Indonesia Bersiap Jadi Pemimpin Ekonomi Syariah Dunia: Dari Gaya Hidup Halal hingga Strategi Nasional 2045

KANALSATU - Ekonomi syariah kini menunjukkan laju pertumbuhan yang mengesankan di kancah global. Menurut Direktur Eksekutif Departemen Regional Bank Indonesia Muhammad Firdauz Muttaqin, pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya populasi Muslim dunia yang kini mencapai lebih dari 2 miliar jiwa.
Bersamaan dengan itu, tren gaya hidup halal terus menguat, menciptakan peluang besar dalam sektor konsumsi yang kini nilainya menembus USD2,43 triliun.
“Produk-produk halal kini jauh lebih mudah diakses karena adanya sertifikasi global dan inovasi berkelanjutan, berbeda dengan dulu yang penuh keterbatasan,” ujar Firdauz dalam seminar nasional yang digelar dalam rangkaian Festival Ekonomi Syariah 2025 di Masjid Nasional Al-Akbar, Surabaya.
Di sisi keuangan, industri keuangan syariah mencatat pencapaian luar biasa dengan nilai mencapai USD3,88 triliun per tahun 2024. Hal ini diperkuat dengan dukungan lembaga internasional seperti Islamic Development Bank yang turut memperkuat tata kelola dan integrasi sistem pembiayaan syariah lintas negara.
Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia (87% dari total populasi), memiliki peran strategis dalam menggerakkan roda ekonomi syariah global.
Wilayah Jawa, sebagai pusat konsentrasi penduduk, diyakini menjadi poros utama pengembangan ekosistem ekonomi halal nasional. Didukung oleh lembaga seperti Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) serta jaringan Komite Daerah (KDEKS), pembangunan ekonomi syariah mulai bergerak lebih terstruktur.
Direktur Eksekutif KNEKS Sholahudin Al Aiyub, menambahkan bahwa Indonesia saat ini menempati posisi ketiga dunia dalam sektor ekonomi syariah, terutama dalam industri pariwisata halal. Meski posisinya stagnan, pertumbuhan nilainya semakin mendekati Arab Saudi yang berada di posisi kedua.
Pemerintah Indonesia telah menargetkan posisi nomor satu dalam ekonomi syariah global pada tahun 2029, sebagaimana tertuang dalam RPJMN. Sholahudin menekankan bahwa pencapaian ini hanya bisa diraih dengan kolaborasi lintas sektor yang konsisten dan terarah, sebagaimana yang telah dimotori oleh arahan Wakil Presiden melalui pleno KNEKS dalam lima tahun terakhir.
Lebih lanjut, semangat ekonomi syariah disebut sebagai cerminan ajaran Islam yang menyeluruh—bukan hanya aspek ibadah ritual, tetapi juga sistem kehidupan, termasuk ekonomi.
Kini, ekonomi syariah telah terintegrasi dalam dokumen strategis nasional seperti RPJPN 2025–2045 dan SIPD. Hal ini menandai bahwa seluruh pemerintah daerah wajib mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi syariah dalam kebijakan pembangunan wilayah.
Rencana jangka panjang nasional menempatkan ekonomi dan keuangan syariah sebagai pilar penting untuk mendorong pertumbuhan inklusif.
Strategi utamanya meliputi peningkatan posisi keuangan syariah Indonesia di dunia, pemberdayaan ekonomi sosial syariah untuk menurunkan kemiskinan dan ketimpangan, serta penguatan sektor industri halal seperti makanan, fesyen, kosmetik, farmasi, pariwisata, dan UMKM berbasis syariah.
Menurut Sholahudin, ekonomi syariah bukan hanya soal kebijakan, melainkan juga soal sinergi umat. Hanya dengan bergerak bersama—dengan semangat kolaboratif dan saling menopang—ekonomi syariah Indonesia bisa menjadi kekuatan global yang kokoh dan berkelanjutan. (KS-5)