Ketum PBNU dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

KANALSATU – Presiden Joko Widodo telah menunjuk Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri untuk menggantikan Badrodin Haiti yang akan masuk massa pensiun bulan depan. Keputusan Jokowi ini dinilai berani oleh beberapa kalangan politikus karena Komjen Tito melompati 4 angkatan.
Namun dukungan kepada Tito Karnavian untuk menjabat sebagai Kapolri terus mengalir, tak hanya dari kalangan seniornya di jajaran Kepolisian saja namun dukungan untuk Tito mengalir dari kalangan politikus Indonesia dan pemimpin partai Islam di Indonesia.
Tak terkecuali dari Ketum PBNU, Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj, menurutnya pencalonan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal (Komjen) Tito Karnavian sudah sangat tepat sekali.
“Penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri sangat tepat sekali. Sebagai Perwira Polisi Tito telah menunjukan kinerja yang baik sekali dan profesional di setiap jabatan yang diembannya. Terutama mampu mengatasi terorisme di Ibukota beberapa waktu lalu tak kurang dari lima jam,” ungkap Said, Kamis (16/6/16) kepada kanalsatu.com.
Said Aqil juga menambahkan, selain seorang pekerja keras Tito juga pribadi yang taat kepada Agamanya, merakyat dan mudah bergaul dengan semua kalangan. “Usianya yang masih muda dan berpikiran cerdas tentu sangat potensial sekali untuk bisa membawa Kepolisian lebih baik lagi,” tambahnya.
Kedepan, dengan jiwa kepemimpinannya, penegakan hukum di Indonesia akan berjalan lebih baik lagi. Dan jika nanti sudah disahkan dan dilantik oleh Presiden Jokowi, Tito harus tetap melanjutkan penataan dan reformasi ditubuh Polri seperti yang diinginkan oleh Bapak Presiden.
“Dan kami berharap kepada Kapolri yang baru bisa melanjutkan kerjasama yang apik dengan PBNU dalam rangka pencegahaan terorisme dan deradikalisasi serta pemberantasan Narkotika. Insyaallah kerjasama apik dengan Kapolri yang baru nanti semakin memberikan jaminan rasa aman kepda masyarakat Indonesia umumnya dan warga NU khususnya,” pungkasnya.
Prestasi
1. Penangkapan Tommy Soeharto
Karier Tito dalam kepolisian cepat melesat berkat prestasi yang dicapainya. Tahun 2001, Tito yang memimpin Tim Kobra berhasil menangkap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra (mantan) Presiden Soeharto dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin. Berkat sukses menangkap Tommy, Tito termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa.
2. Densus 88
Tahun 2004, ketika Densus 88 Antiteror Polda Metro Jaya dibentuk untuk membongkar jaringan terorisme di Indonesia, Tito yang saat itu menjabat Ajun Komisaris Besar (AKBP) memimpin tim yang terdiri dari 75 personel. Unit antiteror ini dibentuk oleh Kapolda Metro Jaya (waktu itu) Irjen Firman Gani.
3. Penangkapan Azahari Husin
Tito juga termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa saat tergabung dalam tim Densus 88 Antiteror, yang melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005. Ia turut mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Kombes Pol.
4. Konflik Poso
Densus 88 Antiteror juga berhasil menangkap puluhan tersangka yang masuk dalam DPO di Kecamatan Poso Kota, 2 Januari 2007. Tito dan sejumlah perwira Polri lainnya juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus orang-orang yang terlibat di balik konflik tersebut.
5. Penangkapan Noordin Mohammad Top
Tito termasuk perwira yang bergabung dalam tim penumpasan jaringan terorisme pimpinan Noordin Mohammad Top tahun 2009.
Karier
- Perwira Samapta Polres Metro Jakarta Pusat (1987)
- Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat (1987–1991)
- Wakapolsek Metro Senen Polres Metro Jakarta Pusat (1991–1992)
- Wakapolsek Metro Sawah Besar Polres Metro Jakarta Pusat
- Spri Kapolda Metro Jaya (1996)
- Kapolsek Metro Cempaka Putih Polres Metro Jakarta Pusat (1996–1997)
- Spri Kapolri (1997–1999)
- Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya (1999–2000)
- Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya (2000–2002)
- Kasat Serse Tipiter Reserse Polda Sulawesi Selatan (2002)
- Koorsespri Kapolda Metro Jaya (2002 – 2003)
- Kasat Serse Keamanan Negara Reserse Polda Metro Jaya (2003 – 2005)
- Kaden 88 Anti Teror Polda Metro Jaya (2004 – 2005)
- Kapolres Serang Polda Banten (2005)
- Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Polri (2005)
- Kasubden Penindak Densus 88 Anti Teror Polri (2006)
- Kasubden Intelijen Densus 88 Anti Teror Polri (2006 – 2009)
- Kadensus 88 Anti Teror Polri (2009-2010)
- Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (2011- Sept 2012)
- Kapolda Papua (21 Sept 2012-16 Juli 2014)
- Asrena Polri (16 Juli 2014-12 Juni 2015)
- Kapolda Metro Jaya (12 Juni 2015-16 Maret 2016)
- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) (16 Maret 2016-sekarang)