Serangan Fajar

Oleh : Ferry Soe Pei

KANALSATU - Memasuki Masa Tenang, setiap capres dan cawapres berikut tim suksesnya dan para relawan masing-masing diharapkan bisa memulihkan stamina, istirahat selama beberapa hari menunggu saat Pilpres tiba.

Sedangkan bagi khalayak calon pemilih selama masa tenang diharapkan bisa digunakan untuk merenungkan dan mempertimbangkan masak-masak pilihannya sebelum melakukan pencoblosan pada Pilpres 9 Juli besok. Ini adalah harapan KPU yang disampaikan melalui media massa menjelang berakhirnya masa kampanye Pilpres 2014.

Terasa naif

Jika melihat pelaksanaan pemilu sepanjang era demokrasi, harapan itu terasa naif. Karena justru masa tenang adalah saatnya all out bagi setiap orang yang tengah berupaya memperoleh legitimasi kekuasaan melalui Pemilu. Sebagaimana terlihat dalam setiap Pemilu mulai dari pilkada, pileg maupun pilpres, merupakan fakta yang tak bisa diingkari bahwa selama masa tenang meski setiap orang dilarang melakukan kampanye, selalu saja terlihat upaya untuk mempengaruhi para calon pemilih.

Tampaknya masa tenang karena cuma beberapa hari menjelang pemilu menjadi penting dan menentukan bagi mereka agar terpilih dalam pemilu. Seakan-akan waktu yang singkat terlalu berharga bagi mereka untuk disia-siakan dalam upaya memenangkan pertarungan menuju kekuasaan.

Oleh sebab itu setiap kali pemilu memasuki masa tenang selalu terlihat, banyak diantara mereka yang berusaha keras mengerahkan segala daya, upaya dan kemampuannya untuk mempengaruhi calon pemilih. Untuk itu politik uang merupakan hal yang biasa mereka lalukan untuk memikat calon pemilih. Inilah yang membuat istilah “serangan fajar” menjadi populer sebagai istilah untuk menyamarkan politik uang yang dilakukan pada masa tenang sebagai hari-hari akhir menjelang pemilu.

Belum jujur

Politik uang sampai saat ini memang masih merupakan hambatan utama terhadap penyelenggaraan pemilu untuk mencapai tahapan yang benar-benar demokratis. Artinya, politik uang telah menyebabkan selama ini pemilu sebagai pelaksanaan demokrasi lima tahunan masih baru terselenggarakan dalam tahapan terbuka untuk semua orang, akan tetapi masih belum terselenggarakan dengan jujur.

Pemilu pada era demokrasi memang telah berhasil membebaskan pemilih dari tekanan untuk memaksa menggunakan hak pilihnya pada pilihan tertentu, namun masih belum terbebas dari kekuatan uang. Para pemilih mau pun orang-orang yang akan dipilih masih terlihat leluasa melakukan jual beli suara.

Sehingga pemilu terutama pilpres selalu memberikan peluang pada para pemilik modal dengan duitnya yang berlimpah untuk mewujutkan kepentingan bisnisnya dalam pemerintahan pasca pilpres melalui pendanaan dan pembiayaan bagi pemenangan para kandidat.

Sinterklas

Ada beberapa hal yang menyebabkan politik uang selalu terjadi dalam pemilu. Untuk mempengaruhi calon pemilih dalam menggunakan hak pilihnya, para kandidat peserta pemilu, terutama pileg, lebih suka mengumbar janji dari pada menyampaikan program-programnya jika kelak terpilih. Disamping itu kebiasaan mereka membagikan barang atau duit dalam kampanye telah menumbuhkan komersialisasi pemilu dikalangan para calon pemilih.

Artinya, masyarakat yang makin sulit mengatasi persoalan ekonomi hidup sehari-hari terdorong semakin pragmatis dalam menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Terutama masyarakat berpenghasilan rendah, pada umumnya karena desakan ekonomi melakukan transaksi jual beli suara dan lebih suka memilih kandidat sinterklas daripada kandidat yang suka mengobral janji tapi tak pernah mewujutkannya. Karena itu setiap kali pemilu, bagi mereka masa tenang adalah masa menanti tibanya serangan fajar.

Begitu pula peraturan perundang-undangan yang masih belum memiliki ketegasan terhadap penyimpangan dalam pemilu merupakan salah satu sebab politik uang makin kerap terjadi. Banyak laporan Bawaslu kepada pihak kepolisian mengenai politik uang sebagai perbuatan suap menyuap, tidak bisa ditindaklanjuti.

Menghadapi kondisi semacam itu dalam penyelenggaraan pemilu selama ini adalah menggembirakan pernyataan yang sering disampaikan para capres dan cawapres 2014 selama kampanye, bahwa dalam pilpres mereka selalu menjunjung tinggi kejujuran dan menafikan segala kemungkinan untuk melakukan politik uang.

Pernyataan mereka perlu disikapi dengan pikiran positif, bahwa mulai ada kemauan diantara para pemimpin untuk menghentikan politik uang dalam pemilu yang dimulai dari Pilpres kali ini. Karena itu mari kita jaga bersama-sama masa tenang selama beberapa hari ini sampai pada saat pilpres digelar, agar pernyataan mereka itu benar-benar terbukti.***

Komentar