UMKM Syariah Jadi Motor Ekonomi Berkeadilan, Pesantren Tampil sebagai Pusat Wirausaha

KANALSATU – Bank Indonesia (BI) menegaskan pentingnya penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis syariah sebagai fondasi ekonomi daerah yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.
Advisor Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ridzky Pribadi, menuturkan bahwa UMKM telah lama menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Kontribusinya tercatat mencapai 60–61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
“Dalam situasi global penuh ketidakpastian, UMKM terbukti menjadi penyangga ketahanan ekonomi. Bahkan kontribusinya terhadap ekspor sudah mencapai 15,7 persen, dan masih bisa ditingkatkan,” jelas Ridzky dalam talkshow bertema Pemberdayaan UMKM Syariah dan Usaha Pesantren untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi, di sela Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2025.
Ridzky menekankan, UMKM berbasis syariah membawa nilai tambah karena mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan keberkahan. Menurutnya, nilai ini bukan hanya memperkuat daya saing, tetapi juga menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
“Dari desa hingga kota, kreativitas UMKM semakin meningkatkan kepercayaan diri produk lokal. Penguatan kualitas, dari kemasan, branding, hingga digitalisasi menjadi hal mendesak agar akses pasar makin terbuka,” ujarnya.
Ia juga menilai kolaborasi dengan kurator, agregator, hingga sektor hilir seperti hotel, restoran, dan kafe (horeka) sangat penting untuk mendorong produk unggulan daerah agar benar-benar naik kelas.
Selain UMKM, Ridzky menyoroti potensi besar pondok pesantren sebagai pusat wirausaha berbasis komunitas. Data Kementerian Agama 2024 mencatat ada 39.551 pesantren dengan hampir 5 juta santri di seluruh Indonesia.
“Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga bisa menjadi pusat lahirnya wirausaha di sektor agribisnis halal, peternakan, kuliner, hingga fesyen muslim,” ungkapnya.
Tren global turut mendukung. Laporan State of Global Islamic Economy 2025 memperkirakan belanja konsumen muslim di enam sektor halal akan meningkat dari 2,43 triliun dolar AS pada 2023 menjadi 3,36 triliun dolar AS pada 2028.
“Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat mutu, branding, dan penetrasi produk halal Indonesia di pasar global,” tambah Ridzky.
Inspirasi dari Dunia Usaha dan Pesantren
Dalam FESyar 2025, BI menghadirkan pelaku usaha nasional seperti Paragon Technology and Innovation, Kopi Kenangan, serta pesantren Sunan Drajat Lamongan dan Annuqayah Sumenep untuk berbagi praktik terbaik.
Eastern Region Segment Business Lead PT Paragon, Richa Wahyu Arifani, menuturkan bahwa perusahaannya berpegang pada dua pilar utama, yakni hablum minallah dan hablum minannas.
“Semakin besar omzet, semakin besar pula tanggung jawab sosial. Paragon telah menyalurkan beasiswa, mendukung pengembangan guru, hingga meluncurkan program Paragonation,” jelas Richa.
Dari kalangan pesantren, Gus Anas Al-Hifni dari Pesantren Sunan Drajat mengisahkan kiprah ekonominya. Saat ini, pesantrennya mengelola 65 unit usaha strategis dengan aset bernilai triliunan rupiah, membiayai 16.000 santri dengan subsidi Rp16 miliar per tahun.
Produksi garam pesantren yang semula hanya 5 ton per hari kini meningkat menjadi 200 ton per hari dan memasok perusahaan besar seperti Garuda Food dan Pokphand.
Jaringan Toserba Sunan Drajat pun sudah berkembang hingga 70 titik dengan target 200 titik. Pesantren bahkan tengah merencanakan pembangunan pabrik makanan olahan dengan nilai pesanan miliaran rupiah per bulan.
“Dalam pengelolaan usaha, kami berpegang pada tata kelola profesional, pengembangan SDM, dan kekuatan doa. Santri fokus belajar, sementara alumni dan tenaga ahli mengelola operasional,” ujar Gus Anas.
(KS-5)