M. Nadjikh, raih PWI Jatim Award

KANALSATU - Presiden Joko Widodo gencar melakukan revitalisasi sektor kemaritiman, karena potensinya dinilai sangat besar – khususnya sub-sektor perikanan, sampai-sampai ada menteri khusus yang ditugasi melakukan koordinasi di bidang maritim, yakni Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia yang dijabat oleh seorang ahli di sektor tersebut, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M. Sc.

Besar sekali potensi kelautan nasional, khususnya sektor perikanan. Tapi tidak banyak pengusaha nasional yang memanfaatkan maksimal potensi laut Indonesia yang sangat luas. M. Nadjikh adalah salah satu pengusaha yang berhasil memanfaatkan isi laut, dan bisnisnya itu telah menjadi simpul utama penggerak ekonomi kelautan di Indonesia.

Pengusaha kelahiran Gresik, 8 Juni 1962, ini dikenal sebagai pemain utama di industri produk-produk kelautan. Tangan dinginnya telah menggerakkan wilayah pesisir menjadi lebih dinamis. Bisnisnya seluas laut. Dia mengembangkan usaha produk makanan laut hingga ke luar negeri. Grup Kelola Mina Laut (KML) yang dikembangkannya kini dikenal sebagai eksportir terbesar di bidang produk-produk kelautan. Wilayah pasarnya menjangkau Jepang, China, Korea Selatan, Australia, Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika Serikat. Dalam sebulan, KML rata-rata mengekspor produk makanan laut hingga 100-200 kontainer 40 feet.

Namun, Nadjikh tidak tiba-tiba meraih sukses. Berangkat dari keluarga sederhana, tak cukup mudah bagi Nadjikh untuk bisa menempuh pendidikan di bangku kuliah. Dia hanya berbekal nilai akademis yang bagus dan kekuatan tekad untuk melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) setelah menyelesaikan pendidikan hingga SMA di Gresik.

M. Najikh, tengah

Sembari menempuh ilmu di pusat ilmu pertanian terbaik di Indonesia itu, Nadjikh muda mengisi hari-harinya dengan memberi les privat dan menjadi asisten dosen. Selain itu, dia juga ikut membantu mengerjakan proyek riset dosen-dosennya. Nadjikh merampungkan studi sarjana dalam waktu tak sampai empat tahun. Setelah itu, dia sempat mengajar di almamaternya selama enam bulan.

Namun, Nadjikh akhirnya memutuskan untuk pulang kampong ke Gresik. Dia kemudian bekerja di sebuah perusahaan penyimpanan hasil laut (cold storage). Karirnya terus meroket hingga dipercaya menjadi manajer pengembangan usaha. Meski demikian, Nadjikh tak mau berada di comfort zone. Setelah lama bekerja untuk perusahaan orang lain, Nadjikh akhirnya banting setir dan memutuskan untuk memulai bisnis sendiri. Dia mengambil keputusan besar: resign dari perusahaan tempatnya bekerja selama kurang-lebih 4,5 tahun.

Tak mudah bagi Nadjikh untuk memulai bisnis sendiri. Saat itu usianya 30 tahun. Dia memulai usahanya dari sebuah gubuk bambu sederhana yang disulapnya menjadi tempat pengolahan teri secara sederhana. Hanya berbekal tekad, Nadjikh yakin bahwa dirinya pasti bisa. Kalau pun gagal, misalnya, dia yakin bisa bangkit lagi. Nadjikh merasa usia 30 tahun masih cukup muda dan tangguh untuk merasakan pahitnya sebuah kegagalan bisnis. Karena itu Nadjikh tak takut, tetap jalan dengan modal tawakal.

Pelan tapi pasti, usaha sederhana yang dirintis finalis Entrepreneur of The Year 2003 dari Ernst and Young ini terus membesar. Pemasaran dan penjualan produknya menjangkau ke berbagai kawasan.  Saat ini Grup KML mempunyai sedikitnya 34 pabrik pengolahan makanan laut yang tersebar di sejumlah tempat, mulai kawasan-kawasan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, Pulau Madura, hingga Sulawesi Selatan. Merek produk Grup KML sangat beragam, antara lain, Prima King, Tropical Queen, Panorama, dan Prima Star.

Pasar yang terus berkembang hingga bisa mengekspor ke banyak negara di empat benua membuat penyerapan tenaga kerja Grup KML juga kian meningkat. Grup KML kini mempekerjakan sedikitnya 125.000 nelayan di berbagai wilayah pesisir. Selain itu, masih ada sekitar 7.000 tenaga kerja, 500 tenaga terampil, dan 175 pekerja di level manajemen. Dengan asumsi satu pekerja menghidupi satu orang lainnya, maka tak kurang dari 266.550 manusia jiwa ikut terbantu oleh keberadaan bisnis yang dikembangkan oleh Nadjikh.

”Filosofi utama dari bisnis memang membantu kehidupan orang lain, membahagiakan orang lain. Dengan memulai bisnis, kita bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Itu  tugas yang berat dan mulia,” ujar Nadjikh.

Terkait prestasinya tersebut, PWI Jatim merasa perlu untuk memberikan penghargaan (PWI Jatim Award) kepada Nadjikh. Jauh sebelum Presiden Jokowi bertekad memajukan sektor kemaritiman, Nadjikh sudah melanglang dan sukses di bisnis sektor perikanan.

“Penghargaan kepada pak Nadjikh diharapkan bisa menjadi motivasi untuk tetap konsisten di bisnis perikanan, serta makin besar bisnisnya di sektor tersebut. Juga menjadi motivasi bagi masyarakat bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk dimasuki dan ditekuni, sebagaimana digambarkan oleh pemerintah dan telah dibuktikan oleh pak Nadjikh,” kata Ketua PWI Jatim Akhmad Munir.

Bagi Nadjikh, bisnis adalah persoalan untuk terus memberikan nilai tambah bagi kehidupan. Dalam bisnis, nilai tambah diwujudkan dalam berbagai inovasi produk makanan laut yang diproduksi oleh perusahaannya. Selain itu, peningkatan layanan ke konsumen juga bagian dari nilai tambah yang diberikan oleh Nadjikh dan kelompok perusahaannya.

Meski sudah terbilang sukses, Nadjikh tak berbesar hati dan tak besar kepala. Peraih International Award for Best Performance 2002 dari Council of International Awarda United Kingdom. Ini tetap berusaha mengembangkan bisnisnya, baik dari sisi produk, wilayah pemasaran, maupun skala usaha. Nadjikh mengirim staf-stafnya untuk mengikuti berbagai pelatihan dan seminar pengembangan bisnis di luar negeri. Dengan pelatihan dan seminar tersebut, staf-stafnya diharapkan bisa memetik ilmu dan pengalaman yang berharga untuk diterapkan di Indonesia.

Kini, setelah kian sukses, Nadjikh tentu saja tak lupa pada masa lalunya. Dengan tanpa pamrih dia terus aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, seperti di Majelis Ekonomi Muhammadiyah. Peraih Primaniyarta Award 2005 kategori Eksportir Berkinerja ini juga dengan sukarela aktif berbicara dalam seminar dan pelatihan kewirausahaan di kalangan generasi muda. Nadjikh sering momotivasi anak-anak muda, jangan ragu dan takut untuk mulai berbisnis. “Berbisnis bukan untuk kepentingan kita, bukan karena kita ingin kaya atau serakah, tapi harus dilandasi keinginan untuk membahagiakan orang lain dan membantu sesama,“ tutur Nadjikh.(win5)

 

Komentar