Ketika teknologi disematkan ke KTP
Budi Setiawan, Wartawan WIN

WIN.com: Kartu Tanda Penduduk elektronik atau yang dikenal sebagai e-KTP ternyata tak hanya ribut di awal pembahasan hingga permulaan pengambilan data di tingkat kelurahan. Kehebohannya pun berlanjut setelah jutaan rakyat Indonesia menerima tanda pengenal bermetode terbaru tersebut.
Penyebabnya adalah Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang melarang setiap orang/instansi/lembaga pemerintah atau swasta untuk me-staples atau berkali-kali mencetak ulang cadangannya menggunakan mesin fotokopi.
Pengeluaran SE itu disebut-sebut dalam rangka melindungi masyarakat agar kartu pengenalnya tidak rusak akibat perlakuan tidak benar. Secara teknis, mungkin SE itu benar adanya, meski faktanya belum ada bukti otentik sinar mesin fotokopi bisa merusak chip/keping penyimpan data yang tertanam di e-KTP.
Masalah muncul dan menjadi kehebohan nasional, karena sejumlah pihak menilai mendagri dan jajarannya yang telah menghabiskan triliunan rupiah uang rakyat, terkesan seenaknya sendiri. Bekerja tanpa program yang jelas sehingga merepotkan ratusan juta pemegang e-KTP.
“Wong sudah tahu itu program lama. Ratusan juta rakyat juga sudah menerima e-KTP. Batasan-batasan perlakuan seperti itu kan seharusnya disosialisakan sejak awal. Bahkan semenjak program ini diajukan ke DPR. Mengapa larangan itu baru muncul pekan ini? Mereka kan tahu, sistem administrasi pemerintah dan swasta di Indonesia ini mewajibkan setiap orang untuk melampirkan duplikasi bukti diri,” ujar Ferry Suharianto, mantan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya kepada whatindonews.com, Kamis (9/5/13).
Mendagri menyebut, larangan yang dikeluarkannya melalui SE bernomor 471.13/1826/SJ yang dikeluarkan pada 11 April 2013 tersebut dalam rangka melindungi masyarakat agar e-KTP-nya tidak rusak akibat perlakuan yang salah. Diantaranya budaya administrasi di Indonesia yang menjepret lampiran dengan steples atau meminta fotokopi identitas diri. Kedua cara itu dinilai bisa merusak e-KTP, sehingga data diri pemegang yang di-input di chip tidak terbaca.
Chip canggih
Mendagri memang tidak menjelaskan secara spesifik chip yang dipilih Kementrian Dalam Negeri untuk ditanam di e-KTP, tetapi hasil penggalian informasi whatindonews.com menunjukkan keping data e-KTP adalah sebuah perangkat yang menggunakan teknologi tag Identifikasi Frekuensi Radio (Radio Frequency Identification/RFId).
Sebenarnya ada banyak jenis dan teknologi tag RFId di dunia. Situs whatis.techtarget.com menulis, tag RFId adalah penggunaan non-kontak nirkabel frekuensi radio medan elektromagnetik untuk mentransfer data. Penggunaannya untuk keperluan otomatisasi identifikasi dan melacak tag yang melekat pada objek. Tag tersebut berisi informasi yang disimpan secara elektronik.
Beberapa tag bisa dibaca dan membaca pada rentang pendek (beberapa meter) melalui medan magnet (induksi elektromagnetik). Lainnya menggunakan sumber daya lokal seperti baterai, atau yang lain tidak memiliki baterai, tetapi mengumpulkan energi dan kemudian bertindak sebagai transponder pasif untuk memancarkan gelombang mikro atau UHF radio gelombang (yaitu, radiasi elektromagnetik pada frekuensi tinggi).
Tag bertenaga baterai dapat beroperasi hingga ratusan meter. Tidak seperti barcode, tag tidak selalu harus berada dalam garis pandang pembaca, melainkan dapat tertanam dalam objek yang dilacak.
