Belajar Strategi dari Lapangan, 10 Pelajaran Kepemimpinan ala Ali Affandi

KANALSATU - Strategi seringkali diasosiasikan dengan paparan rumit dan istilah teknis yang mengesankan. Namun bagi Ketua Kadin Surabaya H.M. Ali Affandi pemahaman strategi justru dibentuk dari pengalaman langsung di lapangan.
Dalam refleksi terbarunya, Ali Affandi—akrab disapa Mas Andi—mengungkapkan sepuluh pelajaran penting dari perjalanan kariernya, termasuk saat bekerja dengan tokoh nasional seperti Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Dulu saya pikir tampil strategis berarti harus terlihat pintar, dengan presentasi canggih dan istilah rumit. Tapi saya belajar, strategi yang sesungguhnya justru lahir dari pemahaman mendalam dan keputusan yang bermakna,” ujar Andi yang juga sekaligus Tenaga Ahli di Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur.
Salah satu pelajaran utama yang ia tekankan adalah kesederhanaan. Menurutnya, strategi yang efektif haruslah jelas dan fokus. “Tujuan kita bukan membuat orang terkesan dengan jargon, tapi membantu mereka memahami posisi kita saat ini, ke mana kita menuju, dan bagaimana kita bisa menang,” katanya.
Mas Andi juga membagikan pengalamannya ketika terlalu berfokus pada tampil sebagai orang paling pintar di ruangan. “Seorang strategis seharusnya menciptakan ruang diskusi, bukan mendominasi. Anehnya, saat kita berhenti berusaha terlihat pintar, justru di situlah kita terlihat cerdas,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya narasi dalam menyampaikan strategi. “Data itu penting, tapi cerita yang menyentuh emosi adalah yang membangun dukungan. Strategi harus dikemas seperti cerita: dengan tantangan, ide besar, dan langkah nyata.”
Dalam penyusunan strategi, Mas Andi menekankan pentingnya mengambil sikap. Ia mengingatkan bahwa sikap netral tanpa arah hanya menghasilkan daftar opsi yang membingungkan.
“Kita harus berani mengambil posisi, memahami alasannya, dan siap menanggung risikonya.”
Ketidaknyamanan, menurutnya, adalah bagian penting dari strategi yang berdampak. “Kalau semuanya terasa nyaman, mungkin kita sedang menghindari keputusan besar,” ujarnya sambil mencontohkan keberanian AHY dalam menetapkan target tinggi sebagai standar perubahan.
Ia juga membantah anggapan bahwa eksekusi hanyalah soal teknis. “Strategi itu diuji di lapangan. Saya pernah turun langsung ke tim pemasaran dan produk untuk merumuskan ulang strategi komunikasi. Itu bukan teori, tapi kerja nyata.”
Dalam hal penyampaian, desain presentasi menurutnya memiliki peran penting. “Desain memperkuat pesan. AHY sangat memperhatikan aspek ini. Presentasinya tidak hanya kuat dalam isi, tapi juga rapi dan mudah dicerna secara visual.”
Mas Andi menambahkan bahwa kemampuan memahami keuangan juga sangat penting dalam peran strategis. “Saat saya mulai bisa membaca dan berbicara dengan angka, saya mulai diajak duduk dalam pengambilan keputusan. Angka itu bukan sekadar validasi, tapi alat berpikir.”
Ia pun menyarankan agar ide-ide strategis selalu dikaitkan dengan dampak konkret. “Katakan secara spesifik: ‘Ide ini bisa menambah margin Rp125 miliar’. Itu jauh lebih meyakinkan daripada hanya bilang ‘ini ide bagus’.”
Sebagai penutup, ia mengingatkan pentingnya menulis sebagai alat berpikir. “Saya pikir saya sudah paham karena punya slide bagus. Tapi ketika menulis, saya sadar banyak yang belum jelas. Menulis membantu menyaring dan menajamkan gagasan,” ucapnya.
Semua pelajaran itu, katanya, ia dapatkan bukan dari buku teks, melainkan dari pengalaman langsung, kegagalan, dan tekanan di lapangan.
“Strategi bukan soal menyusun presentasi yang mewah, tapi tentang menunjukkan arah, menggerakkan orang, dan menciptakan perubahan yang nyata,” pungkasnya.
(KS-5)