Popong, tetap tegar meski mukanya ditunjuk-tunjuk

Meski ada anggota DPR RI yang tak pantas menepuk-nepuk pundaknya, namun Popong tetap tegar

KANALSATU – Meski usianya sudah 76 th, wanita kelahiran Bandung, 30 Desember 1938 ini secara phisik masih nampak segar dan tegar saat memimpin sidang praipurna, sidang memilih Pimpinan DPR RI. Perempuan yang tadinya berprofesi sebagai guru bahasa Inggris ini adalah Popong Otje Djundjunan dari fraksi Golkar. Dia relatif tegas dalam menghadapi “kericuhan dalam sidang” yang dilakukan oleh sebagian anggota DPR RI – khususnya dari PDIP.

Sungguh pun peserta sudah memahami penunjukkan Popong bukan berlatar kapasitas dalam memimpin sidang, tapi lebih karena sebagai usia tertua-, namun sebagaian anggota DPR RI yang terhormat itu telah telah gagal menunjukkan etika kesopanan dalam bersidang. Bahkan untuk diminta duduk ke kursi masing-masing pun sulit.

Popong pun terus saja melanjutkan tugasnya sebagai pimpinan sidang – meski misalnya Arif Wibowo (PDIP) secara terus-menerus “teriak-teriak” melalui microfon-nya sebagai tanda interupsi. Bahkan mantan aktivis GMNI ini berdiri dan merangsek maju ke meja pimpinan sidang bersama tiga teman se-fraksinya. Dan pemandangan yang sangat tidak sedap – ketika salah satu anggota DPR RI nekad mendekati Popong dan memegang-megang pundak Popong sebagai protes kepentingan fraksinya – meski mayoritas fraksi menyetujui keputusan pimpinan sidang. Begitu juga sikap yang ditunjukkan Henry Yosodiningrat (PDIP) dan Aria Bima (PDIP) yang menunjuk-nunjuk muka Popong.

Pengamat hukum Margarito Kamis – melalui TV One mengomentari jalannya sidang pimpinan Popong, menegaskan bahwa anggota DPR RI yang ricuh dalam bersidang itu sungguh telah menunjukkan level martabatnya yang rendah. “Terlepas dari siapa yang memicu kericuhan, apakah pimpinan sidang atau protes anggota, namun secara umum mereka telah gagal menunjukkan martabat DPR RI sebagai Lembaga Tinggi Negara. Mereka menunjuk-nunjuk pinpinan sidang seperti di pasar yang tidak bisa diterima akal, dan tak mengerti sopan santun,” kata Margarito.

Tokoh wanita Sunda

Popong pun terus saja melanjutkan sidangnya – meski hujan protes terus menyerangnya. Popong tetap nampak tenang dan masih bisa mengundang tawa sebagian besar peserta sidang. Pada usianya yang sudah 76 tahun, Popong sama sekali tidak menunjukkan kesan lelah dan pasrah menghadapi keributan sidang meski jam menunjukkan makin larut.

Pengamat pun ada yang mengira seolah sikap anggota yang ricuh itu sudah diagendakan untuk menunda keputusan sidang. Namun Henry Yosodiningrat melalui TV One mengatakan: “Mestinya yang anda tanyakan adalah kenapa saya harus maju ke depan meja pimpinan sidang. Karena pimpinan sidang otoriter. Banyak hal yang belum selesai sudah ketok palu. Jadi jangan salah, kami PDIP bukan bermaksud mengacaukan jalannya sidang,” kata Henry.

Selalu lantang

Sidangpun kemudian kian ricuh dan Popong pun benar-benar tidak sanggup melanjutkan sidangnya, sehingga sidang dihentikan tanpa status skors atau bukan. Namun Popong tetap saja nampak tenang dan menunjukkan kesan wanita dari Partai Gorlkar salah satu dapil Jawa Barat ini. Ketika baru saja sidang dimulai lagi oleh Popong  yang memimpin sidang ditemani Ade Rezki Pratama (anggota termuda, 26 tahun) -, kondisi sidang ricuh lagi dan sidang benar-benar di skors hingga waktu yang tak jelas.

Popong Otje Djundjunan bukan kali ini duduk di kursi DPR RI. Periode sebelumnya, politisi Golkar ini adalah anggota Komisi X yang membidangi pendidikan. Di Komisi X, Popong selama ini dikenal sebagai anggota yang kritis dan suaranya nyaring dalam menyampaikan pemikirannya. Sebagai anggota Komisi X, Popong memiliki pemahaman yang sangat luas dibidang pendidikan. (win5)

Komentar