Syngenta Luncurkan Benih Padi Hibrida Ningrat NK2133, Dorong Peningkatan Produktivitas Padi

KANALSATU — Syngenta Indonesia resmi meluncurkan benih padi hibrida Ningrat NK2133. Langkah Syngenta ini menjadi strategi penting dalam menjawab tantangan meningkatnya kebutuhan beras nasional.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), konsumsi beras nasional pada 2024 mencapai 79,08 kilogram per kapita per tahun. Sementara produksi dalam negeri masih harus digenjot untuk memenuhi permintaan tersebut.
Peluncuran benih padi hibrida Ningrat NK2133 ini juga merupakan langkah strategis mendukung Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati menegaskan, hadirnya benih unggul seperti NK2133 menjadi bukti nyata bahwa inovasi pertanian terus berkembang.
Ia menjelaskan bahwa produktivitas lahan harus dimaksimalkan untuk mengejar target swasembada, terutama di tengah tantangan penyusutan lahan akibat alih fungsi menjadi perumahan dan infrastruktur.
“Setiap hektare sawah harus dimaksimalkan produktivitasnya. Benih Ningrat NK2133 punya potensi hasil hampir 13 ton per hektar, dengan rata-rata 10 ton. Ini peluang besar bagi petani untuk meningkatkan hasil panen sekaligus memenuhi amanat UU No. 22 Tahun 2019 tentang sertifikasi benih,” ujarnya saat peluncuran benih padi hibrida Ningrat NK2133 di Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (28/8/2025) .
Customer Business Manager Field Crops Seeds Syngenta Indonesia
Indonesia Nguyen Huy Cuong mengatakan, pengembangan varietas unggul berperan dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor.
"Peluncuran Ningrat NK2133 menandai komitmen Syngenta Indonesia dalam membantu meningkatkan produksi beras nasional. Hadirnya benih padi hibrida ini juga akan membuka peluang bagi petani untuk memaksimalkan pendapatan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Benih padi hibrida Ningrat NK2133 menjadi terobosan baru Syngenta di pasar padi Indonesia. Varietas ini dikembangkan melalui persilangan dua varietas unggul dan menawarkan tiga keunggulan utama, yaitu lebih bening, lebih berat dan tangguh.
Maksudnya adalah, gabah lebih bening dengan kualitas beras premium. Kemudian memiliki bobot hasil panen lebih berat dengan produktivitas rata-rata 10,8 ton per hektar dan potensi mencapai 13,9 ton per hektar.
Yang terakhir, lebih tangguh karena tahan terhadap serangan hama dan penyakit utama seperti wereng batang coklat, hawar daun bakteri, dan blas daun.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa NK2133 mampu menghasilkan 230 hingga 300 bulir isi per malai dengan kualitas pengolahan yang tinggi. Varietas ini memiliki rendemen pecah kulit mencapai 79,9%, rendemen beras giling 71%, dan rendemen beras kepala 72,34%.
Dengan masa panen sekitar 115 hari setelah semai, NK2133 terbukti mampu memberikan hasil panen hingga 20% lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang saat ini hanya 5,2 ton per hektar.
Seed Marketing Head Syngenta Indonesia Imam Sujono menyebut peluncuran NK2133 sebagai tonggak bersejarah karena menandai masuknya Syngenta ke bisnis padi hibrida. Sebelumnya, Syngenta telah menjadi pemimpin pasar di segmen jagung hibrida dan perlindungan tanaman.
“Syngenta sudah nomor satu di bisnis jagung hibrida dan perlindungan tanaman di Indonesia. Hari ini kami masuk ke bisnis padi hibrida untuk membantu petani memperoleh varietas unggul. NK2133 menghasilkan beras premium, potensi panennya hingga 15 ton per hektar, dan lebih tahan penyakit seperti blas, hawar daun, dan wereng,” ungkapnya.
Imam menambahkan bahwa tingkat adopsi padi hibrida di Indonesia saat ini masih rendah, baru sekitar 2% dari total lahan padi nasional. Hal ini membuka peluang pasar yang sangat besar karena mayoritas petani masih menggunakan varietas non-hibrida.
Peluncuran ini dihadiri oleh sekitar 500 petani dari Pasuruan, Probolinggo, Madura, Banyuwangi, Lumajang, Jember, dan Lamongan.
Digitalisasi Pertanian Lewat peTani Apps
Selain meluncurkan benih NK2133, Syngenta juga memperkenalkan peTani Apps. Aplikasi ini merupakan sebuah platform digital yang dirancang untuk membantu petani memaksimalkan hasil panen melalui panduan budidaya, pengelolaan lahan, dan pemilihan produk yang tepat.
Nguyen Huy Cuong menegaskan bahwa kehadiran teknologi digital ini menjadi langkah penting untuk mendukung transformasi pertanian Indonesia. “Kombinasi benih NK2133 dan teknologi digital melalui peTani Apps mencerminkan komitmen kami untuk mendukung transformasi pertanian Indonesia menuju era yang lebih modern dan produktif,” jelasnya.
Sebelumnya, Syngenta juga telah meluncurkan buku panduan “Raih Hasil Optimal Budidaya Padi” serta meresmikan Drone Learning Center di Cikampek, Jawa Barat, sebagai upaya mempercepat adopsi teknologi pertanian.
(KS-5)