Anak tukang jamu menuju Eropa

KANALSATU - Asosiasi Kota PSSI Surabaya kembali menyumbangkan pemain untuk masuk dalam Timnas Indonesia. Evan Dimas baru telah lahir dari kota Pahlawan, meski namanya belum setenar dan seheboh bintang Timnas U-19, namun sepak terjang Fachri Firmansyah yang berasal dari Sasana Bhakti, salah satu klub internal dari Askot PSS Surabaya kini tergabung dalam skuad Rudy Keltjes di Timnas U-21 untuk mewakili di tournament COTIF di Valencia patut diacungi dua jempol.

Kisruh dualisme PSSI yang berimbas pada internal klub dibawahnya ternyata tak berpengaruh pada Askot PSSI Surabaya, buktinya, meski terseok-seok dalam memutar roda kompetisi yang digawangi oleh Gede Wiade ini mampu menunjukan eksistensinya sebagai salah satu internal klub yang mampu memberikan sumbang asih kepada PSSI.

Memang dengan kocek pribadinya tanpa bantuan dari APBD Surabaya bahkan bisa dikatakan tanpa support dari Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Surabaya masih mampu bertahan untuk menciptakan evan dimas-Evan Dimas lain yang bisa mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia lewat cabang olahraga sepakbola.

Ya, Firman sebutan akrabnya mampu menembus ketatnya persaingan skuad Timnas U-21 yang dipercaya untuk tampil di COTIF Valensia 10-20 Agustus nanti. Bakat Firman sebelumnya sudah dipantau sejak masih berusia 15 tahun dan pernah mewakili tim Honda ke Jakarta, bahkan dirinya pernah masuk dalam 30 pemain yang diberi kesempatan untuk tampil dihadapan coach Indra Sjafri sebagai program penjaringan Timnas U-19.

Usianya masih belum genap 18tahun, namun gelagatnya di lapangan hijau tak bisa dilihat sebelah mata. Bahkan direktur Olahraga Persebaya, Dhimam Abror lah orang yang paling berjasa menemukan bakat Firman yang berasal dari klub Sasana Bhakti yang dipimpin oleh Ketumnya, Suwono.

Dari sekedar iseng ikut nimbrung bermain bersama dengan SIWO PWI Jatim di Gelora Bung Tomo, Abror yang kala itu melihat performanya yang apik menawari untuk ikut bergabung bersama dengan tim Pra PON Jatim yang saat itu dijadikan satu di tim Perseba Bangkalan yang akhirnya berhasil menjadi yang terbaik di pentas Divisi III Nasional bersama dengan coach Hanafing.

Sayang, pelatih gaek ini lupa untuk memasukan namanya bersama skuad Pra PON Jatim yang dipersiapkan untuk PON Jabar dalam tim LAGA FC yang berlaga di Liga Nusantara. Tak mau patah semangat, Firman yang berbekal ilmu dari internal klub dan Pra PON Jatim mencoba keberuntungan untuk seleksi bersama skuad Persebaya U-21, lagi-lagi keberuntungan Firman tak berpihak dan memutus kembali asa yang tinggi untuk menjadi seorang pemain proesional.

Atas dukungan dari teman-teman dekat dan dorongan agar selalu berpikiran positif bahwa ada hikmah dari sebuah kegagalan, anak tunggal pasangan Heri Purwoko dan Muriati ini terus berlatih keras tanpa menyerah. Dan kesempatan untuk bisa menjadi pemain profesional pun datang di putaran kedua kompetisi ISL  U-21 dari tim Sumatera Sriwijaya FC, namun perjuangan untuk bisa terbang dan ikut seleksi bersama tim Wong Kito kembali dihadapkan pada sebuah masalah yang pelik. Biaya transportasi agar bisa menuju Sriwijaya membutuhkan dana yang tak sedikit dan hanya bisa ditempuh lewat jalur penerbangan untuk menghemat waktu yang mempet agar segera didaftarkan ke Badan Liga Indonesia.

Maklum dari segi Ekonomi, Firman tergolong dari keluarga yang tak mampu. Ayahnya hanya seorang peracik jamu di kawasan tempat tinggalnya di Simo Pomahan, Surabaya, sementra Ibunya sehari harinya adalah buruh tukang jahit sandal yang menggantungkan nasibnya dari setiap orderan yang ada, kalau pas tidak ada kerjaan hanya dirumah saja alias menganggur nunggu panggilan.

Kalau rejeki memang tak akan kemana, mungkin itulah kata-kata yang pas menggambarkan perjuangan Firman untuk bisa menjadi pesepakbola profesional dan menjadi tumpuan hidup kedua orang tuanya dan membuktikan bahwa semua yang dikatakan orang tak bisa menjadi pemain professional, salah. Bermodal uang pinjaman yang besarnya hanya untuk perjalanan ke Palembang, pemuda yang mempunyai tinggi badan 175 cm ini nekat mengadu nasib bersama Sriwijaya FC.

Doa orang tua memang mujarab. Syukur Alhamdulillah Sriwjaya FC yang memang membutuhkan seorang pemain yang bisa beroperasi di wing sayang berniat untuk merekrutnya. Bahkan kepercayaan managemen dan pelatih Sriwijaya U-21 dibayar lunas ketikan lascar Wong Kito muda ini berhasil memberikan perlawanan kepada Timnas U-19 saat uji coba Tur Nusantara jilid II, meski tim yang dibawanya kalah tipis 1-2 namun penampilannya sempat membuat sang pelatih kesemsem.

Bahkan timnya SFC U-21 kini mendapatkan tiket 12 besar kompetisi ISL U-21 yang rencananya akan digelar di Surabaya dengan Persebaya sebagai sebagai tuan rumahnya bersama dua tim lainnya yaitu Persija Jakarta dan Persit Tangerang yang rencananya akan ditabuh pada akhir Agustus ini.

Tiga bulannya lamanya bersama SFC U-21, Firman kembali mendapat ujian besar ketika dirinya bersama dengan 11 pemain SFC lain dan gabungan dari beberapa pemain ikut skuad Rudy Keltjes untuk mewakili Timnas Indonesia U-21 di COTIF Valencia, serta sebagai ajang persiapan Olimpiade 2016. Kini, anak tukang peracik jamu menuju pentas Eropa, lika-liku perjuangannya seakan menjadi cabuk untuk bisa tampi lebih baik lagi bersama dengan tim Garuda di Dadaku.

Meski kini namanya tak seheboh Evan Dimas yang sudah memberikan bukti kongkrit prestasi bersama dengan Timnas U-19, namun apresiasi tinggi patut dialamatkan pada diri sosok Firman yang tak mau tertenduk lesu pada semua keterbatasan yang ada. Bagaimana sepak terjang anak peracik jamu ini? Patut kita simak dalam geliat Timnas U-21 di Spanyol nanti.(win12)

Komentar