Erlangga Satriagung, luncurkan buku soal properti

Erlangga Satriagung

KANALSATU – Banyaknya persoalan terkait lambannya pertumbuhan sektor perumahan - dibandingkan tingkat kebutuhanya,  memaksa Erlangga Satriagung  melakukan banyak protes, bukan hanya di banyak forum - tapi juga melalui sebuah buku yang ditulisnya menjelang akhir masa jabatannya sebagai Ketua REI Jatim.

Pria kelahiran Kota Malang, 14 Desember 1958 ini merilis sebuah buku bertajuk : “Properti Menggerakkan Ekonomi.” Sebuah buku setebal 108 halaman itu banyak mengupas mengenai peran sektor properti khususnya sub-sektor perumahan dalam menggerakkan roda perekonomian, baik nasional maupun di daerah.

Bukan hanya pengusaha seperti Donald Trump saja yang memahami arti penting sektor properti. Pengusaha sekelas Erlangga pun melihat properti sebagai lokomotif  bagi geraknya gerbong perekonomian. Dalam sekejap properti bisa berlipat-ganda nilainya. Memiliki fungsi sosial (khususnya perumahan). Meningkatkan pendapatan negara dari sektor pajak. Menggerakan 124 item industri terkait. Dan lainnya.

iilustrasi

Tidak hanya itu, sektor ini bahkan ikut mewarnai perjalanan panjang kebudayaan bangsa dengan berbagai model arsitektur khas lokal yang turut diadopsi dalam pembangunan beragam kegiatan properti – dulu dan kekinian.

Dalam perspektif ekonomi, meski properti kerap dibatasi dengan berbagai aturan untuk memperpelan laju pertumbuhannya, sektor ini tetap bisa berjalan menanjak dengan stabil. Bahkan sektor properti kerap dijadikan indikator awal dari jatuh-bangunnya tatanan ekonomi sebuah bangsa. Saat ekonomi bersiap tumbuh tinggi, indikator awal bisa dicek pada gerak sektor properti di mana permintaan meningkat yang akan diikuti dengan gairah sektor-sektor turunannya. Berbagai bisnis akan bergairah seiring pertumbuhan sektor ini.

Sebaliknya, jika ekonomi melandai dan akan terpapar krisis, sektor properti juga bisa menjadi penunjuk awal tentang tren penurunan permintaan hingga kredit macet di bidang pembiayaan rumah. Bank-bank bisa kelimpungan, dan lantas menjadi spiral baru bagi memburuknya ekonomi di semua sektor.

Melalui buku ini, Erlangga seolah meyakini betul peran penting sektor properti, kendati secara kontribusi dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) dan produk domestik regional bruto (PDRB) tampak tidak terlalu besar, tapi sektor ini berkelindan dengan berbagai sektor ekonomi lain. Mempunyai backward-forward linkage yang kuat, dari hulu sampai hilir, dari pekerja bangunan sampai eksekutif perbankan.

iilustrasi

Perkembangan sektor properti sangat cepat. Bahkan (pertumbuhannya) melebihi tingkat pertumbuhan ekonomi itu srndiri. Tahun 2011, misalnya,  sektor properti nasional tumbuh sekitar 6,7%, sedangkan ekononi nasional tumbuh 6,5%. Tahun berikutnya (2012) properti tumbuh tembus 7%. Begitu juga tahun-tahun selanjutnya. Dari aspek kredit, angkanya juga besar. Data BI,  sampai Maret 2014 sudah Rp479,4 triliun – dengan rincian  kredit konstruksi Rp115,6 triliun, kredit real estat Rp79,3 triliun, dan KPR/KPA Rp284,6 triliun.

Erlangga melihat multiplier effect sektor properti jauh lebih dahsyat dibanding nilai propertinya sendiri. Kawasan perumahan yang dibangun oleh pengembang selalu menjadi pertumbuhan ekonomi baru.  Ruko – ruko ikut dibangun dan terisi oleh aneka kegiatan bisnis;  ada minimarket, restauran, salon, bengkel, counter HP, toko elektronik, dan lainnya. Di sekitar komplek juga tumbuh sektor informal seperti warung nasi, penjual gorengan, tukang buah, jasa ojek, dan lain-lain.