Pada 2011, harga tag pasif dimulai US$0,09 per keping. Tag khusus yang dipasang pada logam atau menahan sterilisasi gamma bisa seharga US$5 per keping. Tag aktif untuk pelacakan kontener, aset medis, atau memantau kondisi lingkungan di pusat data mulai dari US$50 hingga US$100. Tag Battery Assisted Passive (BAP) berada di kisaran US$3-US$10, karena memiliki kemampuan sensor seperti suhu dan kelembaban.
Tag RFId digunakan di banyak industri. Sebuah tag RFId melekat pada sebuah mobil selama produksi dapat digunakan untuk melacak kemajuan melalui jalur perakitan. Farmasi dapat dilacak melalui gudang. Peternakan dan hewan peliharaan mungkin memiliki tag disuntikkan, memungkinkan identifikasi positif dari binatang.
Merski demikian, teknologi tag RFId bukannya tanpa kelemahan. Sejumlah kelebihan tersebut justru memunculkan kekuatiran penyalahgunaan. Sebab, materialnya yang dapat dilampirkan ke pakaian, harta atau bahkan tertanam di dalam tubuh orang telah menimbulkan kekuatiran privasi. Sebab, teknologi tag RFId tersebut memungkinkan seseorang membaca informasi pribadi yang tersambung tanpa persetujuan.
Penggunaan tag RFId
Teknologi tag RFId dapat ditempelkan ke sebuah obyek dan digunakan untuk melacak dan mengelola persediaan/stok, aset, orang, dll. Misalnya, dapat ditempelkan pada mobil, peralatan komputer, buku, telepon seluler, bahkan ditanam ke hewan atau manusia sekalipun.
Tag RFId menawarkan keunggulan dibandingkan sistem manual atau penggunaan barcode. Tag dapat dibaca jika lewat di dekat pembaca, bahkan jika itu tertutup objek atau tidak terlihat. Tag dapat dibaca di dalam kasus, karton, kotak atau wadah lainnya, dan tidak seperti barcode, RFId tag dapat dibaca ratusan kali pada satu waktu. Bandingkan efektifitasnya dengan barcode yang hanya bisa dibaca satu per satu menggunakan perangkat saat ini.
Situs wikipedia.org menyebut, RFId dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti manajemen akses, pelacakan barang, pelacakan orang dan hewan, pengumpulan dan pembayaran tol, pelacakan memorabilia olahraga untuk memverifikasi keaslian, bagasi bandara pelacakan logistik.
Pada 2010, tiga faktor utama mendorong peningkatan yang signifikan dalam penggunaan tag RFId adalah penurunan biaya peralatan dan tag, peningkatan kinerja dengan tingkat keandalan 99,9% sesuai standar internasional kestabilan UHF RFId Pasif. Penerapan standar itu didorong EPCglobal, perusahaan patungan antara GS1 dan GS1 Amerika Serikat, yang bertanggungjawab pada manajemen berkendaraan dengan mengadopsi global barcode pada 1970-an dan 1980-an.
Jaringan EPCglobal dikembangkan Pusat Auto-ID, sebuah proyek penelitian akademik bermarkas di Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS dengan laboratorium di lima universitas penelitian terkemuka di seluruh dunia, yakni Cambridge, Adelaide, Keio, Shanghai, Fudan, St Gallen.
Melengkapi barcode
Tag RFId sebenarnya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi bukan pengganti untuk Universal Product Code (UPC) atau EAN barcode. Teknologi baru itu tidak pernah sepenuhnya menggantikan barcode, karena biayanya lebih mahal dengan tingkat penggalian sumber data pada obyek yang sama.
Kelebihan lain barcode adalah pendistribusiannya yang begitu mudah, tidak terbatas ruang dan waktu. Barcode dapat dijalankan dan didistribusikan secara elektronik, misalnya melalui e-mail atau ponsel untuk mencetak atau menampilkan data yang tersimpan. Contohnya adalah boarding pass maskapai penerbangan.
