Cerutu Jadi Peluang Emas, Jeremy Thomas Bangun Industri dari Tanah Nusantara



KANALSATU - Tren gaya hidup masyarakat Indonesia yang semakin terbuka terhadap produk-produk premium seperti cerutu, kini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Fenomena ini pun tak luput dari perhatian aktor senior Jeremy Thomas, yang dalam beberapa tahun terakhir mulai serius menekuni dunia cerutu.

Dikenal luas sebagai aktor berbakat, Jeremy kini memperluas perannya sebagai seorang pengusaha. Ia tak hanya menjadi penggemar tapi juga pelaku usaha cerutu yang memanfaatkan potensi tembakau asli Nusantara.

Ia mendirikan brand JT Royale, cerutu hasil racikan sendiri yang sepenuhnya menggunakan tembakau asli dari tanah Nusantara.

"Saya sudah 15 tahun mengisap cerutu sebagai penikmat, tapi baru empat tahun terakhir saya serius mendalami dan menekuni bisnisnya," ujar Jeremy Thomas.

Cerutu sebagai gaya hidup dan identitas membuat potensi bisnis di bidang ini makin moncer di kalangannya. Dalam beberapa tahun terakhir, cerutu mengalami lonjakan popularitas di kalangan masyarakat urban Indonesia.

Tak lagi identik dengan kesan tua dan konservatif, cerutu kini mulai diterima sebagai bagian dari gaya hidup modern yang mengusung nilai relaksasi, kenikmatan, dan eksklusivitas.

Jeremy pun mengakui bahwa perubahan citra ini menjadi pemicu ketertarikannya. Ia menyebut cerutu telah menjadi bagian dari kesehariannya, dan banyak masyarakat kini menikmatinya dalam berbagai suasana, dari lounge hotel, restoran mewah, hingga acara privat.

"Sekarang cerutu sudah menjadi bagian dari lifestyle. Di berbagai tempat nongkrong bergengsi, saya melihat orang-orang mengisap cerutu sambil bersantai. Dari sana saya menyadari bahwa ada peluang besar," katanya.

Meracik Cerutu dari Daun Tembakau Nusantara
Keputusan Jeremy untuk tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga produsen cerutu bukanlah langkah instan. Ia menyadari bahwa untuk menciptakan produk berkualitas tinggi, ia harus turun langsung ke lapangan, memahami proses dari hulu ke hilir.

Perjalanannya membawanya ke Jember, Jawa Timur, salah satu daerah penghasil tembakau terbaik di Indonesia.

"Saya belajar banyak dari petani dan produsen lokal di Jember. Saya bolak-balik ke sana, bertemu para pelinting, memahami bagaimana tembakau diracik dan difermentasi. Akhirnya saya memutuskan untuk memproduksi cerutu sendiri dengan standar premium," jelasnya.

Produk JT Royale pun dilahirkan dari hasil eksplorasi ini. Dengan menggunakan daun tembakau asli Indonesia, cerutu buatannya mengusung ciri khas tanah khatulistiwa yang subur, menghadirkan aroma yang kaya dan rasa yang lembut namun kompleks.

"Tembakau Indonesia itu luar biasa. Tanahnya subur, iklimnya tropis, ini kombinasi yang sangat mendukung kualitas tembakau terbaik. Ketika dibakar, rasanya sangat khasnyaman, hangat, dan memberikan ketenangan," ujar Jeremy.

Lebih dari sekadar bisnis pribadi, Jeremy melihat usahanya ini sebagai bentuk kontribusi pada perekonomian lokal. Ia menyadari bahwa produksi cerutu melibatkan banyak proses dan tenaga kerja, mulai dari petani, peracik, hingga pelinting cerutu yang membutuhkan keterampilan tinggi.

"Cerutu itu bukan produk pabrikan biasa. Prosesnya rumit, banyak dilakukan manual, dan membutuhkan ketelitian. Maka dari itu, dengan mengembangkan bisnis ini, saya juga bisa membuka lapangan kerja baru," lanjutnya.

Ia berharap, jika bisnis ini berkembang, akan semakin banyak masyarakat yang terserap dalam rantai produksi cerutu, khususnya di wilayah-wilayah penghasil tembakau seperti Jember, Temanggung hingga Lombok.

Selain membuka peluang kerja, bisnis ini juga secara tidak langsung menjadi alat promosi budaya dan pertanian lokal. Cerutu Indonesia yang selama ini kalah pamor dibanding produk impor, kini mulai mendapat tempat melalui upaya seperti yang dilakukan Jeremy.

Meskipun terbilang ceruk pasar kecil, pasar cerutu di Indonesia mulai menunjukkan tren positif. Kalangan profesional, pebisnis, hingga komunitas pecinta cerutu kian tumbuh, didukung oleh perubahan gaya hidup dan meningkatnya daya beli masyarakat.

Namun, menurut Jeremy, jumlah produsen lokal masih sangat sedikit. Kebanyakan cerutu yang beredar di pasaran adalah produk luar negeri. Hal ini menjadi motivasi tambahan baginya untuk menghadirkan alternatif produk dalam negeri yang tak kalah dari segi kualitas.

"Saya melihat cerutu masih belum banyak dimainkan di Indonesia. Justru itu peluangnya. Kita bisa bikin produk lokal yang bisa dibanggakan, bukan hanya untuk pasar domestik, tapi juga ekspor," tegasnya.

Jeremy juga menekankan bahwa cerutu bukan sekadar pengganti rokok. Cara menikmatinya berbeda, asap tidak dihirup ke dalam paru-paru, tetapi cukup dinikmati di rongga mulut untuk merasakan rasa dan aromanya.

"Cerutu itu soal pengalaman. Bukan tentang nikotin. Anda tidak mengisap cerutu seperti rokok. Anda menikmatinya perlahan, menyatu dengan suasana. Itu kenapa saya bilang cerutu adalah gaya hidup," jelasnya.

Filosofi ini yang ia pegang teguh saat mengembangkan JT Royale untuk menciptakan pengalaman, bukan sekadar produk.

Ke depan, Jeremy berencana memperluas bisnis cerutunya ke lebih banyak kota di Indonesia, sekaligus membangun edukasi seputar budaya cerutu. Ia ingin masyarakat memahami bahwa cerutu bukan hanya barang konsumsi, tetapi bagian dari seni, sejarah, dan bahkan ekonomi kreatif.

"Saya ingin hadirkan ruang-ruang di mana orang bisa mengenal cerutu lebih dekat, mungkin lounge atau cigar room dengan pendekatan budaya lokal. Bukan sekadar tempat merokok, tapi ruang dialog dan pengalaman," ujarnya. (KS-5)
Komentar