ExxonMobil catat penurunan laba 52,3%

KANALSATU - ExxonMobil, Jumat (31/07), melaporkan laba kuartal keduanya anjlok lebih dari 50 persen akibat penurunan drastis harga minyak mentah.
Laba 4,2 miliar dolar Amerika (sekitar Rp56,74 triliun), turun 52,3 persen dibanding periode setahun lalu, menjadi laba kuartal terlemah sejak 2009. Sedangkan pendapatan turun 33,4 persen menjadi 74,1 miliar dolar Amerika (sekitar satu kuadriliun rupiah).
Hasil tersebut menunjukkan dampak anjloknya harga minyak pada kuartal kedua hingga kisaran harga sekitar 45 hingga 60 dolar Amerika (sekitar Rp607.935 hingga Rp807.715 ) per barel, dibandingkan dengan harga lebih dari 90 dolar Amerika (sekitar Rp1,21 juta) per barel pada periode yang sama selama 2014.
Penghasilan dalam bisnis hulu, yang mengeksplorasi dan memproduksi minyak mentah, anjlok sekitar 75 persen menjadi dua miliar dolar Amerika (sekitar Rp26,92 triliun).
Namun, harapan muncul saat terjadi peningkatan produksi hulu sebesar 3,6 persen menjadi 2,3 juta barel per hari.
Hasil itu terdongkrak laba lebih tinggi baik dalam bisnis hilir dan kimia, yang sebagian didasarkan pada minyak mentah sebagai input.
Pendapatan di bisnis hilir naik lebih dari dua kali lipat menjadi 1,5 miliar dolar Amerika (sekitar Rp20,25 triliun), sedangkan laba dalam bisnis kikia naik 48,1 persen menjadi 1,2 miliar dolar Amerika (sekitar Rp16,2 triliun).
“Hasil kuartal kami menunjukkan dampak berbeda atas kondisi harga komoditas terbaru, namun juga menunjukkan kekuatan operasional baik, kemampuan pelaksanaan proyek superior, serta berlanjutnya disiplin dalam pengelolaan modal dan pengeluaran kami,” menurut pernyataan CEO ExxonMobil Rex Tillerson.(AFP/Antara)