Cak Anam, di tengah beratnya bisnis media

FIGUR - KANALSATU -Publik mengenalnya sebagai tokoh politik berhalauan “hijau” yang berbasis massa (warga) Nahdliyin (NU). Pernah menjabat Ketua Umum DPP PKB hasil Muktamar Suyrabaya 2005 - di saat partai besutan Gus Dur itu dilanda konflik. Kemudian bersama sejumlah kiai khost, Choirul Anam (biasa disapa Cak Anam) ini mendeklarasikan PKNU.
Tidak banyak publik yang mengetahui bahwa Cak Anam sejatinya juga seorang jurnalis (wartawan) tulen. Sehingga wajar jika banyak orang yang bertanya-tanya ketika Cak Anam mendapat penghargaan sebagai Tokoh Pers Jatim oleh PWI Jatim pada Peringatan HPN 2014, belum lama ini.
Choirul Anam oleh PWI Jatim dinilai memiliki konsistensi di dunia jurnalistik dalam kondisi apapun. Bahkan ketika di puncak karirnya politiknya, Cak Anam masih menyempatkan diri untuk tetap menulis: artikel maupun berita. Juga menulis buku.

Sebagai wartawan, Cak Anam, telah menggapai tiga cita-cita besar yang biasanya diidam-idamkan seorang wartawan. Yaitu, menjadi seorang pemimpin redaksi sebuah koran, menjadi penulis buku, dan memiliki koran sendiri. Impian itu sudah pernah ada di tangan Cak Anam. Dia pernah memimpin Suara Indonesia, Majalah Semesta, dan Majalah Aula. Pengalaman berorganisasi yang cukup matang, menjadikan Cak Anam juga mumpuni memimpin koran dan majalah itu.
Sebagai penulis buku, Cak Anam yang menjadi kader NU tulen, sudah banyak menulis buku tentang NU dan dinamikanya dengan partai politik. Buku yang sudah ditulis adalah 1) Pertumbuhan dan Perkembangan NU. 2) Pemikiran KH Achmad Siddiq. 3) Konflik Elite PBNU seputar Muktamar. 4) Gerak Langkah Pemuda Ansor. 5) PMII Berbagai Visi dan Persepsi. 6) Dua Tahun PKB Jawa Timur. 7) Seandainya Aku Jadi Matori. 8) Jejak Langkah Sang Guru Bangsa—Suka Duka Mengikuti Gus Dur Sejak 1978 (buku pertama). Buku-bukunya terus mengalir meski Cak Anam sangat sibuk dalam panggung politik dan ke-NU-an. Ini artinya, menulis sudah menjadi darah daging bagi Cak Anam.
Naluri politik, naluri dalam hal ke-NU-an, naluri bisnis, dan strategi memenangkan kompetisi di tubuh Cak Anam terus menyala. Karena itu, sejak tahun 2002, Cak Anam memberanikan diri untuk mengambil alih Harian Duta Masyarakat. Ini koran yang memiliki sejarah dengan NU. Ini satu-satunya koran harian yang dimiliki NU. “Duta Masyarakat harus tetap terbit dalam kondisi apa pun,” ujar Cak Anam, pada satu kesempatan.

Dengan menangani Harian Duta Masyarakat itu, lengkap sudah alirah darah jurnalistik di tubuh Cak Anam. Kini, sudah 12 tahun Cak Anam mengendalikan Duta Masyarakat dengan segala risiko dan tantangannya. Biaya besar tetap diperjuangkan meski hasil dari bisnis sektor ini bisa dibilang kurang atau pas-pasan. Cak Anam tetap mempertahankan Harian Duta Masyarakat di tengah beratnya bisnis media.
Konsistensi
Sebagai jurnalis, Cak Anam tak pernah luntur di medan apapun. Saat dunia politik menghampirinya, Cak Anam tetap menulis. Saat memegang ormas (Ketua GP Ansor Jatim) Cak Anam juga menulis. Baik menulis di koran yang dikelolanya, atau di media lain, atau menulis buku. Bukunya sangat banyak. Yang terbaru buku tentang Mbah Wahab. Intinya, konsistensi Cak Anam di dunia jurnalistik tidak lekang karena keadaan.
Saat memasuki dunia politik, Cak Anam sering mendorong supaya iklim demokrasi menjadi sehat. Saat di PKB, bisa saja Cak Anam jadi anggota DPR atau jadi menteri ketika Presiden dijabat Gus Dur. Tetapi Cak Anam tak mau jadi pejabat. Di eksekutif juga tidak mau, di legislatif juga menolak. Cak Anam punya pilihan sendiri yakni menjadi wartawan dan penulis.

Bagi Cak Anam, lebih enjoy mengelola koran daripada berebut jabatan. Inilah konsistensi di bidang jurnalistik yang sampai sekarang masih melekat dalam jiwanya. Pertarungan bisnis media massa semakin keras. Media cetak kalah cepat dengan media online. Foto-foto di media cetak sangat kalah bagus dibanding gambar-gambar hidup di televisi. Lalu, bagaimana dengan Duta Masyarakat? Faktanya, sudah 12 tahun Cak Anam memiliki dan mengelola bisnis koran berlabel Duta Masyarakat tersebut. Apakah Cak Anam mendapat untung dari bisnis ini? Jawabnya tidak. Justru selama 12 tahun itulah Cak Anam selalu menyusui Duta Masyarakat. Terkadang pek-puk (tak untung dan tak rugi).
Cak Anam sebenarnya menyadari bahwa dunia penerbitan media massa sudah memasuki era industrialisasi. Bisnis harus untung. Bisnis media harus untung. Duta Masyarakat juga harus untung. Kini Cak Anam lebih serius memperhatikan Harian Duta Masyarakat lagi. Koran yang dulunya disebut newspaper, oleh Cak Anam diganti dengan visi baru sebagai viewpaper. Karena itu, Duta Masyarakat sekarang lebih cantik, dinamis, tanpa meninggalkan citra sebagai koran NU. Konten berita dan bisnisnya dibenahi. Hasilnya, sejak Februari 2014, subsidi untuk Duta Masyarakat sudah tidak ada lagi. Artinya, Duta Masyarakat sudah bisa hidup sendiri.(win5)