Ketua Kadin Surabaya Ajak Pebisnis Tiru Filosofi Buffett-Munger: Sukses Lewat Kesederhanaan dan Integritas

KANALSATU – Ketidakpastian pasar dan gejolak ekonomi global tidak menyurutkan semangat Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya, H.M. Ali Affandi LNM, untuk mengajak para pelaku usaha tetap berpikir jernih dan bertindak bijak. Pria yang akrab disapa Mas Andi ini mendorong para pengusaha untuk meneladani filosofi hidup dan strategi bisnis dua tokoh legendaris dunia investasi: Warren Buffett dan Charlie Munger.

Mas Andi menyarankan para pebisnis membaca buku "Buffett and Munger Unscripted", yang menurutnya berisi lebih dari sekadar teori investasi. Buku ini merupakan rekaman puluhan tahun pemikiran dan diskusi mendalam antara dua sahabat karib, yang mengajarkan pentingnya logika sederhana, kedisiplinan, dan pemahaman terhadap sifat dasar manusia. 

Melalui buku tersebut, pembaca diajak menyelami nilai-nilai yang telah membawa Buffett dan Munger mencapai kesuksesan jangka panjang.

Salah satu nilai utama yang ia soroti adalah filosofi kesederhanaan. Alih-alih mengikuti arus tren investasi yang rumit, Buffett dan Munger justru fokus pada prinsip dasar yang mudah dipahami. 

Buffett bahkan dikenal sering menggunakan analogi sederhana, seperti "Mr. Market", untuk menggambarkan dinamika pasar saham. Gaya hidup Buffett yang masih tinggal di rumah yang dibelinya sejak 1958 menjadi simbol dari komitmen terhadap hidup hemat dan fokus pada hal-hal esensial. 

Prinsip circle of competence, yaitu hanya membuat keputusan di bidang yang benar-benar dikuasai, juga menjadi kekuatan mereka dalam mengambil keputusan strategis.

Selain itu, integritas menjadi pondasi yang tak tergantikan dalam setiap keputusan besar yang mereka buat. Buffett pernah menegaskan bahwa reputasi bisa dibangun selama puluhan tahun namun hancur dalam hitungan menit. 

Oleh karena itu, ia hanya ingin bekerja sama dengan orang yang memiliki integritas, kecerdasan, dan energi—namun tanpa integritas, dua kualitas lainnya justru bisa berakibat buruk. 

Mas Andi menekankan bahwa hubungan kemitraan antara Buffett dan Munger yang nyaris tanpa konflik menjadi contoh nyata dari kepercayaan dan komunikasi yang jujur dalam dunia bisnis.

Dalam menghadapi gejolak pasar, Buffett dan Munger juga menunjukkan bahwa kesabaran dan ketekunan adalah kekuatan utama. Mereka percaya bahwa keuntungan besar tidak datang dari transaksi cepat, melainkan dari kemampuan menunggu momen yang tepat. 

Efek bunga majemuk mereka ibaratkan seperti bola salju yang bergulir perlahan namun pasti, menciptakan pertumbuhan luar biasa dalam jangka panjang. "Selama masa penantian itu, mereka terus belajar dan memperkaya pengetahuan—bahkan Munger pernah berkata bahwa dirinya berusaha "tidur lebih pintar daripada saat bangun pagi,"ujarnya. 

Di era informasi yang bising seperti sekarang, kemampuan untuk menyaring informasi dan mengambil keputusan secara logis menjadi sangat penting. Buffett dan Munger tidak mudah terpengaruh oleh euforia pasar. 

Mereka justru berani mengambil langkah berlawanan arus jika diperlukan. Prinsip mereka yang terkenal, "Takutlah saat orang lain serakah, dan serakahlah saat orang lain takut," menjadi pedoman untuk berpikir kritis dan mandiri.

Mas Andi juga menyoroti momen penting dalam buku tersebut, yakni pengumuman pengunduran diri Buffett sebagai CEO Berkshire Hathaway dari atas panggung sederhana di Omaha. Bagi Mas Andi, ini bukan sekadar akhir dari sebuah era, melainkan awal dari refleksi tentang nilai-nilai yang telah diwariskan Buffett dan Munger kepada dunia. 

Warisan itu bukan hanya berupa kekayaan materi, tetapi juga cara berpikir dan prinsip hidup yang relevan hingga kini.

Ia pun mengutip pernyataan Buffett yang mengatakan bahwa ukuran kesuksesan sejati adalah apakah orang yang kita cintai juga mencintai kita. “Ketika tirai kehidupan ditutup, yang akan dikenang bukanlah berapa besar harta yang ditinggalkan, tetapi nilai-nilai apa yang kita wariskan,” ujarnya.

Melalui pesan ini, Mas Andi mengajak para pengusaha Indonesia untuk membangun bisnis bukan hanya demi keuntungan, tetapi juga berdasarkan nilai-nilai luhur seperti kesederhanaan, integritas, ketekunan, dan kejernihan berpikir. Menurutnya, inilah saat yang tepat bagi para pelaku usaha untuk menata ulang fondasi cara berpikir, agar dapat bertumbuh secara berkelanjutan dan bermakna di tengah tantangan zaman.
(KS-5)

Komentar