Kathleen M. Adams, ber-cinta segitiga, antara Antropologi dan Tana Toraja

WIN: Bisa jadi Tana Toraja yang berada di Sulawesi Selatan bagi antropolog AS, Kathleen M. Adams merupakan tanah air kedua bagi dirinya mengingat betapa getolnya akademisi Universitas Loyola, Chicago itu mempromosikan keindahan maupun elokkan Tana Toraja beserta beragam budayanya yang telah digelutinya selama 20 tahun lebih.
Bahkan, boleh jadi Antropologi dan Tana Toraja menjadikannya dua buah kata yang sangat bermakna dan dicintai secara mendalam bagi tokoh yang kini berupaya untuk memasukkan Tana Toraja menjadi salah satu nominasi dalam daftar Warisan Budaya Dunia PBB atau UNESCO World Heritage Center. Kathleen M. Adams sangat besar perannya untuk itu mengingat dia ikut duduk dalam kepanitiaan pengajuan lokasi wisata budaya tersebut.
Boleh jadi relasi untuk menggambarkan Kathleen M. Adams dengan ilmu antropologi yang telah sejak awal ditekuninya dengan kearifan budaya Tana Toraja bagikan hubungn cinta segitiga. Dimana semuanya berhubungan diagonal secara erat dalam satu sisi dengan lainnya bagaikan istilah Segitiga Sama Sisi.
Laporan Voice Of America yang dikutip Whatindonews.com pada Selasa (16/7/13) secara khusus mengupas profil antropolog kenamaan AS di Universitas Loyola, Chicago itu yang kini tercantum dalam daftar "300 Dosen Terbaik Amerika" versi lembaga “The Princeton Review”.
Kathleen M. Adams sendiri diketahui merupakan antropolog yang giat memusatkan penelitian lapangannya pada pulau-pulau Sulawesi dan Alor. Dalam 20 tahun terakhir ini, dia telah bolak-balik melakukan perjalanan dari AS ke Tana Toraja.
Mengenai kebudayaan rakyat Toraja yang ditekuninya, dia mengemukakan: “Saya telah tertarik pada suku Toraja sejak awal-awal 1980-an, dan pertama kali mengunjungi daerah itu pada 1993, ketika melewati kuliah musim panas untuk tingkat pasca sarjana, belajar bahasa Indonesia tingkat lanjut. Saat ini saya turut terlibat dalam persiapan nominasi Toraja sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO,” kata Kathleen M. Adams kepada VOA.
Suku Toraja berpenduduk sekitar satu juta orang, dengan 500.000 orang masih hidup di dataran tinggi Toraja. Termasyhur karena upacara penguburan jenazah yang unik, yang diselipkan di rongga-rongga batu gunung, rumah-rumah tradisional bertanduk, yang disebut tongkonan, pahatan patung kayu dan tenun rakyat berwarna-warni cerah, Toraja telah lama menjadi tujuan wisata populer.
Namun, di tengah-tengah persaingan wisata dunia yang ditingkahi resesi ekonomi yang panjang, apakah tak ada tantangan yang dihadapi Tana Toraja?
Adams mengatakan: “Salah satu tantangan yang dihadapi Toraja berkenaan dengan mempertahankan posisi pada peta wisata adalah bahwa masih relatif sulit untuk pergi ke sana. Harus terbang ke Bali dahulu, dan terbang ke Makassar, kemudian naik bis selama delapan jam ke dataran tinggi Toraja.”
Kendatipun demikian, pantau Adams –begitu dia biasa dipanggil-, prospek turisme Toraja akan tetap bertahan. "Sewaktu dalam proses menulis buku saya, saya mewawancarai banyak wisatawan, dan semuanya merasa, jerih-payah menempuh perjalanan sedemikian jauh, terbayar, saat menginjak tanah Toraja. Sekali tiba, mereka enggan pergi. Toraja benar-benar sebuah tempat yang unik dan indah di dunia,” ujar Adams.
Ditanyakan mengenai pengalaman hidupnya selama dua tahun di Tana Toraja, adakah tantangan berat yang ia rasakan dalam menyesuaikan diri di tengah-tengah masyarakat, Adams menjawab: “Mungkin, isu yang lebih besar bagi saya dalam hal menyesuaikan diri hidup di daerah perdesaan di Indonesia, adalah lebih samar; berkenaan dengan kebutuhan waktu untuk bersendiri. Orang Amerika terkenal sangat membutuhkan waktu untuk bersendiri. Gagasan semacam ini agak asing bagi orang Toraja."
Kenangan manis hidup dengan keluarga angkatnya di Tana Toraja 20 tahun lalu terpateri kuat dalam ingatannya. Hingga sekarang, Kathleen Adams tetap menjadikan Toraja sebagai pusat penelitian ilmiahnya, yang ia katakan sebagai upaya untuk melakukan “pay back” alias “balas budi.”
Belum lama ini, Adams, bersama koleganya Dr. Kathleen Gillogly, antropolog dari Universitas Wisconsin di Parkside, Kenosha, Wisconsin, menjadi penyunting untuk buku bunga rampai “bestseller” berjudul: “
Everyday Life in Southeast Asia,” yang diterbitkan oleh Indiana University Press.
Sejumlah karya ilmiah lainnya yang pernah diterbitkan diantaranya berjudul
Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism, and Power in Tana Toraja, Indonesia. Honolulu: University of Hawaii Press. yang diterbitkan pada 2006.
Buku berikutnya berjudul
Home and Hegemony: Domestic Service and Identity Politics in South and Southeast Asia. Ann Arbor: Univ. of Michigan Press. (Co-edited with S. Dickey). Terbit pada 2000.
Selanjutnya buku berjudul
A Changing Indonesia. Special theme issue of Southeast AsianJournal of Social Science. Vol. 28, No. 2. (Co-edited with Maribeth Erb). Terbit pada 2000.
Penelitiannya kini berpusat pada pemasaran karya-karya seni Indonesia dalam masa ketidakmenentuan wisata dewasa ini. Adams hidup di kota Chicago bersama suaminya Dr. Peter Sanchez, seorang ahli ilmu politik Amerika Latin, dan seorang puteri mereka. (win7)