'PNPM mesti dilanjutkan'

Duta PNPM

KANALSATU - Sedikitnya 20 Duta PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri dari seluruh Indonesia meminta dukungan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk melanjutkan program tersebut. Alasannya PNPM sudah banyak terbukti mengurangi kemiskinan.

Demikian disuarakan para Duta PNPM kepada Direktur Jendral Cipta Karya Imam S. Ernawi saat berkunjung di kantor Kementerian PU, Jumat (9/5/14).

Dirjen Cipta Karya didampingi Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL), Adjar Prajudi. Kunjungan para duta tersebut dalam rangka Temu Nasional PNPM Mandiri yang berlangsung di Jakarta pada 8-10 Mei 2014.

“Ditjen Cipta Karya membangun lingkungan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan. Tidak saja pemenuhan prasarana dan sarana dasar seperti akses air minum dan sanitasi, namun melalui tiga pilar yang dikenal dengan Tridaya yang mencakup ekonomi, lingkungan, dan sosial,” tutur Imam sebagaimana dikutip dari Siaran Pers Kemen PU pada Sabtu (10/5/14).

Lebih jauh Imam menambahkan, upaya mewujudkan lingkungan yang lestari atau berkelanjutan harus dimulai dari skala rumah tangga, lingkungan masyarakat, hingga kawasan. Dia mengharapkan melalui PNPM, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) bersama masyarakat harus bisa naik kelas.

“Setelah berdaya secara ekonomi, maka harus berdaya dengan meningatkan kualitas lingkungan permukiman dan sosialnya,” imbuh Imam.

Disisi lain, salah satu pengurus BKM dari Kota Ambon penerima manfaat PNPM Mandiri Perkotaan, Junaedi Pule, mewakili seluruh penerima PNPM mengharapkan keberlanjutan program pemberdayaan tersebut.

PNPM menurutnya berhasil memberdayakan masyarakat untuk membangun infrastruktur dasar permukiman seperti jalan lingkungan dan talud penahan sungai dengan kualitas yang mantap dibandingkan dengan pekerjaan sejenis yang dibangun kontraktor.

“Dengan membangun sendiri talud sepanjang 15 meter dan tinggi 4 meter, kami hanya mengeluarkan biaya Rp 12,5 juta. Sebelumnya pada saat ditawarkan kepada kontraktor harganya bisa mencapai Rp 15 juta untuk tenaga kerjanya saja, belum materialnya,” kata Junaedi. (win7) 

Komentar