Sayangi Sampah, Dulang Rupiah

KANALSATU – Siang itu matahari di Sidoarjo cukup terik. Sebuah mobil bak terbuka berwarna coklat yang sarat muatan baru saja berhenti di halaman sebuah joglo yang terletak di ujung Jalan Raya Rajawali Utara, Perum Rewwin, Waru, Sidoarjo.
Tidak menunggu lama, seorang perempuan yang bersepatu boot hijau dan mengenakan topi yang menutupi wajahnya segera menghampiri mobil tersebut. Dengan cekatan, ia membuka tali yang mengikat muatan di bak belakang mobil tersebut.
Mobil tersebut membawa sampah plastik dan kertas yang baru saja diambil dari outlet atau gerai sampah di beberapa RT di wilayah RW 06, Kelurahan Kepuhkiriman, Waru, Sidoarjo. Sampah-sampah itu oleh pemiliknya memang sengaja dikirim ke Bank Sampah Makmur Sejati (BSMS) yang yang dikelola pengurus RW 06.
Adalah Tri Wahyuni Juwita Purnawi atau biasa disapa Bu Pur, motor penggerak BSMS yang oleh pengurus RW dipercaya sebagai manajer bank sampah itu sejak lima tahun lalu. Selama itu sebagian besar waktunya dihabiskan untuk kegiatan pengelolaan sampah di BSMS.
Di usianya yang sudah menginjak 58 tahun, Bu Pur masih terlihat gesit dan penuh semangat. Hampir setiap hari, bersama beberapa orang ibu dan seorang pegawai, ia tekun memilah sampah di BSMS.
Keberadaan Bu Pur memang tak bisa dilepaskan dari BSMS. Maklum, sejak bank sampah itu didirikan pada tahun 2014 lalu, ia sudah terlibat di dalamnya. Mula-mula ia diminta menjadi Kader Lingkungan di wilayah RW-nya. Dari situlah keterlibatannya pada proses awal pendirian bank sampah tersebut. “Waktu awal dulu ada 11 ibu-ibu yang ikut bergabung, sekarang tinggal empat orang saja dengan saya. Saya membentuk tim SSWW alias Set Set Wat Wet. Pokoknya gerak cepat,” ujarnya sembari mengumbar tawa ketika ditemui, Jumat (14/12/201).
Bu Pur menuturkan, sebelum di BSMS ia pernah bekerja selama 13 tahun di sebuah perusahaan makanan ringan di Tropodo, Sidoarjo. Di perusahaan itu ia sempat menempati berbagai jabatan hingga dipercaya menjadi auditor. ”Karena tugasnya mengaudit, ada aja yang tidak suka. Sampai pernah ada satu kejadian yang hampir mencelakakan diri saya. Dari situ suami dan anak-anak mulai khawatir. Akhirnya saya keluar dan membuka toko kelontong kemudian aktif di kegiatan kampung,” tuturnya.
Pengalaman dalam mengorganisir dan membuat perencanaan pekerjaan saat bekerja di perusahaan itulah yang kemudian diterapkan dalam proses pengelolaan sampah di BSMS. Termasuk juga kemampuan mengorganisir dan menggerakkan ibu-ibu di wilayah RW-nya dan RW lain agar mau memilah sampah.
Di keluarganya sendiri sebenarnya kegiatan pemilahan sampah sudah bukan barang baru. Sejak dulu ia sudah melakukan pemilahan sampah dan kemudian dibawa ke pengepul yang tidak jauh dari rumahnya. Sampah-sampah itupun menjadi rupiah. Kebiasaan memilah sampah di keluarganya itu juga ditularkan kepada ibu-ibu di BSMS.
Berbekal pengalaman serta kegigihan pengurusnya, BSMS terus berkembang. Nasabah bank sampah ini terus bertambah. Dari yang awalnya hanya puluhan orang, sekarang sudah tercatat 1.500 nasabah, yang tersebar di 11 desa yang ada di kecamatan Waru, Sidoarjo.
