Sinergi proyek LRT, Adhi Karya right issue Rp2,735 triliun

KANALSATU - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) Persero, siap melakukan "right issue" atau menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) senilai Rp2,735 triliun untuk memenuhi kebutuhan dana pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) di kawasan Jabodetabek.
"Tanggal 22 September 2015 akan digelar Rapat Pemegang Saham untuk mengesahkan `right issue`. Jadi kami perkiraan awal bulan Oktober 2015 `right issue` sudah bisa dilaksanakan," kata Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan, di sela "Ground Breaking" LRT Indonesia, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu.
Menurut Kiswodarmawan, harga right issue per saham belum bisa disebutkan, karena harga saham Adhi Karya di pasar modal sedang mengalami kenaikan.
Ia menjelaskan, dana yang diperoleh dari hasil right issue tersebut akan digunakan untuk membiayai sebagian modal pembangunan infrastruktur LRT.
Menurut catatan, total investasi pembangunan LRT mencapai sekitar Rp23,8 triliun.
Menurut Kiswodarmawan pada tahap I pembangunan LRT tiga trase, yaitu Cibubur-Cawang sepanjang 13,7 kilometer, Cawang-Dukuh Atas sepanjang 10,5 kilometer dan Bekasi Timur-Cawang sepanjang 17,9 kilometer dengan total investasi Rp11,9 triliun.
Tahap II lintas Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan dan Palmerah-Grogol dengan panjang 41,5 kilometer.
Pelaksanaan pembangunan tahap I dimulai kuartal IV 2015 dan direncanakan selesai tahun 2016. Sedangkan tahap II dimulai kuartal IV 2016 dan selesai pada akhir tahun 2018.
Kiswodarmawan menjelaskan, selain "right issue", pembangunan LRT juga akan dibiayai dari Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN-P 2015 yang mencapai Rp1,4 triliun dan dari dana publik senilai Rp1,35 triliun untuk mendukung permodalan perusahaan.
"Pembiayaan juga akan diupayakan dari pinjaman perbankan. Bank-Bank BUMN seperti Mandiri, Bank BNI, BRI dan BTN siap membentuk konsorsium untuk memberi pinjaman," tegasnya.
Pembangunan LRT Indonesia merupakan sinergi BUMN dan BUMD antara lain Jasa Marga, PPD, RNI, Bulog, JakPro, BNI, Bank Mandiir, BRI dan BTN.
"Sinergi BUMN dan BUMD ini mulai dari pengembangan lahan, pembiayaan, konstruksi dan operasional, sehingga menciptakan nilai tambah baik bagi masyarakat maupun korporasi," ujarnya.(Antara)