Trump dan Kim Jong Un Ucapkan Selamat Atas Kemenangan Putin

KANALSATU - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengucapkan selamat kepada Vladimir Putin atas kemenangannya dalam pemilihan umum.
Keduanya kemudian membahas mengenai pentingnya upaya bersama untuk membatasi persaingan senjata dan meningkatkan kerja sama ekonomi, setelah perselisihan dengan Inggris atas serangan terhadap mata-mata Rusia memperkeruh hubungan dengan negara Barat.
”Donald Trump mengucapkan selamat kepada Vladimir Putin atas kemenangannya dalam pemilihan presiden,” kata Kremlin dalam sebuah pernyataan usai panggilan telepon Trump, dua hari setelah pemilihan kembali Putin.
“Mengatasi masalah sehubungan dengan kemungkinan mengadakan pertemuan di tingkat tertinggi menjadi perhatian khusus. Pentingnya upaya bersama untuk membatasi persaingan senjata juga ditekankan,” kata pernyataan tersebut sekaligus menambahkan bahwa kedua pemimpin membahas peningkatan kerja sama ekonomi.
Mereka juga membahas krisis di Ukraina dan Suriah, serta program nuklir Pyongyang saat Trump memajukan rencana untuk mengadakan KTT bersejarah dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Ucapan selamat juga disampaikan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas kemenangannya di pemilu presiden dan mengharapkan kesuksesannya dalam membangun bangsa yang kuat.
Berbeda dari beberapa pemimpin dunia lain yang enggan menyampaikan ucapan selamat, Kim mengatakan bahwa terpilihnya kembali Putin dalam pemilu ”merupakan ungkapan dukungan dan kepercayaan yang besar dari rakyat Anda kepada Anda”.
Pemimpin Korea Utara itu, dalam pesan yang dikutip oleh kantor berita pemerintah KCNA, mengungkapkan keyakinan bahwa sejarah panjang hubungan persahabatan antara negara mereka akan terus berlanjut dan mengharapkan kesuksesan Putin dalam tugas membangun Rusia lebih kuat lagi.
Korea Utara dijatuhi sanksi berat internasional yang ditujukan untuk mengekang program nuklir dan rudal mereka. Dan Moskow diisolasi sampai batas yang belum pernah terlihat sejak Perang Dingin menyusul insiden peracunan mantan mata-mata di Inggris, dan sanksi baru dari Washington atas dugaan campur tangannya di pemilu Amerika Serikat (AS) pada 2016.
AS sebelumnya pada tahun ini menuding Rusia membantu sekutunya Korea Utara menghindari beberapa sanksi internasional, dengan menyuplai bahan bakar dan langkah lainnya. Rusia menuntut bukti atas tudingan tersebut. (AFP/Ant/KS-5)