Jenis atau item sampah yang dikelola juga terus bervariasi. Dari semula hanya dalam hitungan jari kini sekurangnya ada 30 item sampah.
Di BSMS, semua jenis sampah kering bisa menjadi uang. Sampah-sampah yang bisa disetorkan adalah semua sampah kering (anorganik) mulai botol plastik, gelas plastik, tutup galon atau botol, bak, plastik keras, plastik bening, koran, kardus, HVS, majalah, kaleng, aluminium dan botol beling.
Setiap sampah memiliki harga tersendiri. Semakin sampah terpilah sesuai jenisnya, semakin mahal harganya. Misalnya, gelas plastik yang sudah bersih dari tutup labelnya akan dihargai Rp 6 ribu per kilogram (kg), sedangkan bila masih ada tutup labelnya harganya hanya Rp 2.500 per kg.
Bila warga tidak memilah sendiri, maka selisih harga sampah per item akan diberikan kepada pengurus BSMS. Dengan begitu, pemilahan sampah menjadi hal penting, karena semakin terpilah akan semakin dihargai oleh pabrik yang menerima sampah.
BSMS kini juga menerima ban bekas, sepatu, bahkan minyak jelantah dan karak (nasi kering). Minyak jelantah juga penting untuk ditangani karena kalau dibuang begitu saja bisa merusak lingkungan. Di BSMS, minyak jelantah yang disetorkan dihargai Rp 500 per liter. ”Jelantah yang dibuang sembarangan akan bisa merusak lingkungan. Padahal masih bisa dimanfaatkan lagi menjadi bahan baku biodiesel. Sedangkan karak akan disalurkan ke pabrik biokompos,” ungkap Bu Pur.
Selaras dengan penambahan jumlah nasabah serta item sampah yang dikelola oleh BSMS, jumlah sampah yang terkumpul juga terus meningkat. Pada tahun 2018 lalu, jumlah sampah mencapai sebanyak 100 Kg per bulan, atau naik 100% dibandingkan dengan pencapaian jumlah sampah pada tahun 2017 sebanyak 50 Kg per bulan. Dari jumlah sampah tersebut yang paling banyak adalah sampah plastik flexible yang biasanya digunakan sebagai kemasan makanan dan minuman, sampo atau kopi sachet.
Di BSMS, setiap sampah yang disetor akan ada catatannya. Para warga bisa menyetorkan sampah-sampah keringnya, kemudian mereka mendapat uang yang di simpan dalam tabungan. Setiap nasabah mempunyai catatan tabungan masing-masing. Di tabungan tertera harga per item sampah yang ditukar.
Setiap sampah plastik yang terkumpul kemudian dipilah-pilah lagi. Botol plastik yang putih bening dipisahkan dari yang berwarna hijau atau lain-lain. Tutupnya juga dikumpulkan terpisah. Pun demikian untuk gelas plastik, akan dipotong bagian bibir gelasnya.
Plastik yang memuat label merk minuman juga akan dikumpulkan terpisah. Begitu juga plastik kemasan minuman sachet juga dikelompokkan terpisah. “Semuanya bisa dijual,” tandas Bu Pur.
Ia menuturkan sampah-sampah yang dikelola BSMS dikumpulkan dari oulet atau gerai yang menjadi lokasi pengumpulan sampah di masing-masing RT. Setiap outlet beranggotakan kurang lebih 25 orang. Saat ini ada 60 outlet yang rutin menyetor sampah ke BSMS. Harapannya kedepan setiap bulan ada penambahan dua outlet sehingga akan meningkatkan kelolaan sampah di BSMS.
Selain melalui outlet, BSMS juga menerima nasabah perorangan. Hanya saja, untuk perorangan ini harus menyetorkan sendiri sampahnya langsung ke BSMS. Berbeda dengan outlet yang bisa dibantu pengambilannya oleh BSMS melalui armadanya.
Masih pada upaya peningkatan jumlah kelolaan sampah, BSMS juga tak sekedar mengandalkan sampah dari rumah, tetapi juga warung kopi yang banyak menghasilkan sampah plastik. Setidaknya sekarang ini sudah ada tiga warung kopi yang aktif menyetor ke BSMS.