Buku Properti Menggerakkan Ekonomi
oleh Erlangga Satriagung

Pada kawasan hunia mewah, kegiatan bisnisnya lebih variatif. Sering diikuti tumbuhnya bangunan  perkantoran, mall, apartemen, golf & club house,  ruko mewah, yang dilengkapi aneka bisnis : departemen store, supermarket, food court, café, showroom mobil, bank, bahkan sekolah bertaraf internasional dan rumah sakit pun tersedia. Semua itu menjadi rangkaian penggerak ekonomi baru yang akumulasinya secara nasional bisa berlipat-lipat nilainya.

Selain menggerakkan perekonomian, sektor properti – khususnya sub-sektor perumahan, keberadaannya juga berfungsi sosial sebagai tempat tinggal, tempat tumbuhnya generasi masa depan. Dari rumah tinggal, anak-anak dididik dan dibesarkan. Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dalam meningkatkan harkat, martabat, dan kualitas kehidupan.

iilustrasi

Melalui buku ini, Erlangga menekankan bahwa amandemen UUD 1945 pasal 28 H telah mengamanatkan  bahwa rumah adalah salah satu hak dasar rakyat dan oleh karena itu setiap warga negara berhak untuk bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Hanya saja, hak dasar rakyat untuk terpenuhi kepemilikan rumahnya, sejauh ini masih jauh api dari panggang. Pasok unit rumah setiap tahunnya jauh di bawah target , sehingga angka backlog terus meningkat. Selain itu, daya beli sebagian masyarakat masih rendah. Disinilah, kembali Erlangga mengingatkan bahwa peran pemerintah dituntut lebih besar (sesuai amanat UUD 1945).

Peran dan fungsi pemerintah tidak hanya pada besaran alokasi dana untuk supporting sektor perumahan, tapi juga dituntut jeli dan tepat dalam mengeluarkan kebijakan. Tanggung-jawab pemerintah tentu berbeda dengan tanggung-jawab pengembang. Domain peran dan fungsinya sangat berbeda. Batasannya jelas. Tapi kerap muncul regulasi yang menjadikan batas itu menjadi agak kabur. Wilayah yang seharusnya menjadi beban pemerintah seolah menjadi tanggung-jawab swasta pengembang.

Banyak regulasi & kebijakan, terutama di daerah, yang memunculkan persepsi keliru di mata masyarakat. Bahkan tidak sedikit kepala daerah yang bukan hanya tidak mampu memahami peran dan fungsi sektor perumahan terhadap proses pembangunan perekonomian di wilayahnya, tapi lebih dari itu justru terkesan merepotkan posisi swasta pengembang dalam berpartisipasi membangun perumahan dan permukiman.

Buku bertajuk “Properti Menggerakkan Ekonomi” ini ditulis secara gamblang mengenai sederet potensi dan persoalan di sektor properti, khususnya sub-sektor perumahan. Bahasanya yang sederhana bisa mengantarkan pembacanya memahami aneka persoalan yang menyelimuti sektor potensial ini.

iilustrasi

Buku yang telah diluncurkan bersamaan Musyawarah Daerah (Musda REI) pada 17-18 Juni 2014 di Kota Batu – Jatim ini, sangat lugas penjelasannya. Pengalaman Erlangga sebagai pelaku usaha properti dan pengalamannya pernah memipin Kadin Jatim selama dua periode (1998 – 2008) membuatnya lebih jeli dalam memahami, mengkritisi dan mencarikan alternatif solusi - sebagai masukan kepada otoritas untuk lebih majunya sektor perumahan - dan properti pada umumnya di masa mendatang.

Buku ini juga dilengkapi data dan dokumen mengenai kiprah REI Jatim saat dipimpinnya, maupun saat dipimpin oleh para ketua sebelumnya sejak aosiasi pengembang ini didirikan pada 1972. Buku yang dipengantari oleh Eddy Hussy (Ketua Umum DPP REI 2013 – 2016) ini setidaknya bisa mengantarkan pembacanya mudah memahami tentang apa sebenarnya yang terjadi di industri properti – khususnya sektor perumahan.(win5)

Komentar