AI dalam Dunia Desain, Sarana Mempercepat Pekerjaan atau Ancaman bagi Pekerja Kreatif?

Merry Wahono

KANALSATU – Ledakan penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam industri kreatif memunculkan perdebatan. Apakah AI menjadi sarana yang mempermudah pekerjaan atau justru ancaman bagi para desainer? 

Menurut Merry Wahono, desainer UX/UI sekaligus alumni Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura, jawabannya sangat bergantung pada bagaimana pelaku industri menyikapinya.

Dalam Design Thinking Workshop di Petra Acitya Christian High School, Sidoarjo, Merry mengungkapkan bahwa AI justru telah mempercepat proses kerjanya secara signifikan. 

“Dulu, untuk melakukan competitor analysis dan riset, saya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sekarang, dengan bantuan AI, proses itu bisa selesai hanya dalam satu minggu,” jelasnya.

Merry menilai, kekhawatiran bahwa AI akan “mematikan” pekerjaan desainer hanya berlaku bagi mereka yang enggan beradaptasi dan belajar teknologi baru. 

“Di dunia teknologi, setiap dua hingga empat tahun selalu ada perangkat lunak baru yang harus dipelajari. AI ini sama saja—ia adalah alat baru yang harus kita kuasai, bukan kita takuti,” ujarnya.

Meski mengakui bahwa beberapa posisi seperti graphic designer dan ilustrator mungkin terkena dampak langsung, Merry optimistis bahwa peran manusia tetap krusial. Menurutnya, AI ibarat kalkulator dalam matematika, mampu mempercepat perhitungan, tetapi ide, konsep, dan arah kreatif tetap berasal dari manusia.

“Yang menjalankan AI tetap manusia. Konsep, visi, dan nilai kreatif tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin. Kalau kita takut, justru kita akan tertinggal. Tapi kalau kita memanfaatkannya, AI bisa menjadi mitra kerja yang luar biasa,” tegasnya.

Dengan percepatan yang ditawarkan AI, Merry melihat masa depan desain akan semakin kolaboratif antara teknologi dan kreativitas manusia. Ia menekankan bahwa kunci sukses terletak pada keterbukaan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi.
(KS-5)

Komentar