Anies Baswedan, ambisi sukseskan KIP

Anies Baswedan

KANALSATU – Janji Presiden Joko Widodo untuk mensukseskan program Kartu Indonesia Pintar (KIP) benar-benar diperjuangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. Mantan Capres Konvensi Partai Demokrat ini memastikan jika program KIP akan menjangkau sedikitnya 19 juta siswa pada 2015.

"Kalau dulu program Bantuan Siswa Miskin (BSM) hanya menjangkau 9 juta siswa, maka pada 2015 KIP akan menjangkau 19 juta siswa," ujar Anies di Jakarta, menjelang akhir tahun 2014. “Kementerian telah menganggarkan Rp7,1 triliun untuk KIP,” sambungnya. 

Mendikbud mengklaim KIP berbeda dengan BSM. "Kalau BSM diberikan pada siswa di dalam sekolah. Kalau KIP diberikan pada anak usia sekolah, baik yang sedang sekolah maupun putus sekolah," katanya seperti dilaporkan LKBN Antara.

Kemdikbud dan Kementerian Sosial, kata Anies, akan melakukan pendataan ulang untuk mensukseskan program KIP. “Kami ingin dikonsolidasikan jadi satu dengan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)-," katanya.  “Jika data terintegrasi, maka akan menghemat anggaran sekitar Rp250 miliar untuk pembuatan kartu,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Program KIP diberikan kepada anak putus sekolah agar dapat melanjutkan pendidikan ke lembaga formal atau nonformal seperti lembaga kursus dan balai latihan kerja.

Sosok Anies Baswedan

Dalam sejarah pasca kemerdekaan RI, nama Abdul Rahman Baswedan, atau biasa disebut AR Baswedan, tercatat sebagai Menteri Muda Penerangan pada 1946. Juga tercatat sebagai salah satu delegasi diplomatik Indonesia pimpinan H. Agus Salim ke Mesir, yang menghasilkan pengakuan dari Mesir (pengakuan pertama internasional) atas terbentuknya Negera Indonesia.

AR Baswedan, kakek Anies Baswedan

AR Baswedan adalah kakek (kandung) dari Anies Baswedan, cendekiawan dan pemikir muda kebanggaan Indonesia. Nama lengkapnya adalah Anies Rasyid Baswedan yang lahir di Kab Kuningan, Jabar – 7 Mei 1969. 

Anies yang dibesarkan di Yogyakarta itu merupakan anak pertama dari pasangan Rasyid Baswedan (putra AR Baswedan) dan Aliyah. Rasyid Baswedan (ayah Anies) adalah Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Sedangkan sang ibu, Aliyah, tercatat sebagai guru besar di IKIP Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta).

Dibesarkan di lingkungan keluarga berbasis akademis, membuat Anies Baswedan menyadari pentingnya pendidikan. Sehingga wajar-wajar saja jika anak muda ini kini dipercaya sebagai Menteri Pendidikan. Karena sejak kecil sudah mencintai dunia pendidikan.

Pada Mei 1996,  Anies menikahi F. Farhati Ganis, dikaruniai empat anak, yakni: Mutiara Annisa, Mikail Azizi, Kaisar Hakam dan Ismail Hakim.

Anies yang dikenal sebagai intelektual muda ini merupakan lulusan FE UGM Yogyakarta, melanjutkan S2 di University of Maryland - AS, dan program doktor (S3) di Northern Illinois University – AS.

 Ketika usianya genap 38 tahun, Anies sudah menjabat Rektor Universitas Paramadina menggantikan DR. Nurcholish Madjid (cendekiawan muslim).

Kalangan muda banyak yang bangga kepada figur Anies Baswedan, karena pemikirannya yang cemerlang, universal, berkualitas, dan berpenampilan santun. Banyak pihak berharap pemikir muda keturnan Arab ini bisa menjadi guru bangsa ke depan, seperti Nurcholish Madjid, pendahulunya di Paramadina.

Banyak khalayak yang senang karena Anies tidak bergabung di partai, dan bukan caleg dari sebuah partai. Karena sudah terlalu banyak pemikir di republik ini – kemudian luntur identitasnya – gara-gara masuk ke wilayah kekuasaan dan politik. Sedangkan Anies tidak. Dia tetap pada jalur akademis dan pemikiran, setidaknya di Universitas Paramadina.

Hanya saja, khalayak muda Indonesia sempat terkejut hebat saat mendengar kabar tentang keikut-sertaan Anies Baswedan pada Konvensi Capres yang digelar Partai Demokrat. Pengganti Nurcholis Madjid di Paramadina ini mengikuti secara seksama tahapan demi tahapan konvensi, seolah partai yang diketuai oleh Presiden SBY itu akan memberinya harapan masa depan karirnya.

Bahkan Anies Baswedan terkesan tidak mempedulikan elektabilitas Partai Demokrat yang nota-bene terus menurun dari banyak versi survei politik, menjelang pemilu legislatif 2014. Anies terkesan optimistis bahwa Partai Demokrat adalah jalan masa depan-nya.

pemikir trah Paramadina

Anies mungkin saat itu lupa bahwa menjadi presiden, persyaratan cerdas dan intelektual saja tidak lah cukup. Menjadi presiden bukan sekedar mampu berfikir dan sekedar berpidato di mimbar. Tapi di sana, di pergulatan perebutan kekuasaan, ada banyak sistem permainan yang berjalan sendiri di luar mekanisme, dan terkadang memaksa orang yang ikut di dalamnya bisa gelap mata, lupa diri, berbuat nekad, culas, bohong, bahkan curang.

Khalayak, mungkin saat itu, hanya bisa berdoa: Mudah-mudahan Anies Baswedan diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Sampai akhirnya Anies benar-benar “terlempar” dari konvensi Partai Demokrat. Namun instink politiknya tetap jalan, sehingga kemudian bergabung dengan tim pemenangan Capres Joko Widodo.

Alhamdulillah. Anak muda ini seolah dikembalikan kepada dunianya, yakni Pendidikan. Anies bersama 33 orang lainnya dipercaya oleh Presiden terpilih sebagai salah satu menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. (win5)

Komentar