Realisasi APBN Jawa Timur Capai 37,89 Persen, Pertumbuhan Ekonomi Stabil dan Daya Beli Petani Meningkat

KANALSATU — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Jawa Timur menunjukkan tren positif. Hingga akhir Mei 2025, realisasi belanja negara di provinsi ini telah mencapai Rp47,91 triliun atau setara 37,89 persen dari total pagu anggaran tahun ini. Realisasi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa belanja pemerintah tetap berjalan optimal untuk mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi di daerah.


Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur yang dipimpin Dudung Rudi Hendratna menyampaikan bahwa realisasi belanja negara tersebut mencakup belanja Kementerian/Lembaga sebesar Rp14,03 triliun serta transfer ke daerah sebesar Rp33,88 triliun. Penyerapan anggaran ini mendorong aktivitas ekonomi riil di berbagai sektor, khususnya di bidang infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Dari sisi pendapatan negara, hingga Mei 2025 pemerintah telah mengumpulkan Rp97,89 triliun atau 34,64 persen dari target sebesar Rp282,65 triliun. Penerimaan tersebut berasal dari sektor perpajakan sebesar Rp94,48 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) senilai Rp3,42 triliun. 

Dudung menjelaskan bahwa kontribusi terbesar berasal dari sektor kepabeanan dan cukai dengan nilai Rp55,09 triliun, sementara penerimaan dari Ditjen Pajak mencapai Rp39,38 triliun.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur juga menunjukkan performa yang kuat. Pada triwulan pertama tahun 2025, ekonomi provinsi ini tumbuh sebesar 5 persen secara tahunan (year-on-year), menjadikannya sebagai penyumbang terbesar kedua terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pulau Jawa setelah DKI Jakarta. 

Pertumbuhan ini ditopang oleh kuatnya konsumsi domestik, inflasi yang terjaga, serta peningkatan lapangan kerja.

Inflasi Jawa Timur per Mei 2025 tercatat sebesar 1,22 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan angka nasional yang mencapai 1,60 persen. Menurutnya, hal ini menunjukkan kemampuan daerah dalam menjaga stabilitas harga, khususnya pada komoditas pangan. 

Turunnya harga sejumlah bahan pangan akibat panen raya turut memberikan kontribusi terhadap deflasi di bulan tersebut.

Di sektor perdagangan luar negeri, kinerja ekspor Jawa Timur pada April 2025 tercatat sebesar US$2,18 miliar, didominasi oleh sektor industri pengolahan. Negara tujuan ekspor utama meliputi Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang. 

Sementara itu, impor mencapai USD9,68 miliar dan mayoritas digunakan untuk kebutuhan bahan baku atau penolong industri, terutama yang berasal dari Tiongkok, AS, dan Jerman.

Kesejahteraan petani di Jawa Timur juga menunjukkan peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) per Mei 2025 mencapai 109,38, mencerminkan daya beli petani yang membaik. Sebagai lumbung pangan nasional, petani Jawa Timur dinilai mampu menjaga keberlanjutan usaha taninya di tengah dinamika harga dan cuaca.

Dudung menegaskan bahwa capaian positif ini merupakan hasil dari sinergi berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Ia optimistis kinerja APBN di semester kedua 2025 akan semakin baik, seiring dengan terus digenjotnya belanja produktif yang berdampak langsung pada perekonomian.

“Kami akan terus berupaya menjaga momentum ini agar APBN benar-benar menjadi instrumen fiskal yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan capaian ini, Jawa Timur tidak hanya menunjukkan peran strategis dalam perekonomian nasional, tetapi juga membuktikan bahwa pengelolaan fiskal yang efektif mampu memperkuat ketahanan ekonomi daerah di tengah berbagai tantangan global.
(KS-5)

Komentar