Kadin Jatim: Gejolak Geopolitik Harus Jadi Peluang Ekspor Indonesia

KANALSATU – Meningkatnya ketegangan geopolitik dunia tidak membuat Indonesia ciut dalam mengembangkan ekspor. Justru di tengah konflik dagang antara Amerika Serikat dan China serta ketegangan kawasan Timur Tengah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menilai situasi ini sebagai momen krusial untuk melakukan lompatan strategis dalam perdagangan luar negeri.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyebutkan bahwa dunia sedang berada dalam fase pergeseran geopolitik besar. "Dua konflik utama yang mengguncang pasar global saat ini justru dapat menjadi pintu masuk baru bagi produk-produk ekspor Indonesia, selama kita mampu bertindak cepat dan tepat," ungkapnya dalam acara Business Gathering yang digelar Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Jawa Timur di Surabaya, Rabu (25/6/2025).
Adik menjelaskan bahwa ketegangan dagang AS–China yang belum mereda sejak 2018 kini memasuki tahap baru. AS menaikkan bea masuk produk China hingga 145%, sementara produk dari Indonesia hanya dikenakan tarif 10–32%.
Keunggulan tarif ini mendorong daya saing produk Indonesia di pasar AS, yang tercermin dari lonjakan ekspor sebesar 48% dalam lima tahun terakhir—dari USD17,8 miliar pada 2019 menjadi USD26,3 miliar pada 2024.
Kadin bahkan memperkirakan potensi tambahan ekspor hingga USD1,7 miliar dari sektor-sektor strategis seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan furnitur.
Namun, tantangan datang dari balik peluang. Produk murah asal China yang tersisih dari pasar AS kini membanjiri pasar domestik Indonesia, memicu persaingan tidak sehat. Kebangkrutan perusahaan besar seperti Sritex menjadi peringatan serius tentang rapuhnya industri lokal jika tidak dilindungi.
Sektor komoditas pun ikut terpukul. Harga batubara merosot tajam dari US$101 menjadi USD69 per ton. Sementara itu, praktik curang seperti dumping dan penyelundupan terus menjadi ancaman nyata, menuntut penguatan kebijakan proteksi nasional.
Di kawasan lain, ketegangan Israel–Iran sejak pertengahan Juni 2025 turut mengguncang stabilitas jalur distribusi energi global. Harga minyak naik 20% menjadi USD74 per barel, menambah beban biaya produksi, terutama untuk industri berbasis energi seperti tekstil dan kimia.
Jalur strategis Selat Hormuz juga terancam, yang berimbas pada lonjakan biaya logistik, asuransi, hingga keterlambatan pengiriman.
Meski demikian, Indonesia tetap melihat potensi baru. Ekspor ke Israel senilai USD165 juta pada 2023 bisa dialihkan ke pasar Timur Tengah yang lebih luas.
Arab Saudi, misalnya, menjadi pasar menjanjikan dengan nilai ekspor Indonesia yang telah mencapai USD2,08 miliar, terlebih sejak perjanjian perdagangan CEPA Indonesia–UAE mulai berlaku pada September 2023.
Untuk menjawab tantangan dan memaksimalkan peluang, Kadin menyiapkan strategi ekspor berlandaskan lima pilar utama yaitu diversifikasi pasar dan produk unggulan, peningkatan daya saing, efisiensi logistik, mitigasi risiko geopolitik, serta diplomasi ekonomi aktif.
Ini didukung oleh tujuh langkah konkret, termasuk pembentukan sistem peringatan geopolitik dini, pendirian Export Center 2.0 di setiap provinsi, program dana pendampingan untuk UKM, hingga pengembangan asuransi ekspor yang mencakup risiko geopolitik.
Dengan strategi ini, Indonesia menargetkan ekspor USD300 miliar pada 2030. Bahkan dalam skenario pesimistis sekalipun, target minimum tetap ditetapkan sebesar US$250 miliar, melalui fokus pada penguatan pasar alternatif dan ketahanan industri nasional.
"Kita tak bisa hanya berpikir normatif di tengah krisis luar biasa. Inilah saatnya kita ubah tantangan menjadi peluang emas untuk mentransformasi ekspor kita menjadi lebih bernilai dan berdaya saing global," tutup Adik optimistis.
Dengan semangat kolaborasi, keberanian berinovasi, dan strategi berbasis data, Indonesia diyakini siap naik kelas dalam perdagangan global. Seperti pepatah bijak, di balik krisis selalu tersimpan kesempatan—bagi mereka yang siap menangkapnya. (KS-5)