Penyimpanan data memerlukan banyak ruang, bahkan hingga hitungan terabyte untuk penyaringan dan kategorisasi data tag RFId. Hal yang tak diperlukan dalam sistem informasi menggunakan UPC atau EAN dari barcode.
Apa saja kegunaan tag RFId? Berikut ini diantaranya:
Pembayaran dengan ponsel. Sejak musim panas 2009, dua perusahaan kartu kredit telah bekerja dengan Dallas, DeviceFidelity berbasis di Texas, AS yang khusus mengembangkan kartu microSD. Ketika dimasukkan ke dalam ponsel, kartu microSD dapat menjadi tag pasif dan pembaca RFId. Setelah memasukkan microSD, telepon pengguna dapat dihubungkan dengan rekening bank dan digunakan dalam pembayaran bergerak (mobile).
Manajemen aset. Tag RFId dikombinasikan dengan komputer bergerak dan teknologi web menyediakan cara bagi organisasi untuk mengidentifikasi dan mengelola aset mereka. Komputer bergerak yang terintegrasi dengan pembaca tag RFId, kini menjadi satu set alat lengkap yang bisa menghilangkan dokumen, memberikan bukti identifikasi dan kehadiran. Pendekatan ini menghilangkan pengisian data secara manual.
Sistem persediaan/stok. Sebuah teknologi maju identifikasi otomatis berbasis teknologi tag RFID memiliki nilai signifikan bagi sistem persediaan. Sistem itu dapat memberikan pengetahuan akurat tentang persediaan barang/stok saat ini. Tag RFId juga dapat membantu perusahaan untuk menjamin keamanan persediaan/stok. Hanya perlu waktu singkat, pelacakan persediaan melalui tag RFId dapat menunjukkan secara tepat jumlah persediaan di gudang.
Pelacakan dan pemblokiran. Pada 2005, Kasino Wynn di Las Vegas, AS mulai memasang tag RFId di setiap chip bernilai tinggi. Tag ini memungkinkan kasino mendeteksi chip palsu, melacak kebiasaan taruhan individu pemain, mempercepat penghitungan nilai tunai chip, dan menentukan menghitung kesalahan dealer. Pada 2010, Kasino Bellagio dirampok sebesar US$1,50 juta dalam bentuk chip. Tag RFId chip tersebut segera dibatalkan, sehingga para perampok gagal mencairkan hasil rampokannya karena nilai tunai chip itu menjadi US$0.
Akses kontrol. Tag RFId banyak digunakan dalam identifikasi lencana, mengganti teknologi sebelumnya yang menggunakan kartu magnetic stripe. Lencana ini hanya perlu berada dalam jarak tertentu dari mesin pembaca untuk mengotentifikasi pemegang. Tag juga dapat ditempatkan pada kendaraan, yang dapat dibaca di kejauhan, sehingga memungkinkan pemegangnya memasuki daerah tanpa harus berhenti dan menunjukkan kartu atau menekan kode akses di mesin otentifikasi.
Media sosial. Vail Resorts memulai program EpicMix pada 2010 yang memungkinkan pemain ski tamunya mendapatkan lencana virtual dengan ukuran yang terekam melalui tonggak tag UHF RFId yang terpasang di lintasan ski. Mercedes Benz mengawali adopsi teknologi tersebut di 2011 pada Kejuaraan Golf PGA dan 2013 Geneva Motor Show 2013.
Pelacakan promosi. Produsen mengeksplorasi penggunaan tag RFId pada barang dagangan dipromosikan, sehingga mereka dapat melacak persis produk yang telah dijual melalui rantai pasokan dengan harga penuh diskon. Teknologi itu mencegah pengecer mengalihkan produk.