Kendati BSMS berada di Desa Kepuhkiriman, warga yang bisa menjadi nasabah tidak terbatas hanya warga yang tinggal di wilayah tersebut saja. Misalnya saja Nunuk, warga Desa Kureksari, Waru Sidoarjo, yang sudah tiga tahun menjadi nasabah BSMS.
Sampah-sampah plastik yang telah dikumpulkannya disetor langsung ke BSMS. Sampah yang dikumpulkannya terdiri dari dua karung besar, satu karung berisi sampah plastik kemasan dan satunya lagi berisi gelas plastik. “Bank sampah ini sangat membantu perekonomian keluarga saya,” terang dia. Tabungan dari bank sampah bisa dibuatnya modal berjualan. Ia membuka toko kelontong di rumahnya.
Sedangkan bagi warga di wilayah binaan BSMS, mereka bisa langsung mengumpulkan sampah ke bank sampah tersebut setelah dipilah. Namun tidak semua orang mau repot-repot mengumpulkan, memilah dan membersihkan sampah untuk dibawa ke bank. Mereka memilih untuk memercayakan kepada koordinator sampah di lingkungannya.
Dewi Masito, warga RT 02 RW O8 adalah koordinator pengumpul sampah untuk sekitar 40 warga di sekitar rumahnya. Sampah dikumpulkan dari rumah-rumah warga, dipilah dan dibersikan agar bisa laik diberikan ke bank sampah. Ketika petugas dari BSMS sudah datang, mereka bisa langsung menyerahkan sampah yang sudah dipilah. Jadwal pengambilan setiap hari Selasa dan Jum at mulai pukul 09.00-16.00 WIB.
Sudah tiga tahun terakhir Dewi menabung di bank sampah, jumlah uang yang didapatnya mencapai sekitar Rp700.000. “Lumayan buat tambahan mencukupi kebutuhan di RT,” imbuh Dewi.
Sejauh ini, BSMS sudah banyak mencetak rupiah. Berbanding lurus dengan peningkatan jumlah sampah, tahun 2018 lalu dana yang dikelola dari pengelolaan sampah mencapai Rp 8,5 juta per bulan. Ya, sampah bila diolah dengan baik maka akan memiliki nilai lebih. “Nah, tahun ini dana yang dikelola bisa meningkat menjadi Rp 9 juta per bulan,” kata Bu Pur.
Setelah sampah dipilah, setiap beberapa hari sekali akan dilakukan pengambilan oleh perusahaan yang akan memproses sampah-sampah tersebut. Pembayarannya langsung saat itu juga. ”Banyak kok perusahaan sekitar sini yang membutuhkan sampah-sampah ini. Selain pertimbangan harga, kami juga melihat penawaran mereka,” kata Bu Pur.
Misalnya ada yang menawarkan selisih harga tidak terlalu besar namun mau mengambil ke BSMS, maka akan dipilih menjadi rekanan karena saat ini BSMS sendiri sudah kekurangan tenaga kerja. Bahkan tidak jarang Bu Pur harus menyetir dan mengantarkan sendiri sampah ke perusahaan-perusahaan tersebut.
Untuk BSMS sendiri Bu Pur mengaku saat ini sudah overload. Ia berharap ada tempat yang lebih luas dan tertutup. ”Sekarang ini kan terbuka, kalau hujan itu bingung, basah semua dan juga tikus-tikusnya itu lho..,” ujarnya. Selain itu, dengan semakin banyaknya sampah yang terkumpul, tentunya juga butuh tenaga kerja tambahan.
Meskipun BSMS sudah semakin maju, perempuan asli Denpasar ini merasa apa yang ia lakukan masih sangat kecil. Ia berharap akan semakin banyak orang yang sadar untuk memilah sampah. “Dan yang tidak boleh dilupakan juga adalah konsisten melakukan 3R (Reduce, Reuse, Recycle),” tandasnya.
