Achsanul Qosasi, calon Anggota BPK

Achsanul Qosasi

KANALSATU - Sepintas orang sering salah sebut nama tokoh muda ini. Bahkan beberapa media salah menuliskan ejaan namanya. Nama lengkapnya Achsanul Qosasi, namun terkadang disebut (vocab) Kosasih  - yang biasanya menjadi nama marga warga luar Jawa. Bahkan ada media massa yang menuliskan nama Aksanul dengan Qosasih. Ketika dijelaskan bahwa Achsanul Qosasi adalah berdarah Madura, justru tidak percaya.

Qosasi adalah bahasa arab. Dalam kamus bebas,  Qosasi bisa bermakna Keteguhan, Kebijaksanaan, Pengaruh,  atau Kekuasaan. Tapi ada bagian lain yang menyebut arti Qosasi adalah Suka Ilmu Pengetahuan, Cerdas dan Beruntung. Achsanul Qosasi yang pemilik  klub bola Madura United (MU) ini asli Madura, terlahir di Kabupaten Sumenep, 10 Januari 1966 – berzodiac Copricorn. 

Kini Achsanul (demikian biasa dipanggil) adalah Wakil Ketua Komisi XI DPR RI. Pada Pemilu Legislatif 2014, anggota fraksi Partai Demokrat ini tidak berhasil lolos ke Senayan. Padahal hubungannya dengan smayarakat Madura, khususnya pecinta klub MU sangatlah dekat. Penampilannya yang flamboyan bisa membawanya ke lapisan masyarakat kelas manapun. Namun karena tingginya “permainan” pada proses Pileg 2014,  Achsanul yang terbiasa dengan cara jalan lurus harus rela menelan pil pahit atas "kegagalannya"  masuk kembali ke Senayan.

Meski Achsanul memiliki latar-belakang sebagai bankir handal, mantan ekskutif sejumlah bank ini nampaknya terlanjur jatuh cinta di dunia pemerintahan. Setidaknya berkarir secara politik, baik di legislatif atau pun lembaga lain di pemerintahan. Kali ini Achsanul justru menyatakan keinginannya untuk menjadi Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Bahkan diketahui sudah mendaftar untuk mengikuti seleksi rekrutmen Anggota BPK.

Kenapa harus ke BPK ? Menurutnya, keinginannya itu didasari berbagai pertimbangan, salah satunya menguatkan fungsi pengawasan anggaran pembangunan. Karena peran BPK sangat strategis dalam mengawal tercapainya tujuan pembangunan. Khususnya pembangunan daerah.

"Saya sudah mengikuti tahapan prosesi rekrutmen sebagai Anggota BPK, dan tinggal persentasi visi-misi," kata Achsanul di Jakarta, Rabu (20/8/14).

Achsanul menaruh perhatian yang besar terhadap soal tata kelola keuangan daerah terkait pencapaian program pembangunan. Sebagian besar kesalahan pengelolaan keuangan di daerah, kata Achsanul, lebih dikarenakan kurang pahamnya SDM pengelolanya. Sekitar masalah tata-kelola keuangan daerah secara kelembagaan inilah yang akan disampaikan pada visi-misi nya sebagai calon Anggota BPK.

Putra Ulama Besar

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Achsanul Qosasi adalah putra KH Bahauddin Mudhary, seorang ulama besar tanah air yang tinggal di Sumenep - yang lebih dikenal sebagai Kristolog Ulung dari Madura.

Ayahnya yang otodidak itu pernah menulis sebuah buku tentang pengalamannya berdiskusi soal (study) perbandingan agama, yang kemudian buku itu membawa nama KH Bahauddin Mudhary terkenal secara internasional. Bahkan buku itu diterbitkan kembali edisi bahasa Inggris oleh Cambridge University Press, juga ada terjemahan dalam bahasa Belanda.

KH Bahauddin, ayah Achsanul, bukan hanya dikenal cerdas dalam pemikiran filsafat ilmu, tapi secara otodidak pula dikenal memiliki ketrampilan memainkan sejumlah alat musik mulai dari alat musik petik, gesek, tiup sampai tuts piano. KH Bahaudin muda memang pernah bersekolah di Kweek School Muhammadiyah  Yogyakarta pada 1940.  Meski hanya sebentar di sekolah itu, Kyai Bahauddin muda sudah menguasai sejumlah bahasa, diantaranya bahasa Arab, Jepang, Jerman, Prancis, dan Belanda. 

Figur Achsanul Qisasi yang juga dikenal cerdas, berjiwa seni dan memiliki  pergaulan luas itu -nampaknya mengalir darah ayahnya. Ketokohan Achsanul bisa menembus lintas batas, baik tradisi keilmuan, maupun tradisi sosial - budaya.

Achsanul mengawali pendidikannya (SD dan SMP) di Sumenep, Madura. Memasuki SMA, Achsanul pindah ke Jakarta dan kuliah di Universitas Pancasila Fak Ekonomi. Kemudian melanjutkan sekolah S2 di Jose Rizal University, Manila, Philippines. Selain sebagai bankir dan politisi, Achsanul juga menjabat Presiden Direktur PT Garuda Tani Nusantara (Gatara Group) yang mengelola sejumlah usaha.

Achsanul bisa disebut sebagai tokoh muda yang fenomenal. Meski secara politik dia berada di Partai Demokrat dan dikenal sangat dekat dengan Keluarga Presiden SBY, namun Achsanul juga dikenal sangat dekat dengan Prabowo Subianto, juga dengan Keluarga Bakrie dan sejumlah tokoh nasional yang secara politis justru berseberangan.

Belakangan, Achsanul banyak diminta oleh masyarakat Madura untuk pulang kampung menjadi pejabat Bupati. Sementara di Jakarta juga banyak diminta mengurus lembaga keuangan, juga diminta menjadi Ketua Umum PSSI. Namun Achsanul tetap memilih jalan karirnya sendiri. Kali ini maju secagai salah satu calon Anggota (Komisioner) BPK.

Achsanul selama ini juga dikenal sebagai ekonom yang sangat memahami persoalan ekonomi mikro. Karena memang banyak belajar tentang ekonomi-mikro yang nota-bene dekat dengan ekonomi masyarakat bawah - di sejumlah negara dunia ketiga, diantaranya di Filiphina, Bangladesh dan India. Maka itu tidak sedikit masyarakat di Jawa Timur yang menginginkan sosok Achsanul ke depan menjadi pejabat Gubernur Jatim dengan membangun basic ekonomi rakyat bawah atau ekonomi mikro. Semoga.(LH)

Komentar