras.(win5)