Bu Pur mengingatkan masalah sampah plastik masih menjadi PR bagi kita semua. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Universitas Georgia pada tahun 2015, Indonesia adalah negara penghasil sampah plastik terbanyak kedua sedunia. Ditambah lagi, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyebutkan sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton. Dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada.”Ini tentu bukan masalah sepele. Diperlukan upaya bersama untuk menguranginya,” ujarnya.
Dengan tegas ia menyatakan bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Harus ada kerjasama dari berbagai pihak termasuk dari pemerintah. Dengan nada suara meninggi ia mengaku hingga saat ini masih minim perhatian dari pemerintah kabupaten tempatnya berada.
“Semua pihak harus bahu membahu mengatasi sampah ini. Dari pemerintah, kami tidak minta dana atau penghargaan, tapi perhatian. Kami juga butuh untuk memperkaya pengetahuan kami. Kami butuh melihat keluar untuk terus mengembangkan usaha bak sampah ini untuk menjaga komitmen kami yang peduli akan lingkungan,” begitu Bu Pur berharap.
Apresiasi justru datang dari komunitas pecinta lingkungan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, baik dari dalam maupun dari luar negeri. ”Saya hanya ingin semua orang mau peduli dengan pengelolaan sampah,” tandasnya. Ia yakin, masalah sampah bisa diselesaikan jika ada kerjasama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan korporasi.
Ia juga berharap dengan apa yang dilakukan saat ini bisa berkontribusi pada perbaikan lingkungan secara luas. Sampah plastik bisa berkurang dan makhluk hidup yang ada di bumi ini bisa hidup dengan lebih layak. Sehingga tidak ada lagi tayangan di media tentang fauna di hutan atau lautan yang di perutnya ditemukan sampah-sampah plastik.
Bergandengan Tangan dengan Korporasi
Harapan Bu Pur itu setidaknya sudah diamini korporasi seperti Unilver Indonesia melalui Environment Sustainability Program-Unilever Indonesia Foundation yang menjadikannya BSMS sebagai binaan Unilever. Sejak 2017 lalu BSMS sudah memasok plastik kemasan fleksibel untuk Unilever. Tahun lalu, BSMS berhasil mengumpulkan 900 kilogram sampah plastik fleksibel. Sebagai binaan, MSMS juga mendapatkan pendampingan dalam pengelolaan sampah dengan manajemen yang baik.
Head of Environment Sustainability Program-Unilever Indonesia Foundation, Maya Tamimi, memastikan Bu Pur dan pengelola bank sampah lainnya di Indonesia tidak berjalan sendiri dalam pengelolaan sampah. Karena belakangan komitmen yang dibangun oleh korporasi besar yang banyak menghasilkan sampah plastik mengarah pada upaya proses daur ulang. Pada Februari 2017 lalu, mereka telah menggagas koalisi untuk kemasan berkelanjutan, yakni PRAISE (Packaging and Recycling Association for Indonesia Suistanable Environment). “Unilever masuk dalam koalisi yang digagas oleh Coca-Cola, Danone Aqua, Indofood, Nestle, dan Tetra Pak. Komitmen mereka ini tentunya akan memberi dukungan bagi bank sampah di Indonesia, termasuk kepada BSMS,” kata Maya, Kamis (13/12/2018).
Unilever sendiri, sambung Maya, akan meningkatkan kerjasama melalui program Green and Clean dengan memperkuat manajemen bank sampah di masyarakat. Dengan itu, masyarakat secara mandiri mengumpulkan, memisahkan dan mendaur ulang sampah rumah tangga dan mengubahnya menjadi tabungan. Program ini mengedukasi dan mempromosikan pengumpulan sampah yang berkelanjutan melalui kemitraan dengan pemulung untuk berpartisipasi dalam membangun sektor dan bank sampah lokal.
Hingga saat ini, sudah terdapat 2.816 unit bank sampah di seluruh Indonesia dan telah mengurangi 7.779 ton sampah organik. Sementara di Jawa Timur, Unilever bekerjasama dengan 200 bank sampah yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, kota Mojokerto dan kabupaten Mojokerto. Salah satunya adalah BSMS.