Transportasi dan logistik. Logistik dan transportasi menjadi pasar penting implementasi teknologi tag RFId. Melaksanakan manajemen pengiriman dan pengangkutan dan pusat distribusi menggunakan teknologi pelacakan tag RFId. Misalnya, industri kereta api bisa memasang RFId tag pada lokomotif dan rolling stock untuk mengidentifikasi pemilik, nomor identifikasi dan jenis peralatan dan karakteristiknya. Di penerbangan komersial, teknologi tag RFId mampu mengidentifikasi bagasi dan kargo di beberapa bandara dan maskapai penerbangan. Beberapa negara bahkan menggunakan teknologi RFId untuk Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan penegakan hukum, seperti membantu mendeteksi mobil curian.
Rumah Sakit. Adopsi tag RFId dalam industri medis telah meluas dan berjalan sangat efektif. Rumah sakit adalah salah satu pengguna pertama untuk menggabungkan teknologi aktif dan pasif tag RFId. Perusahaan CenTrak menggunakan monitor inframerah di kamar perawatan untuk mengumpulkan data dari transmisi lencana tag RFId dipakai pasien dan karyawan. Sejak 2004 sejumlah rumah sakit di AS mulai menanamkan tag RFId pada pasien. Oktober 2004, FDA menyetujui upaya penanaman chip tag RFId pada manusia di AS. Chip tag RFId berfrekuensi 134 kHz dari VeriChip Corp. Perusahaan itu menjamin, chip tersebut menggabungkan informasi medis pribadi dan bisa menyelamatkan nyawa atau cedera akibat kesalahan perawatan medis.
Sekolah dan universitas. Otoritas sekolah di Osaka, Jepang, kini memasang chip pada pakaian anak-anak, buku paket dan ID mahasiswa. Sebuah sekolah di Doncaster, Inggris menjadi pionir sistem pemantauan untuk mengawasi murid dengan melacak chip radio dalam seragam mereka. Sekolah St Charles Sixth Form di London bagian Barat, Inggris, mulai September, 2008, yang menggunakan sistem kartu tag RFId untuk masuk dan keluar dari gerbang utama kampus, identifikasi presensi. Di Filipina, beberapa sekolah sudah menggunakan tag RFId di kartu murid untuk peminjaman buku di perpustakaan dan menempatkan pemindai di gerbang sekolah. Teknologi itu bahkan bisa untuk membeli barang di toko sekolah dan kantin, termasuk sistem presensi bagi kehadiran siswa dan guru.
Malaysia pertama
Itu baru sebagian dari fungsi tag RFId. Manfaat teknologi itu yang paling fenomenal dan paling mirip dengan e-KTP adalah penerapannya di paspor. Tag RFId pertama di paspor (e-Paspor) dikeluarkan Malaysia pada 1998. Selain informasi identitas diri, juga terdapat pada halaman data visual dari paspor. e-Paspor Malaysia berisi pula catatan riwayat perjalanan (waktu, tanggal, dan tempat) dari masuk dan keluar dari negara tersebut.
Negara-negara lain yang mengikuti jejak Malaysia menyisipkan tag RFId di paspor adalah Norwegia (2005), Jepang (1 Maret 2006), sebagian besar Uni Eropa (2006), Australia, Hong Kong, Amerika Serikat (2007), Serbia (Juli 2008), Republik Korea (Agustus 2008), Taiwan (Desember 2008), Albania (Januari 2009), Filipina (Agustus 2009) dan Republik Makedonia (2010).
Standar tag RFId paspor ditentukan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO) sesuai Dokumen 9303 ICAO, Bagian 1, Volume 1 dan 2 (edisi 6, 2006). ICAO mengacu pada ISO/IEC 14443 RFId chip dalam e-Paspor sebagai contactless integrated circuits atau sirkuit data kontak terpadu. Standar ICAO menyebutkan e-Paspor harus mudah diidentifikasi dengan pemasangan logo standar e-Passport di sampul depan.
