Suparma Akan Membeli Steam Boiler Baru untuk Menambah Kapasitas Produk Tissue

KUALITAS PRODUK: Jajaran Direksi PT Suparma Tbk saat berbincang-bincang tentang kualitas produk yang dihasilkan Perseroan, usai Paparan Publik melalui daring, Senin (25/11/2024). (dok/sup).

KANALSATU - PT Suparma Tbk akan mengalokasikan dana US$23 juta untuk membeli mesin Steam Boiler baru, sebagai upaya menambah kapasitas terpasang produk tissue sebesar 27.000 MT.

Hendro Luhur, Direktur PT Suparma Tbk, mengatakan Perseroan tahun ini akan mengeluarkan investasi untuk membeli Paper Mechine 11 (PM 11).

PM 11 ini menurut dia, hampir sama dengan PM 10 yang telah dimiliki sebelumnya, yaitu jenis Steam Boiler yang keunggulannya banyak.

Keunggulan utama mesin baru itu lebih ramah lingkungan karena ditunjang dengan spesifikasi penggunaan bahan baku batu bara sebesar 25%, atau sekitar 60% lebih rendah dibandingkan Steam Boiler Perseroan yang sudah ada, serta sisanya memanfaatkan sludge, limbah plastik dan limbah kayu untuk diubah menjadi energi panas.

"Dengan mesin baru nanti, akan digunakan untuk menambah kapasitas produksi mencapai 2.700 MT aneka tissue," jelas saat Paparan Publik PT Suparma Tbk melalui daring, Senin (25/11/2024).

Disinggung rencana investasi, Hendro mengatakan jika untuk PM 10 yang investasinya hanya US$10 juta, yang sampai saat ini sdh terealisasi US$8,6 juta, seluruh anggaran didanai dari self financing (kas internal).

Namun untuk PM 11, karena rencana investasinya besar, yaitu mencapai US$23 juta, maka Perseroan membagi 22% self financing dan sisanya (78%) dananya dari kredit bank.

"Belum lama ini sudah ada beberapa bank yang menyatakan bersedia. Jadi dana untuk pengadaan MP 11 sudah tidak ada masalah," jelas Hendro.

Tentang alasan investasi tertuju hanya pada PM 11, dia menjelaskan bahwa prospek pasar penyerapan produk tissue di Indonesia masih cukup tinggi, yang sekarang masih bisa terpenuhi baru 0,5 kg.

Dengan mesin baru itu pun, diakui yang kemampuan menambah kapasitas terpasang mencapai 2.700 MT untuk produk aneka tissue, masih belum bisa menutup kebutuhan pasar Indonesia.

Sementara dari data di Perseroan ini terungkap bahwa meskipun harga jual rata-rata kertas sampai 30 September 2024 mengalami penurunan 3,5% menjadi Rp 11.939, namun kuantitas meningkat 7.300 MT atau 4,6% menjadi 164.295 MT.

Hal ini menyebabkan penjualan bersih kertas selama sembilan bulan mengalami sedikit peningkatan sebesar 19,3 miliar atau 1,0% menjadi Rp1.961,5 miliar.

Kemudian untuk laba periode berjalan selama sembilan bulan, juga tercatat ada penurunan Rp28,9 miliar atau 20,1% menjadi Rp114,9 miliar, terutama disebabkan oleh peningkatan beban pokok penjualan sebesar Rp46,2 miliar.

Hal ini menyebabkan penurunan laba kotor sebesar Rp36,6 miliar, dan penurunan margin laba kotor menjadi 16,3% dari periode yang sama tahun lalu sebesar 18,2%.

Peningkatan beban pokok penjualan disebabkan oleh naiknya pemakaian bahan baku, terutama meningkatnya kuantitas pemakaian bahan baku kertas bekas sekitar 29%. (ard)

Komentar