Nelayan Juwana masih kesulitan solar

KANALSATU - Nelayan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, hingga kini masih mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar meskipun harga jualnya telah mengalami kenaikan dari Rp5.500 per liter menjadi Rp7.500 per liter.
“Ketika pemerintah menaikkan harga jual BBM, nelayan berharap ketersediaan solar cukup. Kenyataannya hingga kini belum juga mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nelayan,” kata Koordinator Front Nelayan Bersatu wilayah Pati Bambang Wicaksono di Pati, Senin (1/12/14).
Baca: Moratorium KKP picu kenaikan
harga ikan negara tetangga
Menurut dia, pasokan solar untuk nelayan lewat stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan memang tersedia, tetapi jumlahnya tak mampu memenuhi kebutuhan para nelayan. Akibatnya, masih ada puluhan kapal yang tidak bisa melaut karena volume solar yang diperoleh belum memenuhi kebutuhan melaut selama beberapa pekan.
Berdasarkan peraturan terbaru Menteri ESDM, kata Wicaksono, kenaikan harga BBM dan untuk kebutuhan nelayan, khususnya untuk kapal yang memiliki berat kurang dari 30 gross ton (GT) atau lebih dari 30 GT, tetap diperbolehkan menggunakan solar bersubsidi.
“Hanya saja, lanjut dia, untuk setiap kapal dibatasi sebanyak 25 kiloliter (KL) per bulan. Ini belum berjalan lancar seperti halnya di Jakarta dengan alasan di wilayah Pati belum ada kejelasan soal kebutuhannya. Kami menganggap BPH Migas yang mengatur soal distribusinya memang masih ada perbedaan cara pandang soal hal itu,” ujarnya.
Padahal, kata Wicaksono, nelayan di Kab. Rembang, Provinsi Jateng, tidak menghadapi masalah seperti yang dihadapi nelayan di wilayahnya. “Ini sangat merugikan karena problem solar terjadi beberapa bulan terakhir. Kini banyak nelayan yang memiliki tanggungan hutang di lembaga perbankan dan problem kebutuhan hidup keluarganya.”
Aksi demo nelayan yang dilakukan beberapa waktu lalu, tuturnya, memang mendapat respons, terutama pencabutan perizinan bagi kapal baru buatan dalam negeri. “Namun, tuntutan ketersediaan solar masih diperjuangkan, karena hingga kini pasokannya belum normal seperti sebelumnya.”
Informasi yang diterimanya menyebutkan, pasokan solar untuk nelayan akan kembali normal awal bulan ini. “Mudah-mudahan hal itu benar sehingga nelayan tidak perlu lagi melakukan aksi lanjutan.”
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Juwana Rasmijan membenarkan, beberapa nelayan di wilayahnya masih sulit mendapatkan solar untuk melaut, terutama kapal yang beratnya di atas 30 GT dengan kebutuhan solar hingga puluhan drum.
“Kami berharap, pemerintah pusat segera merespons permasalahan tersebut. Sebab, harga jual solar sudah dinaikkan, seharusnya permasalahan stok tidak perlu terjadi lagi,” ujarnya.(win10)