Sejak 2006, tag RFId tertanam di paspor AS yang menyimpan informasi sama dengan info tercetak dalam paspor, termasuk menyertakan gambar digital pemiliknya. Departemen Luar Negeri AS awalnya menyatakan chip hanya bisa dibaca dari jarak 10 cm (4 inci), tapi setelah kritik dan demonstrasi, akhirnya diputuskan menyediakan peralatan khusus yang dapat membaca paspor dari jarak 10 meter (33 kaki) dari. e-Paspor AS tersebut menggabungkan lapisan logam tipis agar lebih sulit bagi pembaca yang tidak sah untuk mengakses informasi.
Deplu AS juga akan mengimplementasikan Basic Access Control (BAC), yang berfungsi sebagai Personal Identification Number (PIN) dalam bentuk karakter yang dicetak pada halaman data paspor. Sebelum tag paspor dapat dibaca, PIN ini harus dimasukkan ke pembaca tag RFId. BAC juga memungkinkan enkripsi dari komunikasi antara chip dan interogator.
Identifikasi makhluk
Tag RFId untuk hewan merupakan salah satu penggunaan tertua teknologi RFId. Awalnya dimaksudkan untuk peternakan besar dan medan berat, terutama sejak pecahnya penyakit sapi gila. Tag RFId telah menjadi penting untuk mengelola peternakan, sebab tag RFId yang ditanam atau transporder juga dapat mengidentifikasi hewan. Badan Identifikasi Sapi Kanada mulai menggunakan tag RFId sebagai pengganti tag barcode.
Jangan terkejut, implan chip tag RFId yang awalnya dirancang untuk penandaan hewan kini tengah diujicoba pada manusia. Sebuah eksperimen awal dengan implan tag RFId dilakukan Kevin Warwick, seorang profesor cybernetics dari Inggris, yang menanam sebuah chip di lengannya pada 1998.
Pada 2004, klub malam Conrad Chase di Barcelona, Spanyol dan Rotterdam, Belanda menawarkan penanaman chip untuk mengidentifikasi pelanggan VIP. Chip itu juga dirancang bisa untuk membayar minuman di klub tersebut.
Badan Pengawas Makanan dan Minuman (Food and Drug Administration/FDA) AS telah menyetujui penggunaan chip tag RFId pada tubuh manusia. Beberapa perusahaan bisnis memberikan pilihan pada pelanggannya untuk menggunakan tag RFId dalam pembayaran layanan seperti klub malam di Barcelona itu.
Meski demikian, teknologi baru terebut telah menimbulkan kekuatiran terganggunya hak pribadi seseorang. Sebab, dengan tag RFId di tubuh, seseorang bisa melacak ke mana pun mereka pergi menggunakan alat identifier. Kecemasan lebih kuat muncul manakala pemerintah yang otoriter menyalahgunakannya dan menyebabkan penghapusan kebebasan individu.
Pada 22 Juli 2006, Reuters melaporkan dua orang hacker, Newitz dan Westhues, menunjukkan bahwa mereka bisa mengkloning sinyal dari implan chip tag RFId pada manusia. Pamer kemampuan pada sebuah konferensi di New York, AS itu menjadi bukti bahwa chip tersebut tidak antihack seperti klaim sebelumnya.
Para pendukung kebebasan pribadi telah memprotes implan chip tag RFId pada tubuh manusia dan memperingatkan potensi penyalahgunaannya. Ada banyak kontroversi tentang aplikasi teknologi ini pada manusia, yakni kemungkinan membanjirnya teori konspirasi.
Sebuah gugus tugas pemeringkat di FDA menyatakan telah mempelajari pelbagai teknologi sesuai persyaratan pengkategorian yang kini tersedia secara komersial. Diantara semua teknologi yang dipelajari, termasuk barcode, teknologi tag RFId lah yang paling menjanjikan.
*dikutip dari pelbagai sumber