Ekonomi Jatim Tumbuh 5 Persen, Khofifah Dorong Kolaborasi Daerah Atasi Tantangan Global

KANALSATU – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya sinergi antar daerah sebagai kunci memperkuat ekonomi nasional di tengah tantangan global. Hal ini ia sampaikan dalam forum koordinasi bersama Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Surabaya, Senin (5/5/2025).
“Kolaborasi seperti para Avengers melawan Thanos. Tantangan ekonomi global bisa dihadapi jika kita kompak dan bersinergi,” ujar Khofifah.
Gubernur Khofifah mencontohkan keberhasilan program Misi Dagang yang mempertemukan pelaku usaha antarprovinsi sebagai bentuk nyata sinergi daerah. Program tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim sekaligus daerah mitra.
Hasilnya, pada kuartal I-2025, ekonomi Jatim tumbuh sebesar 5% secara tahunan (yoy), melampaui rata-rata nasional yang tercatat 4,87%. Pertumbuhan tertinggi tercatat pada sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 10,40%. Sementara struktur PDRB Jatim masih didominasi oleh industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan sektor akomodasi serta makanan-minuman.
Selain pertumbuhan ekonomi, Jatim juga mencatat capaian investasi sebesar Rp147,3 triliun pada 2024, naik 1,5% dari tahun sebelumnya. Capaian ini menyumbang 8,6% terhadap investasi nasional.
Khofifah juga optimis target swasembada pangan nasional bisa tercapai jika kolaborasi daerah terus diperkuat. Ia menyoroti produktivitas tebu di Jatim yang mencapai 13 ton per hektar, jauh di atas rata-rata nasional 5 ton per hektar. Hal serupa juga terjadi pada sektor peternakan, dengan produksi sapi potong Jatim tertinggi secara nasional.
“Kalau daerah lain mereplikasi model di Jatim, kita bisa swasembada gula dan daging dalam waktu dekat,” ucapnya optimistis.
Di akhir acara, Khofifah menyampaikan komitmennya untuk mendukung program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Bersama OJK dan lintas kementerian, Pemprov Jatim akan mendorong penguatan koperasi sebagai penggerak ekonomi desa.
“Dengan pendampingan yang tepat, koperasi desa bisa membuka unit usaha strategis seperti distribusi LPG 3 kg atau agen pupuk, dan bisa berkembang mandiri,” tutupnya.
(KS-9)