BI Tekankan Perlindungan Lahan dan Akses Pembiayaan sebagai Kunci Ketahanan Pangan Nasional

KANALSATU – Bank Indonesia menegaskan pentingnya perlindungan lahan pertanian dan kemudahan akses pembiayaan sebagai fondasi utama peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Ibrahim menuturkan, pertanian tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga menjadi pilar penting stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, dua hal mendasar perlu diperkuat: perlindungan lahan pertanian dari alih fungsi dan akses pembiayaan yang lebih sederhana bagi petani.
“Produktivitas hanya bisa berkelanjutan jika petani memiliki lahan yang terlindungi. Tanpa itu, swasembada pangan akan sulit tercapai,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Wilayah Jawa, Kamis (11/9/2025).
Ia menambahkan, tantangan global seperti proteksionisme pangan, kenaikan harga pupuk dan bahan baku, serta kebijakan tarif dari sejumlah negara turut menekan ketahanan pangan.
Sementara di dalam negeri, persoalan klasik berupa alih fungsi lahan, rantai pasok yang belum efisien, serta keterbatasan petani mengakses kredit masih menjadi hambatan besar.
Fakta menunjukkan luas lahan sawah di Indonesia terus berkurang, sementara baru sekitar 55% pemerintah daerah yang memiliki Perda Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Di sisi pembiayaan, 9 dari 10 petani masih kesulitan mengakses kredit akibat prosedur rumit, bunga tinggi, dan ketiadaan agunan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BI mendorong lima langkah utama yaitu percepatan penerbitan Perda LP2B, penguatan intensifikasi dan adopsi teknologi, pemanfaatan agroforestry untuk ekstensifikasi, penyederhanaan kredit pertanian, serta menjaga surplus produksi komoditas strategis seperti beras, jagung, dan gula.
“Jika langkah ini dijalankan konsisten, produktivitas pertanian akan meningkat, ketahanan pangan semakin kokoh, dan daya saing daerah ikut terdongkrak,” tegas Ibrahim.
Pada kesempatan yang sama, Sekda Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menekankan bahwa sektor pertanian tetap berperan penting dalam struktur ekonomi Jawa Timur.
Ia menyebut, pada tahun ini pertumbuhan ekonomi Jawa Timur mencapai 5,23%, sedikit di atas rata-rata nasional sebesar 5,2%, dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp849,3 triliun.
Dari angka tersebut, sektor industri pengolahan dan perdagangan masih menjadi penyumbang terbesar. Namun, sektor pertanian yang kontribusinya sekitar 11% terhadap PDRB tetap vital karena menjadi tumpuan bagi 30,9% tenaga kerja.
“Karena itu, sinergi antara pertanian dan sektor industri lainnya harus diperkuat sebagai kunci keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas Adhy.
Ia menambahkan, Jawa Timur juga berperan penting dalam menopang ketahanan pangan nasional. Provinsi ini menyumbang 80% produksi gula, 52% jagung, dan hampir 32% beras Indonesia, serta menjadi lumbung pangan untuk komoditas strategis lain seperti cabai, daging sapi, pisang, telur, dan bawang merah.
(KS-5)