Unilever juga bekerja sama dengan fasilitas milik pemerintah, TPS 3R, yang merupakan tempat pengolahan sampah terpadu yang ada di setiap kecamatan. Saat ini ada delapan TPS 3R yang digandeng, berlokasi di Jawa Timur.
Kegiatan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemilihan sampah ini menjadi penting karena terkait dengan pasokan dan biaya produksi. “Kalau di tingkat pengepul pemilahan sudah bagus dan sampah juga sudah bersih tentunya akan mengurangi biaya produksi sekaligus akan menjaga pasokan pabrik yang memproses daur ulang sampah,” katanya.
Menurut Maya, tantangan terbesar dalam hal daur ulang adalah sulitnya mengumpulkan sampah karena saat ini masyarakat belum memiliki kebiasaan untuk memilah sampah.
Selain itu, untuk sampah tertentu terutama atau plastik sachet menjadi jenis plastik yang masih belum bisa didaur ulang karena komposisinya lebih kompleks daripada plastik bening yang sudah bisa didaur ulang. Karena pendaurulangan yang sulit, plastik fleksibel menjadi jenis sampah yang paling banyak dibuang karena tidak laku dijual. Akibatnya, dari tahun ke tahun, sampah plastik tetap mengotori lingkungan, bahkan mencemari laut yang mengakibatkan ikan laut mati.
Namun sampah plastik fleksibel kini sudah bisa didaurulang. Bekerja sama dengan Fraunhofer Institute for Process Engineering and Packaging IVV, Unilever membangun pabrik Creasolv Process yang berlokasi di Krian Sidoarjo, Jawa Timur.
Dengan teknologi yang dikembangkan itu, Unilever bekerja sama dengan bank sampah binaan di beberapa titik di Jawa Timur, salah satunya dengan BSMS yang menjadi pemasok sampah plastik untuk didaur ulang dengan teknologi Creasolv Process. Bank sampah binaan ini juga sebagai langkah mewujudkan komitmen Unilever untuk meningkatkan jumlah plastik kemasan yang dapat didaur ulang mencapai 100% dari plastik kemasan yang diproduksi.
Maya menyebutkan, di awal operasional pabrik CreaSolv, dibutuhkan waktu sampai enam bulan untuk mengumpulkan sampah plastik sachet. Baru setelah ada sosialisasi ke beberapa daerah dan masyarakat yang tadinya menganggap kemasan sachet tak bernilai kini berlomba-lomba mengumpulkannya. “Kini, dalam satu hari sampah kemasan sachet bisa terkumpul,” kayanya.
Pengumpulan dan pemilahan sampah menjadi kunci keberhasilan proses daur ulang sampah. Jika masyarakat kian menyadari pentingnya dua hal tersebut, proses daur ulang juga akan lebih besar dan pada akhirnya akan mengurangi jumlah sampah. “Daur ulang masih sekitar 40 persen (dari jumlah yang diproduksi dan dikeluarkan) dan sisanya tidak terjamah. Itu menjadi advokasi kami,” kata Maya.
Untuk terus meningkatkan jumlah daur ulang dan mengurangi peredaran sampah plastik, Unilever terus berupaya dengan melakukan edukasi dan kampanye sebagai penyokong proses daur ulang, seperti mengurangi berat kemasan plastik yang digunakan, menempatkan drop box untuk sampah di berbagai titik, dan mendirikan bank sampah.
“Orang Indonesia harus menghilangkan budaya membuang sampah, diganti dengan mengumpulkan sampah,” kata Tri Sabron, Kepala Pabrik Creasolv Unilever Indonesia.
Masalah sampah plastik ini memang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan komitmen dan kepedulian banyak pihak untuk mulai mengubah gaya hidup, termasuk memilah sampah. Kehadiran orang-orang seperti Bu Pur serta peran dari pemerintah dan pihak swasta diharapkan bisa membuat lingkungan menjadi bersih dan bumi kembali lestari. Apalagi jika ternyata sampah bisa menjadi sumber rezeki. “Sayangi Sampah. Jadikan ia sahabat!” (KS-5)